Banyak yang Meninggal, Seperti Ini Kisah Para Pejuang Demokrasi di Cianjur

MELAYAT: Plt Bupati Cianjur H Herman Suherman dan Dandim 0608/Cianjur Letkol Inf Rendra Dwi Ardhani melayat ke rumah Hamim Hardiansyah (alm) di Kampung Pasarean, Selasa (23/4).

PEMILU 2019 yang digelar pada hari Rabu (17/4) lalu antara pilpres dan pileg merupakan proses pesta demokrasi terburuk yang pernah digelar dari sejak awal adanya pemilu pada Tahun 1955. Buruknya penyelenggaraan Pemilu 2019 dapat dilihat dalam beberapa indikator. Seperti buruknya persiapan dan pelaksanaan, karena banyak ditemukan permasalahan di lapangan, bahkan hingga menelan ratusan nyawa melayang. Sedikitnya, sudah ada 231 orang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia dan 1.671 orang yang sakit secara menyeluruh di Indonesia pada info terupdate hari Minggu (28/4) kemarin. Khusus di Cianjur hingga tanggal 28 April 2019 pasca digelarnya Pemilu, sebanyak 11 orang wafat usai bertugas menjadi anggota KPPS. Kenapa semua bisa terjadi? Berikut Radar Cianjur menelusurinya.

LAPORAN: Nandang Kurnaedi, Cianjur

SEPERTI penelusuran Radar Cianjur pada salah seorang petugas KPPS bernama Asep Mulyono (42) yang bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 42 di Perumahan Pesona Desa Nagrak Kecamatan Cianjur, yang kini harus terbaring sakit seusai bertugas menjadi anggota KPPS.

Asep menceritakan, sebelum tibanya hari H dimulainya pesta para kontestan perebutan jabatan, mulai dari perebutan jabatan Pilpres, anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPD RI serta perebutan anggota DPRD Kabupaten. Pihaknya mengaku sudah mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari fisik dan pikiran, karena sudah mengemban tugas terpilih sebagai anggota KPPS.

Perasaan semangat dan pilu bercampur aduk menjadi satu. Pasalnya, dirinya harus melaksanakan tugas dengan baik dan benar, serta poin yang terpenting tersemat dibenaknya harus menjadi petugas yang adil dan profesional dan mengayomi masyarakat. Hal itu dilakukannya agar masyarakat bisa nyaman dan terlayani dengan baik saat mengikuti pesta demokrasi Tahun 2019.

Tiga hari sebelum pencoblosan para kontestan penguasa jabatan di Negeri ini, Asep bersama keenam rekannya sudah mempersiapkan beragam kesiapan, seperti mencari lahan yang pas untuk dijadikan TPS dan logistik TPS, seperti mempersiapkan auning (tenda,red), meja, kursi serta aksesoris lainnya.

Hal itu dilakukannya tiada lain agar pesta demokrasi berjalan sukses dan lancar, mengingat jika tidak dipersiapkan dengan matang, dikhawatirkan terjadinya hal yang tak diinginkan, seperti rusaknya surat suara, mengingat surat suara berbahan kertas, dan di tahun ini kotak suara pun berbahan kardus, sehingga sangat rawan kerusakannya maupun hal lainnya. Terlebih kondisi cuaca di Cianjur yang tidak menentu, terkadang hujan terkadang panas.

Tak hanya itu, jauh hari sebelum hari H pencoblosan, Asep dan rekannya harus membagikan surat undangan pencoblosan kepada masyarakat serta kesiapan lainnya yang dilakukannya.

“Setelah mempersiapkan semuanya, baik tempat dan logistik TPS, malam hari sebelum hari H, kami pun harus berjaga menjaga surat suara, agar surat suara tetap utuh, karena pada sore hari surat serta logistik lainnya sudah tiba di TPS 42 Desa Nagrak,” ujar Asep saat ditemui di RSUD Cianjur, dengan nada yang lemah keluar dari mulutnya.

Dengan begitu, secara otomatis Asep bersama rekannya harus begadang menjaga surat suara tersebut. Berjalannya waktu yang hanya menghitung jam pada saatnya pencoblosan, dikarenakan dirinya beragama muslim, tepatnya pukul 04.30 WIB dirinya bersiap untuk melaksanakan ibadah shalat subuh di masjid yang terletak di Perumahan Pesona yang tak jauh dari TPS. Usai shalat sekitar pukul 05.00 WIB dirinya bergegas pulang ke rumah, dan bersiap kembali untuk bertugas di TPS sebagai anggota KPPS. “Saat itu jam 05.00 WIB saya memaksakan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum melaksanakan tugas,” katanya.

