01 dan 02 Jangan Bikin Keruh

RADARCIANJUR.com – DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cianjur mengapresiasi kinerja penyelenggara pemilu, mulai dari tingkat paling terbawah, sampai dengan nasional. Kendati banyak permasalahan dan kendala, akan tetapi, kinerja mereka tetap patut diapresiasi.

Bahkan, di Cianjur, gelaran pesta demokrasi lima tahunan itu dinilai berjalan cukup sukses, aman dan kondusif.

“Meskipun masih banyak kekurangan dalam hal teknis di lapangan, Pemilu serentak 2019 ini tetap menjadi momentum luar biasa. Karena itu kami sampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada para penyelenggara pemilu,” katanya, kemarin.

Bagaimana tidak. Pesta rakyat itu telah banyak mengeluarkan anggaran yang tak sedikit dan melibatkan selruh rakyat Indonesia. Selain itu, semua pihak juga sudah bekerja semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Pihaknya menilai, pelaksanaan Pemilu Serentak 2019 ini harus menjadi awal untuk menjadikan Indonesia lebih baik ke depannya. Mudah-mudahan pemimpin yang terpilih siapa pun nanti, itu bisa menjalankan amanah dan memperjuangkan hak-hak rakyat telah memilih.

“Siapapun yang keluar sebagai pemenang, itulah yang menjadi pilihan rakyat untuk memimpin Indonesia lima tahun ke depan,” lanjutnya.

Terkait hasil quick count, menurutnya bukan menjadi acuan utama untuk menentukan siapa yang keluar sebagai pemenang untuk menjadi orang nomor satu dan nomor dua di Indonesia.

“Hanya KPU saja yang berhak mengumumkan hasil real count dan menetapkan siapa pememangnya,” tegasnya.

Sementara, terkait aksi saling klaim sebagai pemenang oleh kedua belah kubu, sambungnya, sebaiknya tidak menjadi bahan bagi para pendukung masing-masing sebagai pembenaran dalam bertindak.

“Jangan saling klaim, karena itu hanya akan membuat rakyat bingung. Sekali lagi kami tekankan, hanya KPU yang berhak menentukan, tidak ada lembaga lainnya,” tegasnya.

Ditambahkan Sekretaris DPC GMNI Cianjur, Dody Nugraha, aksi saling klaim kemenangan itu sangat mungkin melahirkan konflik-konflik baru di tengah masyarakat. Jika itu terjadi, maka pemilu damai yang digembor-gemborkan hanya menjadi slogan semata.

“Maka itu, sementara ini kita mesti menunggu hasil real count yang dilakukan oleh KPU. Supaya tidak ada asumsi dan saling klaim kemenangan dari pihak manapun. Dikhawatirkan, masyarakat menjadi resah dan memicu gesekan,” jelas Dody.

Lebih lanjut, Dodi menyatakan, kedua belah kubu juga sebaiknya tak membuat statmen-statmen serta kontroversial terkait capres-cawapres ini.

“Berharap kedua kubu tidak memberikan stament yang membuat emosional pendukungnya. Kita hargai proses demokrasi ini sampai tuntas,” pungkasnya.

(mat)