Pasar Induk Cianjur Sengaja Gak Diurus?

SENYAP: Kondisi Pasar Induk Cianjur (PIC) yang makin hari makin sepi ditinggalkan pembeli. Sementara para pedagang, satu per satu gulung tikar lantaran omsetnya terus menurun sampai dengan 90 persen.

RADARCIANJUR.com-Pedagang Pasar Induk Cianjur (PIC) akan mengadu ke Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan Presiden RI, Joko Widodo bila tuntutan yang disampaikan tidak diindahkan. Karena, permasalah pasar bayangan di Cianjur sejak awal hingga kini belum tuntas.

Ketua DPP PIC, Habib Hud Al-Idrus mengatakan, hasil unras kemarin sudah sepakat para pedagang tetap tidak akan membayar retribusi sebelum Kabupaten Cianjur memenuhi tuntutan.

“Karena sebelumnya sudah janji akan menyelesaikan semua keinginan dan permasalahan kami ini. Tapi mana buktinya?” katanya.

Pihaknya menginformasikan, sebelum aksi unras itu sudah beberapa kali ada pertemuan dengan dengan sejumlah pihak terkait. Bahkan para pedagang merasa kecewa, lantaran Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman tidak hahir di tengah-tengah saat menyampaikan tuntutan di Pendopo Pemkab Cianjur.

“Bila tidak dindahkan, kami akan mengadu ke Gubernur bahkan ke Presiden. Karena kucuran anggaran PIC bukan dari anggaran APBD saja, tapi sda juga dari provinsi. Nilainya tidak sedikit, sekitar tujuh miliar,” bebernya.

Hal lain yang menurutnya janggal adalah ‘lenyapnya’ tim relokasi pasar induk Cianjur yang seharusnya ikut bertanggungjawab dengan kondisi sepinya PIC seperti saat ini.

“Permasalahan ini tidak diintruksikan, namun emang kesepakatan para pedagang semua,” lanjutnya.

Nia (55), salah seorang pedagang makanan keringan di PIC mengaku, pendapatannya menurun drastis sejak dirinya pindah berjualan dari pasar induk lama ke PIC. Penurunan pendapat pun tak tanggung-tanggung, sampai dengan 80 persen.

“Sepi banget disini. Jauh lebih ramai di pasar induk lama biarpun di jongko (toko) darurat. Bedanya jauh,” ungkapnya.

Penjual grosir ini mengaku, omset saat di pasar induk lama, dirinya tak kurang mendapat antara Rp5 juta sampai Rp10 juta per harinya. Di PIC, omset per hari mencapai Rp2 juta itupun sudah terbilang banyak.

“Sejak pertama pindah (ke PIC) yang segitu dapatnya. Dapat lebih juga jarang sekali,” tuturnya.

Kondisi tersebut masih ditambah dengan hilangnya ratusan pelanggan setianya. Jika di pasar induk lama, saat masih di toko darurat, pelanggan setianya tercatat tak kurang dari 250 pelanggan. Di PIC, pelanggan setianya banyak yang hilang dan kini tak lebih dari 50 pelanggan setia saja.

“Sudah enggak mau lagi ke PIC karena kejauhan, transport katanya sulit,” lanjutnya.

Warga Bojongherang itu menambahkan, sepinya PIC itu sudah berulang kali disampaikan ke pihak terkait. Mulai dari pengurus pasar, sampai dinas-dinas terkait Pemkab Cianjur. Namun nyatanya, jumlah kunjungan warga ke PIC tak juga seperti yang diharapkan pedagang.

“Minimal ramainya seperti di pasar induk lama. Jadi pedagang enggak rugi terus-terusan gini,” ucapnya.

Sampai sejauh ini, setiap keluhan yang disampaikan pedagang terkait kondisi PIC itu masih juga tak dirasakan para pedagang. Tidak ada aksi nyata dari Pemkab Cianjur untuk memajukan dan meramaikan PIC.

“Sudah bosen menyampaikan keluhan. Enggak kurang-kurang sudah berapa kali. Pokoknya sudah bosen aja menyampaikan. Pedagang seperti enggak diurus lagi aja setelah dipindah kesini,” kesalnya.

Nia mengungkap, akibat sepinya PIC itu, tak sedikit pedagang yang lantas gulung tikar. Penyebabnya, tidak lain lantaran turunnya omset penjualan per harinya. Selain itu, hasil berjualan yang didapat tak sebanding dengan pengeluaran tiap harinya.

“Enggak terhitung sudah berapa pedagang yang bangkrut. Yang bertahan ini ya yang masih punya simpanan modal saja. Yang gak punya sudah lebih dulu enggak jualan lagi,” bebernya.

Sementara, Kadisperindag Kabupaten Cianjur, Himam Haris melalui Kabid Perdagangan, Yana Kamaludin menjelaskan, pihaknya sampai sejauh ini baru melakukan pendataan da pengecekan ke lokasi terhadap pasar-pasar bayangan yang ada.

“Dari hasil pendataan, ada sekitar 30 pedagang yang sudah mendapat hak untuk berjualan disana (PIC). Tapi mereka kembali ke tempat asal dengan alasan sepi,” katanya.

Terkait sepinya PIC, Yana enggan semua kesalahan ditimpakan kepada pihaknya saja. Ia menyatakan, langkah dan upaya meramakan PIC adalah tanggungjawab sejumlah dinas terkait lainnya.

“Dinas terkait yang dimaksud diantaranya Dishub, Satpol-PP Dan Dinas PUPR,” katanya.

Yana menyebut, pihaknya bukannya tinggal diam saja melihat sepinya PIC. Bahkan, ia menyatakan, tuntutan sejumlah pedagang PIC pun sudah diturinya.

“Kalau untuk tuntutan pedagang ada yang sudah dilaksanakan. Di antaranya perbaikan PJU oleh Dishub dan penertiban pedangan jalan raya oleh Satpol-PP. Bahkan akan ada perbaikan jalan oleh Dinas PUPR setelah Pemilu 2019 serentak selesai,” pungkasnya.

(mat)