Mengunjungi Kampung Kolang kaling di Cugenang

PRODUKSI: Kolang kaling menjadi salah satu bahan makanan yang sering dicari pada bulan Ramadan oleh sebagian masyarakat. FOTO: Hakim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Setiap datangnya bulan Ramadan, kolang kaling selalu menjadi salah satu ‘ikon’ yang tak bisa dilepaskan dari bulan penuh berkah dan ibadah itu. Kolang kaling pun selalu menjadi salah satu bahan makanan yang selalu menghiasi pernik ragam minuman syarat berbuka puasa.

Tak heran, salah satu bahan makanan itu selalu menjadi komoditi yang dicari masyarakat. Tapi, tak banyak yang tahu bahwa di Cianjur ada sebuah kampung yang menjadi langganan produksi kolang kaling. Bahkan, kampung tersebut sampai disebut kampung kolang kaling.

Kampung kolang kaling, mungkin masih asing bagi sebagian orang terutama masyarakat Kabupaten Cianjur. Namun ternyata, kampung tersebut ada di Cianjur, tepatnya di Kampung Kedung Hilir, Desa Sukamanah Kecamatan Cugenang.

Sudah sejak empat terakhir ini kampung tersebut menjadi sentra produksi salah satu bahan makanan untuk diolah menjadi manisan, bahan es buah dan juga kolak yang menjadi pelengkap saat berbuka puasa.

Warga yang menjadi produsen kolang-kaling, selain untuk mengisi waktu luang dan libur bekerja di kebun, juga menjadi tambahan sumber penghasilan yang menjanjikan, utamanya di kala bulan Ramadhan.

Sejak empat tahun pula, warga di kampung tersebut terus memproduksi dan mendistribusikan kolang kaling ke berbagai daerah. Sehingga pada akhirnya, kampung tersebut disebut sebagai kampung kolang kaling.

Dalam sehari, produksi kolang kaling yang bisa dihasilkan bisa mencapai satu kuintal dengan keuntungan kotor sebesar satu juta rupiah. Keuntungan tersebut dibagi lagi untuk membeli kolang kaling di kebun pohon Aren. Pasalnya. kampung ini tidak memiliki pohon Aren, sehingga mereka membeli di petani pohon Aren.

Asep Saepuloh (30), salah satu pengolah kolang kaling mengaku sudah empat tahun dirinya memproduksi kolang kaling. Rasa gatal dari buah Aren itu sudah tak dirasakan lagi olehnya.

Bahkan ketika gatal akibat getah dari buah pohon Aren tersebut, dirinya tak pernah menyebutkan gatal. Pasalnya gatal tersebut akan menyebar ke seluruh tubuh seperti kaligata.

“Sudah empat tahun saya mengolah kolang kaling, kalau kegiatan sehari-hari sih di kebun. Ini kebetulan lagi libur saja dan memang kalau setiap puasa kita satu kampung suka mengolah kolang kaling,” ujarnya sembari mengupas kolang kaling yang masih terbungkus cangkangnya.

Dirinya bersama dengan warga yang lain memulai mengolah kolang kaling dari siang hingga sore hari, dari mulai membawa dari petani kolang kaling hingga melakukan proses perebusan dan juga pengupasan kolang kaling.

“Kalau gatal itu udah biasa, bahkan kalau kita kena getahnya jangan bilang gatal. Cukup dibakar sebentar saja dengan korek. Karena kalau berucap gatal akan menyebar ke seluruh tubuh,” paparnya.

Bagi warga setempat, bulan Ramadan menjadi suatu keberkahan yang setiap tahunnya dirasakan oleh masyarakat sekitar. Selain itu, jika kampung tersebut tidak memproduksi kolang kaling, maka dipastikan harga kolang kaling di luar akan mahal.

Asep menuturkan, kendari produksi harian hanya mencapai satu kuintal, namun bisa membantu stabilkan harga kolang kaling di pasaran.

Penjualannya sendiri belum hingga luar Cianjur, hanya di pasar-pasar Kabupaten Cianjur. Pasalnya jika keluar Cianjur membutuhkan modal yang cukup besar.

“Untuk penjualan kita masih di pasar-pasar yang ada di Cianjur. Kalau di luar Cianjur kita belum bisa dengan produksi yang masih satu kuintal. Nantinya pasti permintaan pasar lebih banyak,” tutupnya.

(kim)