Gantikan Ayahanda, Petugas KPPS di Cimacan Wafat

TUGAS MULIA: Jenazah Anne Liane terbaring saat warga dan kerabat memanjatkan doa sebelum dikebumikan. FOTO: DADAN SUHERMAN/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Angka tujuh Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Kabupaten Cianjur yang meninggal dunia tiga hari lalu bukan menjadi jumlah yang terakhir. Kemarin, salah satu petugas KPPS di Desa Cimacan, Anne Liane menghembuskan nafas terakhirnya akibat kelelahan dan kurangnya asupan gizi menjalani tugas mulia di gelaran pemilihan umum (pemilu) 2019 saat ini.

Almarhumah bertugas di Tempat Pengumutan Suara (TPS) 28 Kampung Rarahan RT06/RW07 Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas wafat sekitar pukul 18.00 WIB, Kamis (25/4) sore.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Cianjur, Anne Liane, perempuan muda ini wafat di rumah ibunya yang berada di Kampung Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet. Hanya saja, setelah itu, almarhumah dibawa ke rumah duka ayahnya yang berada di Desa Cimacan.

“Menurut informasi, Anne ini asalnya sedang ada di rumah ibunya di Sarongge. Jadi sebelum wafat, ia (almarhumah, red) sempat dibawa dulu ke salah satu klinik karena mimisan. Dan dugaan sementara juga karena memiliki riwayat penyakit liver,” papar Ketua RT06, Muhammad Kusnadi, saat dimintai keterangan, Kamis (25/4) malam.

Lebih lanjut ia mengatakan, dugaan sementara almarhumah tersebut karena kecapean dan kurang asupan makanan yang seimbang di saat bertugas di TPS 28 pada pemungutan suara, Rabu 17 April lalu. Menurutnya, almarhumah merupakan sosok perempuan baik, yang jarang berinteraksi serius dengan warga, apalagi pengalaman bekerja hingga larut malam.

“Jadi sebetulnya, almarhumah ini tadinya gak akan jadi anggota KPPS. Tapi, karena ayahnya yang diminta itu sedang kerja di luar kota, jadi Anne-lah yang akhirnya jadi anggota KPPS di TPS 28 itu,” ungkap Kusnadi yang juga salah seorang petugas pengamanan di TPS tersebut.

Ia berharap, atas kejadian yang menimpa salah satu anggota KPPS ini, bisa menjadi pelajaran yang berharga. Dimana pesta demokrasi lima tahunan ini, seharusnya bisa lebih dievaluasi bersama. Artinya jangan sampai karena kelelahan dalam tugas yang mulia ini, nyawa manusia bisa gampang menghilang.

“Walaupun yang namanya takdir kan sudah diatur Allah SWT. Tetapi bagi orang-orang yang tidak kuat mah, bisa saja syari’atnya dari kelelahan hingga meninggal dunia. Dan mudah-mudahan Almarhumah ini, kita doakan bersama, wafatnya Khusnul khatimah, diterima amal ibadahnya di sisi Allah SWT,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua PPK Kecamatan Cipanas, Dodi Rahmat mengatakan, atas kejadian yang menimpa salah satu anggota KPPS di Desa Cimacan ini, atas nama institusi KPU dan PPK Kecamatan Cipanas, berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum.

“Sebagaimana yang telah dituangkan oleh KPU RI, bagi salah satu anggota KPPS yang gugur, akan mendapatkan santunan berupa uang kepada keluarga almarhum, sesuai yang telah ditentukan dari gubernur,” kata Dodi.

Banyaknya anggota KPPS Kabupaten Cianjur yang meninggal dunia tentunya menjadi duka mendalam bagi keluarga dan juga masyarakat. Para pahlawan demokrasi ini berjuang siang dan malam melaksanakan tugas demi terciptanya pemilu yang sukses. Tentunya semua masyarakat memberikan doa kepada seluruh anggota KPPS yang gugur dalam bertugas, khususnya di Kabupaten Cianjur.

Meskipun ini bukan kejadian yang luar biasa, akan tetapi sebagai umat manusia sudah sepatutnya untuk saling mendoakan. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cianjur, Ahmad Yani menuturkan, sebagai umat manusia tentunya harus saling mendoakan dengan meninggalnya para anggota KPPS di Kabupaten Cianjur. “Yang pasti dengan kejadian tersebut kita sangat prihatin dan semua amal baik selama hidup diterima Allah SWT,” ujarnya.

MUI Kabupaten Cianjur sendiri belum ada arahan untuk melaksanakan solat ghaib bersama dengan memberikan imbauan kepada setiap masjid, hanya saja untuk sementara waktu cukup dengan memberikan doa terbaik bagi almarhum dan almarhumah.

Lanjutnya, bagi masyarakat Kabupaten Cianjur yang ingin melaksanakan solat ghaib pun dipersilahkan tanpa ada paksaan. “Kalau untuk solat ghaib kita belum ada arahan kesana, yang pertama kita berikan doa agar amal ibadah diterima Allah SWT tentunya dan jika masyarakat ingin melaksanakan solat ghaib dipersilahkan,” terangnya.

(dan/kim)