Sidang Kedua IRM, Sekdis: Ada Pemotongan DAK

TATAPAN PENUH TANYA: Mantan Bupati Cianjur nonaktif Irvan Rivano Muchtar (IRM) saat sidang lanjutan kasus korupsi DAK yang melilitnya, Senin (20/5). Sidang kedua majelis hakim Tipikor Bandung menghadirkan 10 orang saksi termasuk Sekdisdikbud Cianjur.

RADARCIANJUR.com -Jaksa Penuntut Umun, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan 10 orang saksi dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi mantan Bupati Cianjur nonaktif Irvan Rivano Muchtar (IRM), Kadisdik Cianjur Cecep Sobandi, Rosidin dan TB Cepy Setiadi.

Ke 10 saksi yang dihadirkan, yakni Basuki Widodo (Staf Dirjen Disdakmen Kemendikbud), Rustanto (PNS Disdikbud Cianjur), Tedy Budiman (BPKAD Cianjur), M Asep Saipurohman (Sekdisdikbud), Iyang Ruhiyana (Kasubag Keu Disdikbud Cianjur), Hendar Munadi (Kasi Kelembagaan Sarana Disdikbud Cianjur), Normansyah (Disdikbud), Agus Supriyadi (Kabid SD Disdikbud Cianjur), Budiman (Ispektorat), dan Dadang Danurhuda (Supir Cecep).

Dari semua saksi yang dihadirkan, pernyataan Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Sekdiskdikbud) Cianjur, M Asep Saipurohman paling mencolok dipersidangan. Ia mengaku mengetahui nilai yang diusulkan untuk DAK pembangunan fisik sekolah SMP di Cianjur mencapai milyaran rupiah.

“Nilai pengajuanya seingat saya 48 Milyar, itu untuk 137 SMP Negeri dan Swasta,” ujar Asep di ruang sidang Pengadilan Negeri Bandung, Jalan LL RE Martadinata, Kota Bandung, Senin (20/5).

Bahkan, Asep mengatakan, beberapa kepala sekolah yang sekolahnya mendapatkan DAK mengakui ada potongan sekian persen dari DAK tersebut. Namun Asep tidak menjelaskan potongan tersebut disetorkan kemana.

“Kepala sekolah SMPN Takokak mengakui ada potongan dan penyetoran, pada waktu itu bilang 14,5 persen dan informasi dari luar 17,5 persen,” ungkapnya.

Kemudian, JPU KPK, Ali Fikri menanyakan tentang potongan 14,5 sampai 17,5 persen tersebut disetorkan kepada kepala Disdikbud atau ada pihak lain. Asep menjawab dengan beralasan soal setor menyetor ia tidak menanyakan lebih dalam kepada kepala sekolah.

“Saya tau potongan sekian persen hanya dari kepala sekolah, soal setornya kemana saya tidak tau,” jelasnya.

Lebih Lanjut, Asep mengatakan, selain SMPN Takokak, kepala sekolah SMPN 4 Cibeber, Hadi Nani juga menyampaikan hal serupa, bahwa ada potongan persenan sebanyak 14,5 persen sampai 17,5 persen.

“Selain dua orang itu, seingat saya, ada lima orang menyampaikan hal sama bahwa ada pemotongan sekian persen itu,” paparnya.

Sebelumnya JPU KPK, Ali Fikri menyatakan Irvan Rivano Muchtar bersama-sama dengan Kadisdikbud Cianjur, Cecep Sobandi, Kabid SMP, Rosidin dan Cepy Septhiady kakak ipar Irvan telah melakukan perbuatan secara melawan hukum atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya sebagai Bupati Cianjur.

“Yakni memaksa seseorang yaitu memaksa para kepala sekolah penerima DAK Fisik Bidang Pendidikan SMP TA 2018, memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri yaitu memberikan potongan penerimaan DAK Fisik SMP di Cianjur,” terangnya.

Pemotongan yang dilakukan para terdakwa, yakni dengan total Rp6.943.860.000. Semua pemotongan dana tersebut berasal dari DAK fisik yang dikucurkan pemerintah pusat untuk mendanai kebutuhan sarana dan prasarana bidang pendidikan yang merupakan urusan daerah.

Akibat perbuatannya, terdakwa dijerat pasal 12 hurup e, 12 huruf f dan pasal 11 Undang-undang tindak pidana korupsi.

(kim/azs)