Anggota KPPS Meninggal di Cianjur Bertambah jadi 5 Orang

KORBAN PEMILU: Warga Kampung Panumbangan Desa Cibulakan Cugenang menggotong keranda mayat almarhum Hadiat (65) ke tempat pemakaman umum (TPU) setempat, kemarin. Foto:Fadilah Munajat/Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Tercatat lima orang anggota KPPS di Cianjur meninggal dunia saat Pemilu 2019. Kelimanya sudah tidak usai muda lagi dan diduga alami kelelahan dengan sistem Pemilu kali ini yang membutuhkan tenaga ekstra.

Kelimanya itu, Somantri (51) Ketua KPPS Desa Kertajadi, Kecamatan Cidaun, meninggal dunia pada, Jumat (18/4), Utar Sutaryat (56) anggota TPS 8, KPPS 5 Desa Margasari, Kecamatan Naringgul, meninggal dunia pada Minggu (21/4) malam sekitar pukul 19.30 Wib, Hadiat (65) anggota KPPS 10, Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang, meninggal dunia pada, Senin (22/4) sekitar pukul 11.00 Wib, Tisna Sasmita (60) petugas TPS 13, Desa Hegarmanah, Kecamatan Karangtengah juga pensiunan PNS meninggal dunia, Senin (22/4), dan Apan Sopandi (52) anggota TPS 23 KPPS Desa Gudang Kecamatan Cikalongkulon meninggal dunia, Senin (22/4) sekitar pukul 19.25 Wib.

Diduga meninggalnya Somantri warga Kampung Cipandak RT 02/04, Desa Kertajadi itu lantaran kelelahan saat melaksanakan tugasnya sebagai Ketua KPPS yang tak henti-henti sejak Rabu (17/4) pagi sampai dengan Kamis (18/4) malam.

Informasi yang didapat Radar Cianjur mengatakan, Somantri sudah memulai aktivitasnya sebagai KPPS sejak Rabu (17/4) pagi seusai shalat Subuh. Sampai usainya pemungutan suara, Somantri sama sekali tak melontarkan adanya keluhan apapun.

Baru pada saat penghitungan suara yang baru rampung sampai dini hari itu, Somantri mengeluhkan merasakan sakit pada dadanya. Namun saat itu, dirinya sama sekali tak menggubris sakit yang ia rasakan itu.

Pada keesokan harinya, Somantri memulai lagi aktivitasnya sebagai Ketua KPPS untuk mengerjakan adiministrasi terkait kepemiluan dilanjutkan dengan mengantarkan kotak suara dan berbagai logistik lainya ke PPS Desa Kertajadi hingga menjelang sore hari.

Setelah menunaikan shalat Maghrib, Somantri masih belum bisa beristirahat lantara laporan yang menjadi salah satu kelengkapan laporan kepemiluan masih harus dituntaskan.

Baru sekitar pukul 19.00 WIB, Somantri kembali mengeluhkan sakit pada bagian dadanya. Saat itu, cukup parah. Ia pun langsung dibawa ke klinik terdekat untuk mendapatkan cek medis.

Namun, usai dirawat di klinik, Somantri kembali lagi ke GOR Kertajadi, yang menjadi pusat pengumpulan kotak suara PPS Kertajadi. Namun, karena sudah tak kuat menahan sakit, Somantri lantas meminta izin pulang lebih awal.

Pada hari Jumat (19/4), sakit dada yang dirasakan Somantri semakin parah. Ia pun lantas dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Sayang, pada pukul 17.00 WIB, Somantri dikabarkan meninggal dunia.

Meninggalnya Utar Sutaryat (56) anggota TPS 8, KPPS 5 Desa Margasari, Kecamatan Naringgul, pada Minggu (21/4) malam sekitar pukul 19.30 Wib, diduga akibat faktor kelelahan bekerja sebagai anggota TPS yang nonstop, Utar sempat dirawat dirumahnya untuk diobati.

“Setelah pulang dari TPS 8 subuh pagi Utar Sutaryat merasakan pusing di kepalanya lalu pihak keluarga merawatnya selama tiga hari, namun pada Minggu pagi tiba-tiba pingsan dari pukul 09.00 dan menghembuskan nafasnya sekitar pukul 19.45 Wib,” kata Ketua KPPS Desa Margasari Cecep Ade Candra (40) saat dikonfirmasi Radar Cianjur, Senin (22/4).

Meninggalnya Hadiat (65) anggota KPPS 10, Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang, Senin (22/4) sekitar pukul 11.00 Wib, diduga akibat kelelahan. Almarhum sebelumnya menjalani perawatan di RSUD Cianjur. Sebelum menjalani perawatan di RSUD, korban sempat pingsan saat melakukan penghitungan surat suara di TPS 10 Kampung Panumbangan RT 02/01, Desa Cibulakan. Korban sempat dibawa ke rumahnya, karena kebetulan rumah korban berdekatan dengan lokasi TPS.

