Pasar Induk Cianjur Makin Sepi, Pedagang Gelar Istigosah

Ratusan pedagang Pasar Induk Cianjur (PIC) menggelar istighosah dan doa bersama di Masjid Al-Muchar usai menggelar salah Jumat, sekitar pukul 13:00 WIB, Jumat (10/5).

RADARCIANJUR.com – Ratusan pedagang Pasar Induk Cianjur (PIC) menggelar istighosah dan doa bersama di Masjid Al-Muchar usai menggelar salah Jumat, sekitar pukul 13:00 WIB, Jumat (10/5).

Istighosah tersebut dilakukan akibat dampak dari semakin senyapnya PIC dan terus menurunnya volume jual-beli sejak direlokasi akhir Desember 2015 silam. Mereka berharap, Pemkab Cianjur dan dinas-dinas di bawahnya segera disadarkan serta peduli dengan nasib para pedagang.

Ketua DPP PIC, Habib Hud Al-Idrus mengatakan, dirinya atas nama para pedagang sangat menyayangkan atas sikap dan keputusan Pemkab Cianjur, dalam hal ini Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman. Menurutnya, sebagai penerus pemangku kebijakan sebelumnya (Tjetjep Muchtar Soleh, red), kurang tegas dan ragu dalam mengamvil keputusan. Kondisi tersebut, secara tidak langsung menjadi sebuah bentuk pengabaian.

“Artinya, orang nomor satu di Cianjur ini secara tidak langsung melemahkan para pedagang. Maka itu kami melaksanakan doa bersama melalui istighosah, bertafakur,” jelasnya.

Harapannya, doa bersama yang dilakukan di bulan Ramadan ini, lebih didengar dan cepat dikabulkan Allah SWT serta kondisi PIC biasa ramai kembali sebagaimana harapan para pedagang.

Di sisi lain, tegasnya, Pemkab Cianjur harus mengambil langkah strategis bersama dinas-dinas terkait bagaimana caranya ada solusi atau langkah terbaik untuk permasalahan yang sudah bertahun-tahun itu.

Habib Hud menyambungkan, jika memang Pemkab Cianjur tidak melakukan gerak dan kerja yang optimal sebagaimana tanggungjawab dan kewajibannya, pihaknya akan mengadukan hal ini kepada Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Bahkan jika memang diperlukan, masalah ini akan dibawa ke Presiden RI, Joko Widodo.

“Nah, permasalahan polemik pasar bayangan hingga kini masih belum ada penertiban kembali, maka itu perlu dipikirkan, jangan dianggap sepele,” wantinya.

Ajat Sudrajat (44), salah seorang pedagang PIC menuturkan, sesuai kesepakatan bersama, pedagang tetap tidak akan membayar retribusi sebelum pasar ramai dan tuntutan terealisasikan dengan baik.

“Tapi mana buktinya? jelas Pemkab ingkar janji kepada kami,” kecamnya.

Ema Arti (65), salah seorang pedagang sandang di PIC menambahkan, jualan saat ini semakin sepi dan jarang ada yang beli. Dari sejak berjualan 1970 silam, kondisi ini menjadi yang tersepi yang dialaminya.

Ema menyatakan, sejak kepemimpinan Tjetjep Muchtar Soleh yang kemudian dilanjutkan anaknya, Irvan Rivano Muchtar, sampai dipegang oleh Plt Herman Suhemarn, permasalah di PIC tidak pernah beres. Yang ada, hanya janji-janji manis saja yang didapat para pedagang.

“Janjinya pemerintah kan katanya (pasar-pasar bayangan) akan dipindahkan semuanya ke PIC, seperti di Bojongmeron dan yang ngampar di beberapa lokasi lainnya juga ditertibkan. Tapi ya tetap cuma janji,” sesalnya.

(mat)