Jangan Terpecah Belah, #DamaiIndonesiaku

#DamailahIndonesiaku

RADARCIANJUR.com -Tagar Jangan Terpecah Belah Indonesia, #DamaiIndonesiaku harus terus didengungkan agar seluruh rakyat Indonesia selalu ingat dan cinta pada kedamaian. Hal itu untuk meredam aksi 22 Mei di beberapa lokasi termasuk di depan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI, Jakarta Pusat yang terjadi hingga Rabu (22/5) malam.

Tagar #DamaiIndonesiaku harus menjawab beda pendapat atau pilihan itu biasa, tapi tetap bisa jalan beriringan akan lebih luar biasa karena kita satu nusa dan satu bangsa. Tak perlu rusuh di antara sendiri sehingga terpecah belah, Indonesia maka #DamaiIndonesiaku.
Dalam hidup, manusia senantiasa dihadapkan dengan pilihan.

Di Indonesia, perkara pilih-memilih skala nasional juga telah dilakukan. Ada Pemilu 2019, dengan tema utama pemilihan presiden dan wakil presiden, yang sudah selesai dilaksanakan.

“Pilihan kita bisa jadi tidak sama, pendapat pun mungkin berlainan pula. Karena hal itu juga kita bahkan bisa saja berdiri di kubu yang berbeda. Tapi pada akhirnya percaya, deh, semua #DamaiIndonesiaku”.

Satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Masih ingat kan dengan perjuangan kita di Asian Games 2018 lalu? Perbedaan bisa kita singkirkan agar jalan beriringan. Demi Indonesia, kita mampu bahu-membahu dan berangkulan di tengah perbedaan.

Jadi, kenapa saat ini tidak kita lakukan lagi? Ya, beda memang boleh saja, dan rasanya tak enak pula kalau semua serba sama.

Tapi daripada berjalan sendirian, jelas #DamaiIndonesiaku. Pas banget pula, kini sedang Ramadhan dan sebentar lagi Idul Fitri — momen bersalaman dan maaf-maafan saat lebaran, menepikan perbedaan, dan kembali kompak-kompakan.

Yuk terus pelihara dan gaungkan semangat serupa. Kita satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Kita memang berbeda-beda, tapi tetap satu jua! Jangan sampai rusuh, jangan malah terpecah-belah. Karena Indonesia #DamaiIndonesiaku.

Pernyataan tagar di atas ternyata jauh terbalik dan tidak diindahkan dua belah pihak baik massa maupun aparat, sehingga puncak aksi di depan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI, Jakarta Pusat, Rabu malam pecah, massa dan polisi pun kembali bentrok. Padahal satu hari sebelumnya aksi kekerasan juga terjadi dan menelan korban jiwa dari pihak demonstran dan pembakaran hampir 10 kendaraan.

Bentrokan antara massa Kedaulatan Rakyat dengan aparat kepolisian akhirnya tak bisa dihindari lagi. Bentrokan itu pecah sekitar pukul 20.00, Rabu (22/5) malam. Awalnya kondisi kondusif di antara kedua pihak. Orasi dan salawat para pedemo berjalan lancar sejak Rabu pagi.

Suasana tersebut mulai mencekam saat aparat kepolisian maju selangkah sembari menghentakkan tamengnya ke tanah. Hal tersebut membuat massa kaget dan meminta agar polisi tidak maju lagi. Tetapi polisi tetap maju sehingga massa melawan.

Massa pun yang didatangi polisi itu akhirnya mundur teratur. Namun, dari belakang massa melempari polisi dengan botol aqua. Setelah itu, massa yang lainnya ikut melempari dengan kayu, bambu dan benda yang dibakar.

Meski menerima serangan, polisi hanya diam. Bahkan, saat petasan menghempas tameng dan barisan Brimob, aparat penegak hukum itu pun hanya berlindung di balik tameng. Tetapi kondisi itu hanya bertahan sekitar 15 menit.

Polisi akhirnya menembak dengan gas air mata. Desingan peluru gas air mata ditembakkan puluhan kali sampai massa luluh lantak.

Massa pun mengambil kesempatan itu dengan membakar sejumlah benda di jalanam. Massa juga turut mengambil batu sambil melempari petugas. Hingga berita ini diturunkan sekitar pukul 21.45 Wib, bentrokan antara petugas dengan massa belum berhenti, aksi lemparan dari sejumlah demonstran masih berlangsung.

Aksi sejak Rabu pagi juga terjadi di beberapa titik, diantaranya di kawasan di sekitar Jalan Jatibaru, Tanah Abang, termasuk titik yang mesti dihindari. Pasalnya, di kawasan ini sekelompok massa bertindak anarkistis dan bentrok dengan polisi. Selain itu, pengguna KRL Commuter Line yang ingin ke Stasiun Tanah Abang dan Palmerah disarankan mencari stasiun alternatif.

