Pasar Induk Cianjur Nasibmu Kini, Ratusan Pedagang Terpaksa Gulung Tikar

Kondisi pasar induk cianjur sepi ditinggal para pedagang

RADARCIANJUR.com – Kondisi Pasar Induk Cianjur (PIC) hingga kini masih belum juga menunjukkan geliat sebagaimana diinginkan para pedagang dan janji-janji muluk Pemkab Cianjur di era kepemimpinan Bupati Tjetjep Muchtar Soleh.

Sebaliknya, kian hari, pasar yang pernah diresmikan mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan disebut-sebut sebagai pasar tradisional terbesar di Jawa Barat itu malah semakin sepi.

Akibatnya, tak sedikit pedagang yang akhirnya gulung tikar dan bangkrut tak bisa menggantungkan hidup dari berjualan di PIC.

Tatan (52), salah satu pedagang sandang di PIC memaparkan, sejak awal direlokasi dan menempati PIC pada Desember 2015 silam itu, jumlah pengunjung bukannya mengalami peningkatan.

Sebaliknya, jumlah pengunjung malah terus mengalami penurunan. Akibatnya, tak sedikit pula pedagang terpaksa gulung tikar lantaran tak bisa lagi mengandalkan berjualan di pasar tersebut.

BACA JUGA: Pasar Induk Cianjur Sengaja Gak Diurus?

Dari pantauan dan informasi yang dikumpulkan Radar Cianjur, pedagang yang banyak gulung tikar alias tutup tak bisa lagi berjualan ada di Blok A, B dan C. Sedangkan Blok D sebagian pedagang sudah mulai tak pernah lagi membuka tokonya.

Semenatara jumlahnya pun sudah mencapai ratusan. ”Saya juga sama keluarga sudah bisa makan sehari-hari saja sudah beryukur, Kang,” beber Tantan.

Hal senada juga disampaikan Roland (45), pedagang lainnya. Dulu, beberapa waktu usai peresmian jumlah pengunjung masih cukup ramai. Tapi setelah itu, jumlah pengunjung terus turun sampai ahirnya sangat sepi.

Kondisi tersebut memaksa para pedagang memutar otak dan banyak yang memilih meniggalkan kios dan los miliknya serta memilih berdagang di tempat lain. Diantaranya pasar-pasar bayangan yang lebih menjanjikan.

”Saat ini para pedagang sandang khususnya banyak berjualan killing kampung, pabrik-pabrik, dan buka jualan di rumahnya sendiri. Contohnya saat ini yang bertahan paling sekitar enam los di blok saya tempati,” ungkapnya.

Data diperoleh dari pengelola PIC, sebanyak 216 pedagang di Blok A sudah tak lagi berjualan. Pun demikian dengan Blok B. Sedangkan di Blok C, sudah 420 los tak ditinggalkan pemiliknya. Sementara di Blok D, sudah 258 toko tak lagi beroperasi lagi.

Kepala PIC, Asep mengatakan, sepinya kondisi sejumlah kios, los dan ruko itu dinilainya akibat jalah bersaing dengan pedagang lainnya dan klah mental menghadapi persaingan yang makin ketat. Sebaliknya, pihaknya membantah jika selama ini hanya diam saja. Pihaknya pun sudah berusaha meramaikan pasar dengan menggelar berbagai kegiatan, event dan hiburan lainnya.

”Pedagang yang bangkrut itu kalah bersaing dengan pedagang lainnya,” jelasnya.

Terpisah, mantan Ketua Panitia Relokasi PIC, Oting Zainal Mutaqin mengatakan, pasca relokasi pasar dulu, pihaknya sudah intens melakukan komonikasi dengan berbagai dinas dan instansi agar tuntutan para pedagang dapat cepat terealisasi.

Namun, baru berjalan satu tahun, terjadi pergantian pimpinan dari Tjetjep Muchtar Soleh kepada Irvan Rivano Muchtar yang notabene adalah anaknya sendiri.

Dari pergantian orang nomor satu di Cianjur itu, terjadi pergantian besar-besaran komposisi pejabat di lingkungan Pemkab Cianjur.

Akibatnya, upaya dan rencana yang sudah dibuat untuk pengembangan PIC pun berantakan dan tak lagi dilanjutkan di periode selanjutnya.

Termasuk dirinya yang kala itu tak lagi menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cianjur.

”Pada saat itu baru satu tahun kita rapat terus-menerus bagaimana caranya agar tuntututan pedagang dan janjijanji Pak Tjetjep bisa terpenuhi. Namun di kala saya sedang intens komonikasi dengan berbagai pihak, saya berhenti (diganti, red). Ya mau bagaimana lagi saya?” kata Oting yang saat ini menjabat sebagai Kadisdik Cianjur.

Oting mengakui, hingga saat ini, tuntutan pedagang di PIC yang belum direaisasikan Pemkab Cianjur memang cukup banyak. Diantannya permasalahan jalur angkutan umum, dan pedagang yang berjulan di pasar-pasar bayangan.

”Salah satu tuntutan pedagang Pasar Induk Cianjur sudah ada yang terealisasi saat saya menjabat sebagai Sekda, yaitu pembongkaran pasar yang di Salaeurih,” jelasnya.

(mat/dil)