Duka Pasca Pemilu 2019, Linmas Wafat, Dua Petugas PPS Dirawat

KERJA EKSTRA: Petugas PPS Desa Kebonpeuteuy mendapat perawatan medis setelah mengalami kelelahan melakukan penghitungan suara di tingkat kecamatan. FOTO: Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Duka kembali menyelimuti nuansa penghitungan suara pemilihan umum (pemilu) 2019 di Kabupaten Cianjur. Satu demi satu pejuang demokrasi berjatuhan meninggal dunia, bukan hanya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) saja. Namun, yang terbaru, salah satu anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas), Mahpud Effendi(60) warga Kampung Rancagoong RT4/RW6, Desa Rancagoong, Kecamatan Cilaku meninggal dunia akibat kelelahan pada Jumat (26/4).

Bhabinsa Desa Rancagoong, Sertu Bambang Eko Iriawan mengatakan, pada pelaksanaan Pileg dan Pilpres 2019, almarhum Mahpud bertugas sebagai satgas PAM TPS 18 sejak H-1. Ia bertugas sebagai salah satu anggota Linmas di Desa Rancagong, dirinya bertugas sudah hampir sekitar 22 tahun mengabdi.

“Ya, kata keluarga dan rekannya pernah mempunyai riwayat sakit asma dan sesak, maklum sudah lanjut usia. Saya secara pribadi ikut belasungkawa dan beliau adalah pahlawan demokrasi,” katanya, kemarin.

Selain itu, dua orang petugas PPS, Desa Kebonpeuteuy Kecamatan Gekbrong, Yayah (44) dan Asep (26) harus menjalani perawatan di balai pengobatan karena kelelahan saat rapat pleno rekapitulasi penghitungan surat suara hasil pemilu serentak tingkat Kecamatan Gekbrong.

Ketua PPK Gekbrong, Eka Pratama Putra mengatakan, secara total berdasarkan laporan dari perangkat PPK, sejak dilaksaksanakannya tahapan pencoblosan sudah ada lima orang petugas KPPS yang jatuh sakit akibat dari kelelahan. “Kalau yang tiga orang sudah sembuh. Sedangkan Yayah (44) dan Asep (26) masih menjalani perawatan di PMI Gekbrong,” kata Eka usai rapat pleno rekapitulasi penghitungan surat suara hasil pemilihan umum serentak.

Menurut Eka, Kepala Sekretariat PPS Kebonpeutey, Asep dan anggota PPS Kebonpeuteuy, Yayah jatuh sakit saat sedang melaksanakan rekapitulasi penghitungan surat suara tingkat kecamatan. “Tadi (kemarin, red) Asep dan Yayah sekitar pukul 16.00 WIB mengeluh sakit, hingga diizinkan untuk pulang. Namun rupanya sakit yang diderita petugas PPS itu tambah parah hingga harus menjalani perawatan medis,” ungkapnya.

Eka mengatakan, para petugas PPS yang jatuh sakit itu akibat kelehanan, karena mereka dituntut bekerja secara ekstra siang malam. “Sejak dari tanggal 13 April, sejak pengesehan surat suara di KPU hingga dilaksanakanya rekap tingkat kecamatan belum ada jeda waktu untuk istirahat, dan ini yang membuat kami sangat kelelahan,” tuturnya.

Menurutnya, petugas penyelenggara pemilu di tingkat desa maupun kecamatan tidak hanya dibebani dengan persoalan administrasi, namun mereka juga harus dibebani dengan persoalan logistik. “Persoalan logistik ini yang dirasa sangat menjadi beban kami, karena pemilu ini tidak seperti Pemilu sebelumnya dimana logistik dikirim oleh KPU tanpa kami harus mengeset dari awal,” bebernya.

(dil/mat)