Sudah Setengah Pedagang Pasar Induk Cianjur Bangkrut

Kondisi pasar induk cianjur sepi ditinggal para pedagang

RADARCIANJUR.com – Bedasarkan data Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Perdagangan dan Perindustrian (Diskopperindagin) Kabupaten Cianjur mencatat, setengah pedagang Pasar Induk Cianjur (PIC) kini sudah bangkrut dan tak berjualan lagi.

Angka itu dicatat semenjak relokasi PIC akhir Desember 2015 silam, sampai dengan data terakhir yang didapat pada tahun 2019 ini. Bukan tidak mungkin, jumlah pedagang yang gulung tikar pun akan bertambah di kemudian hari.

“Yang kita rekolasi itu sekitar 3000 pedagang. Dan yang aktif sekarang tinggal sekitar 2000an pedagang,” ujar Kadiskopperindag Kabupaten Cianjur, Himam Haris, ditemui di ruang kerjanya, Rabu (8/5/2019).

Himam menyampaikan, pihaknya selama ini sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat PIC ramai pengunjung. Sayangnya, usaha itu seperti menemui tembok tebal dan tetap tak bisa membuat pasar tradisional yang disebut terbesar di Jawa Barat itu ramai.

Akan tetapi, hal tersebut sia-sia saja. PIC pun tetap sepi. Tak hanya pedagang pasar saja yang mengeluhkan, tapi organda pun sama halnya. Penumpang yang seharusnya ramai namun dirasa sepi. Berbeda dengan yang sebelumnya pernah dijanjikan oleh Pemkab Cianjur.

Himam menegaskan, dalam urusan PIC, pihaknya hanya bertugas untuk memetakan dan mengatur para pedagang saja. Selebihnya, dilakukan oleh dinas-dinas terkait lainnya.

Di PIC, lanjutnya, pedagang dipeta dengan penempatan yang sudah ditentukan. Dari mulai Blok A dan B untuk pakaian, aksesoris dan perhiasan, Blok C untuk Pedagang Kaki Lima (PKL) jalan raya, Blok E seta F untuk pedagang sayuran dan buah-buahan dan Blok G untuk pedagang daging.

Namun, penempatan untuk PKL masih sepi pedagang. Pasalnya, para PKL tidak ingin mengikuti aturan yang sudah ditentukan Disperindagin.

“Kalau untuk Blok C yang diperuntukan PKL masih sepi, mereka tidak mau mengikuti aturan yang kita buat dan ingin bebas,” tuturnya.

Lanjutnya, kondisi PIC membutuhkan proses untuk normal dan ramai pengunjung. Selain itu, prosesnya sendiri kurang lebih lima tahun. “Diperkirakan pada tahun 2020 baru akan bisa ramai,” tuturnya.

Sementara, Kepala Bidang (Kabid) Pedagangan Diskopperindagin Kabupaten Cianjur, Yana Kamaluddin menjelaskan, bahwa sepinya pengunjung PIC paling dirasakan oleh pedagang sandang.

Menurutnya, hal tersebut penyebabnya banyak faktor. Selain banyaknya toko sandang di pusat kota, juga makin menggeliatnya penjualan secara online.

“Meski jual beli online tidak terlalu besar (jumlahnya) tapi berkontribusi terhadap menurunnya omzet pedagang sandang di PIC sangat besar,” terangnya.

Saat ini, lanjutnya, pihaknya masih terus mengupayakan untuk membuat PIC ramai dikunjungi pembeli. Pihaknya berharap, upaya yang dilakukan pihaknya nantinya sesuai dengan harapan para pedagang

Sementara, ditanya mengenai ancaman pedagang PIC yang berencana akan mengadu ke Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Presiden RI Joko Widodo, Yana menyebut bahwa hal itu adalah hak para pedagang.

“Bagi kami ya tetap terus berusaha melakukan perbaikan untuk membuat ramai PIC,” tuturnya.

Di sisi lain, Kepala UPTD PIC, Asep Kusmiadi menyatakan, langkah pemerintah untuk meramaikan pasar tidak bisa dilakukan satu atau dua pihak saja. Diperlukan kerjasama berbagai pihak, instansi dan dinas terkait untuk duduk bersama menyelesaikan permasalahan di PIC.

“Karena pengelolaan pasar tidak hanya menjadi beban satu dinas saja, dalam hal ini Disperindag semata. Tapi juga perlu keterlibatan dinas lain,” jelasnya.

Asep juga tak bisa memungkiri bahwa banyak sekali pedagang PIC yang kini sudah tutup dan tak lagi beroperasi. Sebagian diantaranya benar-benar berhenti berjulan atau memiliki mencari nafkah di bidang lain. Namun, tak sedikit pula yang memilih berjulan di tempat lain yang lebih menguntungkan.

“Ada yang ke jalan raya, Bojongmeron dan pasar-pasar bayangan lainnya,” ucapnya.

(mat/dil/kim)