Kisah Marbot Masjid Jami Assalafiyah, Tengkulak Sayur Bangkrut jadi Kuli Gegara Gaptek

Rojali, marbot Masjid Jami Assalafiyah

RADARCIANJUR.com – Bulan Ramadan menjadi bulan penuh berkah. Bulan dimana umat muslim di seluruh penjuru bumi berlomba-lomba merengkuh berkah dan menjalankan ibadah di bulan suci ini. Tak terkecuali Rojali, marbot Masjid Jami Assalafiyah. Rojali sendiri mendapatkan hidayah dan ketentraman meski ia jatuh dan mengalami kebangkrutan. Kini, kendati hidupnya tak seperti dulu, menjadi marbot, membuat hidup Rojali jauh lebih baik.

Sosok Rojali (67) tengah membersihkan sekitaran Masjid Jami Assalafiyah, yang berada tepat di depan Kantor Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.

Tangannya menyapu setiap sisi jendela, kemudian sesekali pergi ke belakang mengambil air ke ember hitam untuk nantinya digunakan mengepel lantai. Begitulah gambaran sekilas mengenai pekerjaan Rojali sebagai marbot selama hampir empat tahun untuk membersihkan seluruh ruangan masjid Jami tersebut.

Menurut Pak Jali, begitu ia disapa, kerapihan serta kebersihan masjid adalah sebuah tugas yang harus ia kerjakan lantaran hal ini pula yang menjadi pondasi dirinya yakni kebersihan sebagian dari Iman.

“Saya senang bekerja di masjid ini setiap hari untuk bersih-bersih. Karena saya juga bisa sembari beribadah disini, bahkan kalau ada penceramah atau pengkhotbah, saya dapat ilmu mengenai agama lebih dalam. Apa saja tentang Islam, yang penting berkah,” ujarnya kepada Radar Cianjur, Kamis (16/4).

Kendati ia memperoleh banyak manfaat tatkala bekerja di masjid itu, Rojali juga kerapkali bekerja lebih lama jika ada acara-acara besar di Masjid Jami Assalafiyah.

“Ya, kalau ada acara-acara besar mungkin dukanya harus kerja lebih lama. Karena banyak sampah yang harus dibuang atau gelas-gelas yang harus dibersihkan. Setelah itu saya bersihkan kembali lantai tempat sholat. Tetapi Alhamdulillah untuk sekarang itu ada yang bantu juga keponakan saya,” terangnya.

Setiap bulan Ramadan seperti saat ini, ia juga mengemban tugas lain di luar dari tugas sehari harinya membersihkan ruangan.

“Kalau bulan Ramadan pasti saya bersama remaja masjid akan berduyun duyun untuk menyiapkan makanan jelang berbuka puasa sama minuman apa aja yang udah disumbangkan dari warga sekitar. Saya siapkan ada lontong, bakwan, tahu dan minuman segar seperti es sirup, juga kolak,” tuturnya.

Selain itu, Rojali pun menceritakan sebelum dirinya menjadi seorang Marbot, bahwa pernah bekerja menjadi tengkulak sayur, dan akhirnya bangkrut, terus ikut menjadi kuli mengepak sayur, di dekat rumahnya.
Selama berpuluh-puluh tahun bekerja, akhirnya ia dikalahkan oleh perkembangan teknologi yang kian berpacu maju.

“Selama kurang lebih 20 tahun saya bekerja di usaha sayuran, tapi semenjak sudah memakai teknologi, saya jadi engga bisa ikuti. Dulu memang menjadi tengkulak itu cukup menjanjikan, tetapi sekarang karena banyaknya saingan dan juga anak-anak muda yang lebih mengerti teknologi, jadi akhirnya usaha sayuran pun ambruk, dan beralih di sini,” tuturnya.

Namun, ia mensyukuri garis takdir yang menemukannya ke Masjid Jami Assalafiyah Kecamatan Pacet ini, lantaran banyak ilmu yang ia dapat dan mudah-mudahan pahalanya pun bisa diraih.

“Meski jam kerja tak menentu, bahkan kalau saat bulan puasa ini, tiap jam 3.00 subuh mesti membuka dan persiapan di masjid, tapi saya bersyukur karena banyak mendapat ilmu disini dan tentunya berkah pahala, Aamiin,” tandasnya.

(dan)