Menelusuri Jejak Mama Gelar yang Tersohor, Punya Keistimewaan Sejak Kanak-kanak

H Abeng berada di pintu gerbang pondok pesantren

RADARCIANJUR.com – KH Zen Abdusomad atau yang akrab disebut Mama Gelar dikenal sudah bukan lagi nama yang asing di telinga masyarakat Cianjur. Nama Mama Gelar pun sudah cukup tersohor sampai ke luar daerah, hinga ke manca negara. Jasa-jasanya dalam syiar Islam di tanah Cianjur, membuat ulama kelahiran Peuteuycondong tahun 1924 ini begitu dikenal. Gayanya yang santun dan ramah kepada siapapun, serta selalu rendah diri, menjadi kenangan paling tak dapat dihilangkan begitu saja.

Jasanya dalam menyebarkan ajaran Islam hingga kini masih bisa terlihat dari sebaran majelis talim yang ada di wilayah Jawa Barat serta pesantren yang masih berdiri di kawasan Kecamatan Cibeber.

Mama Gelar lahir dari ayah bernama KH Subandi bin Eyang Husen bin Eyang Johar Kadupandak dan ibu Umi Hj Asiah bin Uyut Fatimah bin Eyang Arnas bin Nyimas Kararanggeng bin Aria Wiratanu Datar Cikundul.

Secara garis keturunan, Mama Gelar masih memiliki pertalian darah dari keturunan bupati pertama Cianjur, Eyang Dalem Cikundul. Mama Gelar mempunyai sembilan orang anak, yakni KH Dadang Darusalam, Hj Aliyah, Hj Salman Faisal, Hj Yayah Rokayah (alm), KH Iyang Sodariah, KH Huban Zen, Hj Iah, Hj Rahmah, dan KH Giban Zen atau yang akrab disapa H Abeng.

Ditemui di pesantren Gelar, putra bungsu Mama Gelar, H Abeng, menceritakan kembali kisah ayahnya sejak kecil hingga mampu mendirikan majelis talim di berbagai daerah.

“Di usia sekolah dasar beliau sudah memperlihatkan tanda-tanda yang berbeda dengan teman sebayanya. Ia selalu mendapat nilai terbaik dari mulai kelas satu sampai dengan kelas 6, ia bersekolah di kawasan Cilaku,” ujar H Abeng ditemui di pesantren Gelar.

Menurutnya, tanda-tanda istimewa itu sudah dirasakan sang ibu saat masih di dalam kandungan. Saat itu, sang ibunda bermimpi sewaktu akan melahirkan, bulan jatuh ke pangkuan perutnya.

Saat itu Mama Gelar dilahirkan pada bulan Ramadan saat waktu sahur tiba. Masa kecil Mama Gelar tak beda jauh dengan sebagian besar balita lainnya, namun ia mendapat didikan kedisiplinan yang tinggi dari KH Subandi ayahnya.

“Pernah diberi sepeda namun sepeda itu malah digantung di atap sampai rusak. Mungkin saat itu beliau tidak boleh terlalu banyak main dan harus banyak mengaji,” kata H Abeng.

Selesai menamatkan pendidikan di tingkat sekolah dasar, para guru menyarankan agar Mama Gelar mendapat pendidikan yang lebih tinggi lagi dan harus meneruskan sekolah karena kejeniusannya.

“Tapi karena keturunan kiai maka beliau melanjutkan pendidikan dengan mondok di beberapa pesantren,” katanya.

Pemondokan pertama Mama Gelar adalah Pesantren Gentur di wilayah Warungkondang. Dari wilayah Cibeber Mama Gelar jalan kaki setiap hari menempuh perjalanan sekitar dua jam menuju Pesantren Gentur.

Selama lima tahun Mama Gelar yang berusia remaja mendapat pendidikan ajaran Islam dari pesantren. Mama Gelar juga sempat mondok di Cibitung Bandung lalu kembali ke Gentur dan menikah dengan putri Abuya Qadir dari Gentur.

