Jembatan Putus, Tiga Desa di Cidaun Terisolir

PUTUS: Tiga desa di Kecamatan Cidaun terisolir setelah jembatan di Kali Cimaragang putus usai diterjang banjir pada 13 April lalu.

RADARCIANJUR.com– Tiga desa di Kecamatan Cidaun, yakni Desa Gelar Pawitan, Neglasari dan Cibuluh lumpuh total setelah jembatan di Kali Cimaragang, putus usai diterjang banjir pada 13 April lalu. Akibatnya, aktivitas sekitar 15 ribu jiwa penduduk di tiga desa tersebut lumpuh total.

Jembatan Cimaragang sendiri selama ini menjadi satu-satunya akses dan urat nadi bagi belasan ribu warga di tiga desa tersebut untuk menjalankan aktivitas kesehariannya. Untuk mengatasinya, warga secara swadaya membangun jembatan kayu ala kadarnya agar bisa dilewati kendaraan roda empat.

Kondisi tersebut dibenarkan Kepala Desa Gelar Pawitan, Alih Sutisna dikonfirmasi via telpon seluler. Ia menyatakan, semenjak jembatan tersebut putus akibat terbawa arus air Kali Cimaragang, ribuan warga desa pun terisolir lantaran tak bisa beraktivitas.

“Ada kurang lebih sekitar 5.000 jiwa warga penduduk di desa kami. Sejak jembatan putus, segala aktivitas lumpuh total. Jangankan kendaraan roda empat atau roda dua, pejalan kaki saja sulit sulit melintas,” bebernya, kemarin.

Alih Sutisna berharap, ada bantuan dan kepedulian dari pemerintah Kabupaten Cianjur atau provinsi terkait kondisi yang dialami warganya akibat putusnya jembatan yang menjadi andalan warga selama ini.

“Kemarin kita sudah bikin proposal pengajuan bantuan ke Pemprov Jawa Barat, ke Pak Bubernur. Sebab kalau mengandalkan anggaran dana desa sangat tidak mungkin. Aplagi dari hasil rapat muserbangdes, ADD tahun ini dialokasikan buat infrastruktur lokasi yang lain,” ungkapnya.

Hal yang sama dikatakan Ojang (50) salah satu warga Desa Neglasari. Akibat jembatan kali Cimaragang yang menghubungkan ke Desa Neglasari putus, seluruh aktivitas warga pun terhambat. Semisal membawa hasil bumi untuk dijual ke Kabupaten Bandung dengan mengunakan kendaran roda empat.

“Tidak ada akses jalan lain, terpaksa kami mengunakan papan penyangga supaya kendaraan bisa lewat,” tuturnya.

Ojang mengakui, jembatan kayu ala kadarnya untuk menggantikan jembatan yang putus itu memang cukup membahayakan dan bisa saja ambruk saat dilintasi. Akan tetapi, warga tak memiliki pilihan lain.

“Memang sangat membahayakan nyawa, tapi harus gimana lagi. Terpaksa kami dan warga lain ya pakai jembatan apa adanya ini. Kalau kami tidak bekerja, mau makan apa,” ucapnya.

Ojang menyambungkan, kondisi akan semakin berbahaya manakala hujan turun dan air Kali Cimaragang meluap. Otomatis, akses jalan pun total tidak bisa dilewati sama sekali.

“Kalau dipaksakan lewat saat hujan turun engak bisa. Enggak ada cara lain. Apalagi kami harus turun menyeberangi sungai yang airnya deras. Bisa hanyut,” ungkapnya.
Karena itu, warga pun berharap kepada pemerintah agar secepat mungkin membangun jembatan Kali Cimaragang agar aktivitas warga bisa kembali normal seperti sedia kala.

“Harapan kami semoga pemerintah, baik daerah dan pusat segera membangunkan kembali jembatan Kali Cimaragang. Supaya kami dengan warga lainya tidak terisolir seperti sekarang,” harapnya.

(Jay)