Tepatnya pukul 06.00 WIB dirinya bersama keenam rekannya sudah berkumpul kembali di TPS dan mempersiapkan beragam kesiapan, kembali mengecek dan menata surat suara dan logistik lainnya sebelum dibukanya pencoblosan.

Khusus di tempat dirinya bertugas, ada sebanyak 275 Daftar Pemilih Tetap (DPT) di TPS 42 Desa Nagrak. Tepatnya pukul 07.00 WIB hari H pesta demokrasi yang ditunggu-tunggu ratusan juta penduduk Indonesia kurang lebih sekitar 266,91 juta jiwa pun tiba, saat itupun dirinya serta rekannya membuka dan dimulainya pesta demokrasi tersebut. Dimana satu hari sebelum hari H pencoblosan dirinya bersama rekannya sudah berbagi tugas, sesuai dengan pembagian tugas KPPS yang ditentukan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) RI Nomor 08 Tahun 2018 tentang Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, Wali Kota dan Wakil Walikota.

Akan hal tersebut Ketua KPPS yang diketuai oleh Ketua RT 01 Perumahan Pesona Desa Nagrak, bernama Iyuy (46) sebagai anggota KPPS Pertama, mempunyai tugas memimpin rapat Pemungutan dan Penghitungan Suara, dan memberikan penjelasan mengenai tata cara pemberian suara.

Sedangkan anggota KPPS kedua yang diemban tugasnya oleh Asep dan KPPS ketiga oleh rekannya mempunyai tugas membantu ketua KPPS di meja ketua, yaitu menyiapkan berita acara beserta sertifikat dan memisahkan surat pemberitahuan berdasarkan jenis kelamin dan atau tugas lain yang diberikan oleh ketua KPPS.

Untuk anggota KPPS Keempat dan KPPS Kelima, bertempat di dekat pintu masuk TPS, mempunyai tugas menerima Pemilih yang akan masuk ke dalam TPS. Sedangkan anggota KPPS keenam, bertempat di dekat kotak suara bertugas mengatur Pemilih yang akan memasukkan Surat Suara ke dalam kotak suara, serta anggota KPPS Ketujuh, bertempat di dekat pintu keluar TPS, mempunyai tugas mengatur Pemilih yang akan keluar TPS dan memberikan tanda khusus berupa tinta di salah satu jari Pemilih sebagai bukti bahwa Pemilih yang bersangkutan telah memberikan hak pilihnya.

“Sebenarnya tidak sulit dalam pengurusan administrasi. Namun dikarenakan pemilu kali ini serentak, antara pilpres dan legislatif, sehingga pengerjaannyapun semakin rumit. Terlebih mengerjakan administrasi DPR RI dan DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten, mengingat ketiga legislatif tersebut banyak calon kontestannya,” imbuhnya.

Kerumitan yang dikeluhkan Asep pun sama halnya berita dibeberapa media yang menilai pesta demokrasi kali ini merupakan demokrasi terburuk sepanjang sejarah. Diantaranya kutipan judul dari media Jawapos yang merupakan grup Radar Cianjur memberi judul berita ‘Pemilu Paling Rumit, Tak Banyak Kenal Caleg’, begitupun media online Detik News yang memberi judul berita ‘Pemilu Paling Rumit di Dunia’. Begitupun media CNN Indonesia yang memberikan judul ‘Pemilu 2019 Lebih Rumit dan Kompleks’ serta kutipan media lainnya.

Berjalannya waktu saat pencoblosan yang sudah dimulai dari pukul 07.00 WIB, sesuai aturan ditetapkan KPU. Asep dan rekannya menutup acara pencoblosan pada pukul 13.00 WIB, baik itu untuk pemilih yang membawa C6 atau surat undangan, maupun pemilih dengan menggunakan KTP el.

Saat itu waktu digelarnya pencoblosan berjalan dengan lancar. Kendati ditutupnya waktu pencoblosan, bukan berarti beresnya tugas Asep dan rekannya sebagai petugas KPPS. Tepatnya pukul 13.30 WIB seusai memanfaatkan waktu sebelumnya, Asep dan rekannya mengisi waktu untuk melaksanakan shalat dzuhur dan memaksakan untuk makan siang, meskipun saat itu diakuinya makan tidak terasa nikmat seperti biasanya, karena masih numpuknya tugas yang harus diselesaikannya, dan mungkin juga kondisi tubub sudah mulai melemah.

