Pemilu 2019 Dinilai Amburadul, Segera Ubah Sistem

RADARCIANJUR.com – Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) 2019 masih terlalu mahal. Tak hanya menghabiskan banyak anggaran dan waktu, pesta demokrasi tahun ini justru memakan korban jiwa. Sedikitnya, sudah ada 144 orang meninggal dunia secara menyeluruh di Indonesia. DI Cianjur sendiri, hingga kemarin sudah ada tujuh petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia.

Dari sekian rentetan kasus, banyak diantaranya dikarenakan kelelahan dan kurangnya istirahat. Tak sedikit para pahlawan demokrasi yang berguguran. Pengamat Politik Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur, Dedi Mulyadi mengatakan, dengan banyaknya petugas KPPS yang berguguran secara otomatis menjadi cerminan dari sistem yang rumit. “Yang perlu diperhatikan yaitu sistem yang rumit, dari sistem tersebut terpolarisasi menjadi konflik yang keras kepada petugas KPPS sehingga membuat mereka terbebani tugas yang berat,” ujarnya.

Tekanan dari ritme kinerja terlalu panjang menjadikan waktu istirahat mereka berkurang dan membuat kondisi fisik melemah. Selain itu, lanjutnya, secara psikologis tugasnya pun menjadi semakin berat di tengah tekanan beberapa pihak yang menuntut mereka untuk membuktikan kinerja yang netral. “Secara faktual, kinerjanya terlalu panjang yang mengakibatkan waktu istirahat berkurang serta dari psikologisnya pun dituntut untuk membuktikan kinerja yang netral,” terangnya.

Wakil Dekan I FH Unsur Cianjur ini pun mengimbau agar sistem pemilu 2019 perlu dirubah dan diselesaikan permasalahannya, agar pada pemilu berikutnya tidak terulang kembali kejadian serupa. Keuntungan dari perubahan tersebut membuat para petugas KPPS tidak terlalu berat dalam menjalankan tugasnya. “Sistemnya harus dirubah dan penyelenggara pemilu harus segera menyelesaikan permasalahan ini,” tegasnya.

Di sisi lain, pemerintah Daerah (Pemda) Cianjur harus mengambil peran dengan menginstruksikan kepada setiap petugas kesehatan untuk memantau dan berjaga di setiap kecamatan maupun desa.

“Saya tadi (kemarin, red) berbincang dengan ibu Kapolres Cianjur dan beliau memberikan masukan agar setiap petugas kesehatan siap siaga di setiap kecamatan dan desa serta pemda harus mengambil peran. Seperti mengecek kesehatan petugas KPPS sebelum bertugas dan memberikan vitamin, jika dirasa kesehatannya kurang baik agar tidak menjalankan tugas terlebih dahulu guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan,” paparnya.

Perlu diketahui, seorang anggota Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS) di TPS 08 di Kampung Cijambe, Desa Kertasari, Kecamatan Sindang Barang, Kabupaten Cianjur, Ismail Mubarok (30) menjadi yang pertama dikabarkan pingsan diduga kelelahan usai mengikuti rapat rekapitulasi ditingkat kecamatan di daerahnya, Rabu (24/04).

“Sebelumnya Mail mengalami mual, pusing dan lemas sebelum dia tak sadarkan diri usai ikut mengawasi pleno di tingkat kecamatan sepertinya dia kelelahan karena beberapa hari ini tidur kurang selama Pemilu,” kata Pengawas tingkat Desa Kertasari, Endang.

Ia menuturkan, setelah tak sadarkan diri, dia dan teman-teman pengawas lainnya membawa Ismail ke Puskesmas Sindang Barang untuk diberikan perawatan intensif. “Tidak pikir panjang, kami bawa ke puskemas untuk mendapat perawatan intensif agar bisa pulih kembali,” ujarnya.

Tak sampai satu hari, kata dia, kawannya itu diperbolehkan pulang oleh pihak Puskesmas Sindang Barang. “Alhamdulillah sekarang Mail bisa diperbolehkan pulang dan dirawat dirumahnya tangannya juga masih di infus karena kondisinya masih lemas,” ungkapnya.

Sementara itu, Dandim 0608/Cianjur, Letnan Kolonel (Letkol) Inf Rendra Dwi Ardhani melayat berkunjung untuk belasungkawa ke rumah duka Ketua KPPS, Hamim Herdiansyah (45) warga Kampung Pasarean RT2/RW11, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur, dua hari lalu.

Ia berharap sekaligus meminta, semoga tidak ada lagi kejadian yang sama terulang kembali. Tim kesehatan harus aktif dan selalu standby di PPS, dan anggota sidang pleno pun harus dilakukan pemeriksaan kesehatan.

“Intinya harus banyak istirahat cukup dan tentunya asupan gizi baik untuk para penyelenggara atau petugas pejuang demokrasi, baik itu Pemilu saat ini dan berikutnya,” katanya.

Selain itu, pandangan Dandim 0608/Cianjur, ruangan untuk penghitungan suara dan pleno harus nyaman, dan bersih juga. Supaya petugas semangat bekerja, jangan sampai ada kejadian lagi serupa terulang kembali kepada para penyelanggara atau petugas Pemilu.

“Baik itu di pesta demokrasi saat ini maupun nanti selanjutnya, jadikan ini suatu pengalaman atau acuan. Harus sedia payung sebelum hujan sejak dini,” ujar Letkol Inf Rendra.

Dandim menambahkan, sehingga jangan sampai ada lagi KPPS terbaring sakit, karena melihat kondisi kerja sampai malam di Pemilu 2019 serentak saat ini. Bila perlu buatkan Standar Operasional Prosedur (SOP), untuk penanganan bila ada anggota yang sakit dan jalur evakuasi cepat. Selain itu RS rujukan yang siaga sehingga cepat penanganannya,” pungkasnya.

(kim/mat)