ICLaw Peringati Hari Bumi Sedunia

PERLIHATKAN: Tropi dan hadiah bagi para juara tengah diperlihatkan oleh dewan juri serta pemrakarsa acara. FOTO: DADAN SUHERMAN/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com –Beragam cara bisa dilakukan untuk memperingati Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada Senin (22/4) kemarin. Bagi Indonesian Consultan At Law, salah satu caranya yakni dengan menggelar Lomba Cipta Cerita Pendek Genre Sastra Hijau (LCCCP-GSH), yang dilaksanakan sebelumnya mulai 5 Januari 2019 hingga 30 Maret 2019 lalu.

Hal ini dilakukan untuk menggerakkan, menanamkan, meningkatkan dan menyebarkan wacana tentang pentingnya menjaga, merawat, dan memelihara Bumi sebagai tempat tinggal bersama, lebih efektif melalui sastra, khususnya sastra hijau bagi para penulis prosa, dan sejumlah penulis cerita pendek (cerpen).

“Kami umumkan lomba tersebut pada hari ini (kemarin, red) karena bertepatan juga dalam memperingati Hari Bumi Sedunia. Mudah-mudahan dengan lomba seperti ini, kita bisa lebih berfikir untuk menjaga, dan merawat alam ini,” ujar Pemrakarsa Acara, Yenny F Fahmi Idris disela-sela acara, Senin (22/4).

Ia berharap, dengan kegiatan ini, ke depan, masyarakat pada umumnya sudah bisa tergerak untuk mulai menulis, dan menjadi pencerahan bagi pelestarian lingkungan. Karena menurutnya, hal inilah yang menjadi salah satu cara untuk memperingati Hari Bumi, yaitu dengan adanya gerakan menulis.

“Kami berharap, bahwa masyarakat kita ini terutama buat para pelajar sudah mesti mulai menulis. Belajar menulis prosa ataupun cerpen untuk melestarikan alam,” kata Yenny.

Senada, Ketua Pelaksana yang sekaligus salah seorang dewan juri, Naning Pranoto menuturkan, jika dilihat dari jumlah peserta dan jumlah naskah yang diterima panitia hingga 1.012 peserta, capaian (LCCCP-GSH) 2019 ini boleh dikatakan melampaui target dan ekspektasi.

Mencermati latar belakang pendidikan peserta, baik dari institusi sekolah ataupun universitas dan luas penyebaran peserta berdasarkan asal dan tempat tinggalnya, tampak sangat antusias peserta begitu besar dan merata.

“Kita optimis dan meyakini bahwa tujuan lomba ini untuk menanamkan, meningkatkan dan menyebarkan wacana tentang pentingnya menjaga merawat serta memelihara bumi,” jelasnya.

Dengan begitu menurutnya, secara keseluruhan dapat dikatakan hampir semua cerpen yang dikirim para peserta lomba ini sesuai dengan tema yang ditawarkan panitia.

Bahkan tidak sedikit yang mengaitkannya dengan tradisi leluhur, mewarnainya dengan kisah mitos legenda dan cerita rakyat serta mencoba memasukkan nilai-nilai kearifan lokal berikut makna dibalik pepatah peribahasa dan tabu atau larangan yang masih tetap hidup di tengah masyarakat.

“Artinya para peserta sangat memahami bahwa cerpen bukanlah artikel wisata bukan khotbah atau propaganda tentang lingkungan hidup bukan pula petunjuk tentang cara membuang dan memperlakukan sampah sebagaimana mestinya,” tuturnya.

Berangkat dari filosofi itu, dewan juri menetapkan kriteria penilaiannya, yaitu tentang keaslian atau orisinatalitas, kepaduan atau koherensi, kedalaman atau kompleksitas, kemengaliran, serta kesesuaian tematik.

Dengan menetapkan kriteria penilaian seperti itu dewan juri dapat menentukan pilihannya secara objektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis kendati demikian untuk menghindari adanya penilaian subjektif panitia sengaja menghilangkan atau menghapus nama-nama peserta dalam setiap naskah cerpen.

“Kami mengharapkan bagi para peserta lomba dapat memahami dan menerima keputusan dewan juri karena keputusan ini bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat dengan tetap mempunyai landasan academy sebagai bentuk pertanggungjawaban secara moral sosial dan spiritual,” tutupnya.

(dan)