Namun lelah yang dirasakan Asep bersama rekannya tidak mematahkan semangat untuk kembali melaksanakan tugasnya. Saat itupun usai shalat dan makan Asep dan rekannya kembali melanjutkan tugasnya untuk melanjutkan perhitungan suara hasil pencoblosan.

Pertama perhitungan dimulai dari perhitungan surat suara Pilpres, sebelum perhitungan Asep dan rekannya mempersiapkan kertas C1 yang ditempelkan dipapan perhitungan yang sudah dipersiapkan sebelum hari H pencoblosan. Perhitungan suara Presiden dan Wakil Presiden pun dimulai. Tak heran saat dimulainya perhitungan banyaknya masyarakat yang menyaksikan, begitupun saksi dari masing-masing Partai Politik (Parpol).

Akan hal itu menjadi tantangan bagi Asep dan rekannya saat bekerja dengan baik dan benar. Karena jika adanya kesalahan di momen politik yang sangat memanas di tahun ini takut adanya kesalahpahaman baik antara masyarakat maupun petugas dan saksi, karena semua yang menyaksikan sangat menunggu hasil perolehan para jagoannya masing-masing. Ketegangan dengan tuntutan bekerja konsentrasi tinggipun kembali dimulai oleh Asep bersama rekannya.

Tepatnya pukul 15.00 WIB perhitungan suara Pilpres pun telah usai. Asep dan rekannya pun kembali melanjutkan tugasnya untuk melakukan perhitungan pada kertas surat suara DPR RI, saat itupun perhitungan dimulai dan perhitungan kali ini memakan waktu yang cukup lama tidak seperti halnya perhitungan pilpres yang hanya memakan waktu sekitar dua jam, dikarenakan kertas suara DPR RI cukup rumit, mengingat calon legislatif setiap parpol cukup banyak.

Ada yang lima Caleg, bahkan hingga sembilan Caleg perwakilan di masing-masing parpol. Adapun Parpol yang lolos di ajang pesta demokrasi tahun ini, seperti Partai PDI Perjuangan, Golkar, Nasdem, PPP, PKB, PBB, Hanura, PSI, PKPI, Perindo, Gerindra, Demokrat, Partai Amanat Nasionaal (PAN), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Berkarya, Partai Gerakan Perubahan Indonesia.

Saat itu perhitungan pun dilaksanakan hingga sekitar pukul 20.00 WIB, satu kertas surat suara legislatif pun selesai. Namun juga bukan berarti selesainya tugas Asep dan rekannya. Dimana Asep dan rekannya harus kembali melaksanakan tugasnya untuk melakukan perhitungan surat suara DPRD Provinsi, yang memakan waktu sekitar tiga jam lamanya, dimana perhitungan surat suara DPRD Provinsi selesai pada pukul 23.00 WIB, disela-sela kesibukannya Asep dan rekannya menyempatkan makan bersama nasi liwet, meskipun kembali yang dirasakan Asep saat itu makan tidak terlalu nikmat seperti biasanya.

Usai makan, saat itupun Asep dan rekannya kembali melaksanakan tugasnya untuk melakukan perhitungan suara untuk surat suara DPD serta DPRD Kabupaten hingga berjam-jam lamanya, dimana saat itu Asep dan rekannya beres perhitungan serta administrasi semuanya, baik itu salinan C1 maupun data administrasi lainnya beres pada pukul 03.30 WIB dini hari, dimana waktu tersebut biasanya Asep gunakan untuk tidur lelap.

“Kalau tidak serentak seperti pemilu tahun ini, biasanya paling beres perhitungan suara dan administrasi semuanya sekitar pukul 17.00 WIB jika dimulai pencoblosan pada pukul 07.00 WIB. Namun dikarenakan tahun ini pemilu serentak, sehingga memakan waktu cukup lama, hingga dini hari baru selesai,” kata Asep yang sebelumnya pun pernah berpengalaman menjadi anggota KPPS saat Pilgub Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Sekira pukul 04.30 Adzan subuh pun berkumandang, Asep dan rekannya pun bergiliran untuk shalat subuh, sebelum mengantarkan surat suara ke Desa Nagrak. Usai shalat Asep merasa badannya mulai ngedrop, sehingga tidak bisa ikut mengantarkan surat suara ke desa bersama rekannya. Asep pun langsung pulang ke rumah. Setibanya di rumah tepatnya di Perumahan Pesona Blok A6 Nomor 5, Asep pun beristirahat dengan kondisi tubuh sudah mulai lemah.

