Pasar Induk Cianjur Penuh Masalah Sejak Awal

Pasar Induk Cianjur tampak sepi

RADARCIANJUR.com – Pasar Induk Cianjur (PIC) sejak awal ternyata sudah penuh dengan masalah. Tak heran, dalam perjalannya pun pasar yang disebut-sebut sebagai pasar tradisional terbesar se-Jawa Barat itu selalu saja diwarnai masalah.

Hingga saat ini, PIC pun masih juga dirundung masalah, yang ironisnya adalah masalah yang sudah sekian tahun mengemuka dan tak juga menemukan solusinya sama sekali. Kendati, berbagai keluhan dan tuntutan pedagang selalu saja diutarakan.

Namun ujung-ujungnya, lagi-lagi, keluhan dan aspirasi pedagang PIC selalu mendapat jawaban ‘ditampung’ dan deretan janji-janji manis.

Pelaksana kegiatan Bidang Gedung Dinas PUPR Kabupaten Cianjur, Indra mengatakan sepengetahuannya, proses pembangunan PIC sempat berganti-ganti sebanyak empat kali dari pengembang satu ke pengembang lainnya. Akan tetapi dirinya tidak mengetahui persis alasan dan penyebab pergantian pengembang pembangunan PIC.

“Bahkan proses pembangunan PIC juga sempat tersendat dan tagnan selama satu tahun, yakni pada tahun 2014,” tuturnya ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Menurutnya, awalnya pengembang yang mengerjakan dari PT Nidia Karya, lalu beralih kepada PT Guna Karya, dan PT Dela Agung Utama pada tahun tahun 2015. Lalu yang terakhir tahun 2016 diteruskan PT Imemba.

“Sedangkan proses pembangunannya memakan waktu sampai dengan total enam tahun,” lanjutnya.

Sementara untuk pendanaan pasar di Pasirhayam, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cilaku itu, menghabiskan dana dari APBD murni hampir lebih kurang Rp100 miliar.

Indra juga menuturkan, sejak awal rencana pembangunan PIC itu sudah menuai pro dan kontra dari sejumlah pihak. Penolakan keras pun datang dari para pedagang dari pasar induk lama.

“Ya sebetulnya dulu sempat mengusulkan gak setuju. Gagasan saya waktu itu lebih baik pasar grosir saja. Lalu pasar tradisional ada di beberapa kecamatan begitu,” ungkapnya.

Di sisi lain, sampai saat ini, berdasarkan data yang ada, sudah separu lebih pedagang PIC yang bangkrut dan tak lagi berjualan. Mereka lebih memilih untuk tutup lantaran omset penjualan menurun sampai dengan 80 persen. Sedangkan untuk bisa terus berdagang membutuhkan uang yang tak sedikit.

Kepala PIC, Asep Kusmaidi mengatakan, hampir tiap blok ada pedagang yang bangkut tak berjualan lagi. Tapi yang paling banyak ada di Blok A dan C serta E.

“Paling banyak itu di Nlok Loss C. Hampir semuanya (bangkrut). Sekitar 2.500 (pedagang) yang tutup,” beber Asep.

Saat ini, untuk setiap blok, yang masih terisi hanya di kisaran 50 persen saja. “Awalnya ramai terisi 90 persen. Mungkin para pedagang tidak kuat mental dan modal sehingga banyak yang bangkrut,” pungkasnya.

(mat)