Menginjak usia dewasa. Mama Gelar mendapat ujian yang cukup berat yakni harus kehilangan sang istri. Padahal saat itu Mama Gelar akan berangkat menuju Makkah dan sudah sampai di Pelabuhan Cirebon.

“Menginjak usia dewasa beliau mendapat perintah untuk berangkat ke tanah suci. Pas baru sampai di Dermaga Cirebon beliau mendapat kabar istri yang sedang mengandung anaknya meninggal dunia. Ia tidak boleh kembali dan harus melanjutkan perjalanan saat itu,” kata H Abeng.

Mama Gelar pun tetap melanjutkan perjalanannya ke tanah suci. Mama Gelar lalu bertemu dengan guru besar Said Alawi Al Maliki. Tidak mudah menjadi murid guru besar tersebut. Mama Gelar harus melewati beberapa ujian di antaranya harus membersihkan puluhan toilet di pondok tersebut. Ia juga pernah dikurung selama satu minggu.

“Kepedihan bertambah saat beliau disuruh berjalan kaki dari Makkah ke Madinah sejauh 450 kilometer. Ia sering makan bekas semangka, minum air yang tak pantas saking hausnya, lalu beliau berhasil menjadi murid Said Muhammad,” kata H Abeng.

Masih di tanah suci, Mama Gelar, dipertemukan dengan jodohnya setelah bertemu dengan KH Zazuli Tanggeung.

“Beliau bertanya apakah masih ada seorang perempuan yang masih sendiri. Mama Gelar langsung menunjuk Hj Hindun Fatimah saat diperlihatkan foto, dan tak berapa lama lalu menikah,” kata H Abeng.

Pulang dari tanah suci beliau diberi lahan untuk sarana membangun pesantren yang saat itu digunakan untuk bangunan masjid, madrasah, dan pondok.

“Sepulang dari tanah suci terus menghidupkan pesantren bersama dengan ayahandanya,” ujar H Abeng.

Salah satu yang terkenal dari ajaran Mama Gelar selain ilmu agama adalah ilmu beladiri yang diambil dari pencak silat Cimande. Beberapa muridnya sempat mendapat ilmu beladiri dan hingga sekarang turun temurun diajarkan kembali.

“Mama juga telah mengajarkan ilmu agama di majelis talim yang berjumlah lebih dari 135 majelis dan tersebar di berbagai daerah. Di kawasan Cianjur sendiri mulai dari kawasan Cibeber sampai dengan Sindangbarang, Cidaun, dan Pamijahan,” ujarnya.

H Abeng sedikit mengenang keistimewaan ayahnya. Saat itu Mama Gelar dan dirinya melayat orang meninggal di kawasan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Selesai melayat ada beberapa orang yang ingin ikut ke pesantren sehingga mobil menjadi penuh. Ayahnya yang saat itu melihat kondisi mobil memilih untuk mengalah dan menyuruh H Abeng untuk menjemputnya kembali.

“Saya terkejut ketika sampai di pesantren beliau sudah duduk santai di bawah pohon beringin,” kenang H Abeng.

Pengalaman mengejutkan lainnya ketika berlayar menuju Lampung dan kehabisan ongkos di perjalanan. Di dalam kapal, tak ada satupun yang berani menawar cincin Mirah Delima yang dipunyai Mama Gelar. Namun saat berlabuh di Bakauheuni tiba-tiba segepok uang jatuh dari pakaian Mama Gelar.

Keajaiban lainnya saat menemui Bupati, Dandim, dan Kapolres dalam waktu yang tidak berbeda jauh saat pagi hari dimana tiga orang muspida tersebut berhasil ditemui sebelum mereka memulai aktivitas di kantornya masing-masing.

“Beliau juga dikenal sangat dermawan, pernah jam Rolex diberikan cuma-cuma kepada tamu, lalu ada jemaah yang suka terlambat dari Cikalongkulon diberi motor agar tetap hadir di pesantren,” kata H Abeng.

(dil)