“Usai tugas menjadi anggota KPPS selesai, saya langsung istirahat, saat itu saya merasakan kondisi badan yang sudah mulai lemah, kepala terasa pusing dan menggigil, dimungkinkan karena kelelahan. Pasalnya, pemilu serentak kali ini sangat memakan ekstra tenaga bagi kita anggota KPPS,” keluhnya.

Selang keesokan harinya kondisi tubuh Asep pun semakin melemah yang akhirnya Asep pun melakukan pengobatan di klinik terdekat di dekat rumahnya. Namun esok harinya kondisi Asep makin ngedrop, sehingga akhirnya Asep pun dibawa berobat oleh keluarganya ke Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Cianjur. Tibanya di RSUD Asep pun divonis oleh dokter terserang tipus dan akhirnya merambah ke DBD. Dimana penyakit tipus gejala awal selain adanya bakteri yang menyerang, karena kondisi tubuh yang lemah.

“Prinsip yang benar adalah saat daya tahan tubuh kita lemah akibat terlalu capai, tubuh bisa terkena infeksi. Namun, infeksi terjadi bukan hanya karena capai, melainkan juga karena ada kuman yang masuk, itu pun masih tergantung jumlah dan keganasan kuman itu sendiri,” ujar salah satu dokter saat memeriksa Asep di Kamar Plamboyan lantai dua, nomor tiga RSUD Cianjur. Hingga hari ini Jumat, tanggal 26 April (kemarin red) Asep masih berada di RSUD Cianjur untuk mendapatkan perawatan.

Selain Asep, anggota yang sakit pun ada di TPS Desa Nagrak, namun tidak separah Asep. Begitupun anggota KPPS di Desa lainnya di Kabupaten Cianjur. Sedangkan data yang meninggal usai melaksanakan tugas menjadi anggota KPPS di Cianjur pada pesta demokrasi tahun ini, hingga hari Jumat tanggal 26 April, mencapai sebelas orang dengan rentetan nama petugas KPPS yang wafat diantaranya pertama Somantri (51) Ketua KPPS Desa Kertajadi, Kecamatan Cidaun, meninggal dunia pada, Jumat (18/4).

Kedua Utar Sutaryat (56) anggota TPS 8, KPPS 5 Desa Margasari, Kecamatan Naringgul, meninggal dunia, Minggu (21/4). Ketiga Hadiat (65) anggota KPPS 10, Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang, meninggal dunia, Senin (22/4). Keempat Tisna Sasmita (60) petugas TPS 13, Desa Hegarmanah, Kecamatan Karangtengah, meninggal dunia, Senin (22/4). Kelima Apan Sopandi (52) anggota TPS 23 KPPS Desa Gudang Kecamatan Cikalongkulon meninggal dunia, Senin (22/4).

Keenam Enjang (48) Ketua KPPS 15 Kampung Benteng, Desa Sukamulya, Kecamatan Warungkondang. Ketujuh Hamim Hardiansyah (47) Ketua KPPS 31 Kampung Pasarean, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur Kota. Kedelapan Anne Liane petugas KPPS di TPS 28 Desa Cimacan, wafat sekitar pukul 18.00 WIB, Kamis (25/4) sore. Kesembilan yaitu Cepy Cahyadi anggota TPS 01 Desa Pagermaneuh, Kecamatan Tanggeung meninggal dunia pada hari Jumat (26/4).

Kesepuluh yaitu Mahfud Effendi (73) petugas sebagai stgas PAM TPS 18 Desa Rancagoong mrninggal dunia pada hari Jumat (26/4). Serta kesebelas Dina Wahdina Anwar (48) ketua KPPS 01, Desa Bunijaya, Kecamatan Pagelaran, meninggal dunia pada hari Minggu 27 April (Kemarin, red) siang hari. Semua pejuang demokrasi yang gugur tersebut diduga akibat kelelahan usai melaksanakan tugas digelarnya pemilu serentak Tahun 2019. Dimana anggota KPPS tahun ini, setelah kesepakatan KPU diberikan honor sekitar Rp450 ribu perorangnya, nominal yang tidak sesuai dengan tugas yang diemban para pejuang demokrasi tersebut.(**)