“Korban sempat mengeluh pusing karena dari pagi belum sarapan dan malamnya begadang menunggu logistik pemilu,” kata Ketua PPS Desa Cibulakan Ayi Sudjana kepada Radar Cianjur, kemarin.

Menurutnya karena kondisinya tak kunjung pulih, hingga akhirnya pihak keluarga membawa korban ke RSUD Cianjur untuk mendapatkan penanganan medis, namun takdir berkehendak lain, korban yang menderita struk ringan sebelumnya itu menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 11.00 Wib.

“Padahal malamnya saya sempat jenguk kondisinya sangat ceria, sempat bergurau. Hanya saja sempat minta ingin cepat pulang. Itu mungkin kata terakhir yang saya dengar, almarhum pulang untuk selamanya,” ungkap Ayi.

Ayi menyebutkan selama ini korban baru pertama kali menjadi anggota KPPS, karena sebelum jumlah TPS di Desa Cibulakan ditambah korban tidak pernah dilibatkan sebagai anggota KPPS.

Menurutnya hingga korban dibawa ke tempat pemakaman yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah duka, belum ada satu orang pun anggota KPU yang datang ke rumah duka.

“Kalau dilaporkan sudah, awalnya kami membuat laporan bahwa ada anggota KPPS yang jatuh sakit, sekarang laporanya dirubah karena ia telah meninggal dunia,” ujarnya.

Kakak Kandung Korban Abad (70) mengatakan, sekitar 10 hari sebelum dilaksanakanya pemilihan umum korban sempat jatuh sakit, namun saat ia bertugas sebagai tukang jaga tinta di TPS 10 kondisi korban sudah vit. “Memang kemarin Hadiat sempat sakit, namun saat ia kerja kondisinya sudah sembuh,” ungkapnya.

Menurutnya, selama korban dirawat di RSUD Cianjur, pihak keluarga sempat kebingungan dalam hal administrasi pembayaran karena selama ini korban tidak mempunyai BPJS. “Biaya ke RSUD nya aja habis 5 juta, belum lagi biaya lain-lainya,” terang Abad.

Meninggalnya, Tisna Sasmita (60) petugas TPS 13, Desa Hegarmanah, Kecamatan Karangtengah juga diduga kelelahan, Senin (22/4). Korban juga dibawa ke Rumah Sakit esok paginya, setelah selesai melakukan penghitungan surat suara.

“Jadi istirahat itu hanya sebentar, pulang ke rumah itu subuh dan paginya sebelum pukul 07.00 Wib harus sudah ada di TPS lagi. Memang almarhum sempat mengeluhkan kelelahan, tapi tetap menjalankan tugasnya secara maksimal, hingga terus siaga menjaga di TPS khawatir terjadi sesuatu, karena posisi TPS kan di pinggir jalan,” terang Ketua KPPS 13, Yusuf Ruslan.

Menurutnya, setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Dr Hafidz, korban dikabarkan meninggal dunia lantaran kondisinya yang juga terus memburuk.

Sedangkan meninggalnya, Apan Sopandi (52) anggota TPS 23 KPPS Desa Gudang Kecamatan Cikalongkulon pada, Senin (22/4) sekitar pukul 19.25 Wib juga diduga akibat kelelahan. Meski sebelumnya almarhum sempat mengalami struk.

Kepala Desa Gudang, Kecamatan Cikalongkulon, Endang Suparman membenarkan, sehari setelah Pemilu serentak, Apan Sopandi sempat sakit panas dingin. Setelah itu langsung muntah-muntah, dan terkena struk ringan lalu dilarikan ke Puskesmas terdekat. “Sakit tidak membaik akhirnya dirujuk ke RSUD Cianjur, selama dua hari dirawat, tapi sayang Allah berkehendak lain,” ujar Endang seraya almarhum juga menjabat salah satu RT di Desa Gudang, Kecamatan Cikalongkulon.

Selain meninggal dunia, ada sebagian anggota KPPS dan TPS juga mengeluhkan sakit dan sebagian harus dirawat inap di sejumlah rumah sakit. Seperti dialami Siti Fatimah (35) anggota KPPS 08 Desa Mulyasari Kecamatan Mande dan Suminar (30) juga terbaring sakit anggota KPPS 16 Desa Neglasari Kecamatan Cikalongkulon, hingga Senin (22/4) malam keduanya dirawat inap di RSUD Cianjur.

“Kami sudah membesuk ke rumah sakit secara bergantian, hal yang sama juga ke beberapa anggota KPPS yang kini masih terbaring sakit,” kata M Zenal Ketua PPS Sukamanah Karangtengah Cianjur.

(dil/jay/mat/kim)