Selain itu di flyover Slipi juga termasuk wilayah yang dikuasai massa perusuh. Massa tampak melempari polisi dengan bebatuan. Polisi lantas menembakkan water cannon guna mendesak massa perusuh tersebut.

Massa terlihat mundur ke gang-gang di sekitar lokasi. Polisi terus berjaga di gang-gang itu. Diketahui pula, massa ini juga sedang mengarah ke gedung DPR RI. Lokasi paling banyak berkumpul massa di area sekitar gedung Bawaslu Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.
Akibat aksi rusuh Selasa (21/5) dan Rabu (22/5) malam polisi akhirnya menetapkan 257 tersangka kerusuhan 22 Mei.

“Di Bawaslu ada 72 tersangka. Kemudian di petamburan ada 156 tersangka. Kemudian di gambir ada 29 tersangka. Jadi keseluruhannya ada 257 tersangka,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Rabu (22/5).

Ratusan tersangka itu ditangkap polisi di sejumlah titik kerusuhan, di antaranya dari pelaku kerusuhan di depan Bawaslu, asrama polisi, dan Petamburan. “Ada yang pembakaran asrama, ada yang melawan petugas,” kata Argo. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya celurit dan bom molotov.

“Kemudian di Bawaslu itu kenapa kita lakukan penangkapan, karena yang bersangkutan melawan petugas yang sedang bertugas, kemudian memaksa masuk ke Bawaslu,” ujar Argo lagi. Sementara itu, massa yang diamankan di Petamburan karena menyerang asrama Brimob. Massa di sana membakar 10 unit mobil. “Kemudian penyerangan di Polsek Gambir,” imbuhnya.

Dari ketiga TKP tersebut, polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Barang bukti itu di antaranya bendera hitam, molotov, hingga amplop dan lain-lain. Sebanyak 257 orang ini juga telah ditetapkan menjadi tersangka.

Politikus PAN Amien Rais menjadi orator dalam aksi 22 Mei di depan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI. Dalam orasinya, Amien mengatakan, ada tujuh orang yang meninggal pascabentrokan massa dengan aparat kepolisian.

Amien lantas berjanji akan mengejar pelaku yang membunuh para korban. “Sebanyak 200 sahabat kami yang masih ada di rumah sakit, kami doakan. Mudah-mudahan 7 mujahid khusnul khatimah diampuni dosanya, diberikan luas kuburnya, diberi imbalan hebat di hari akhirat,” kata Amien.

Amien mengatakan, insiden tadi malam telah merusak tatanan demokrasi yang susah payah dibangun. Dia menilai penembak para korban yang meninggal bukan aparat kepolisian secara resmi. Namun, dia mengaku akan mengejar penembak itu. “Insyaallah, kami kejar sampai ke ujung bumi. Siapa mereka itu, kemudian kami yakin dengan Allahuakbar, itu tidak ada kami takuti sama sekali,” tandas dia.

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Andre Rosiade meminta kepolisian membuka investigasi atas pecahnya kerusuhan setelah unjuk rasa di Bawaslu, Rabu (22/5) pagi.

Pecahnya kerusuhan itu mengakibatkan sejumlah warga meninggal dunia. “Kami mendorong pihak kepolisian melakukan investigasi apa penyebab jatuhnya korban, kami BPN tidak ingin menyalahkan pihak manapun,” kata Andre.

Andre berharap, jumlah korban meninggal dunia tidak bertambah banyak. BPN Prabowo – Sandiaga meminta semua pihak, saling menahan diri menghindari bentrokan. “Kami seluruhnya tentu berharap, berjalan aman, tentram, damai, dan kondusif. Tentu tidak ada pihak BPN dan seluruh rakyat Indonesia ingin terjadinya kerusuhan seperti malam tadi,” ungkap dia.

Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais mengkritik kepolisian atas kerusuhan yang terjadi setelah demonstrasi di depan markas Bawaslu RI, Rabu (22/5) dini hari.

Amien menilai kerusuhan disebabkan oleh kepolisian yang salah merespons massa. “Maaf kalau Anda masih punya sedikit hati nurani, jangan menembak. Negara bisa bubar kalau begini caranya, saya ingatkan. Jangan main-main,” kata Amien dalam video di akun Instagram @amienraisofficial.

Amien lalu membawa-bawa nama umat Islam. Menurutnya, umat Islam tidak akan melakukan aksi kekerasan di saat melakukan demonstrasi.

Namun, masih melibatkan umat Islam, Amien meminta kepolisian jangan terus memancing umat. Kepolisian seharusnya tidak berbuat represif dan berlaku kasar. “Itu kalau Anda mulai, mereka akan jadi tawon, mereka jadi lebah yang luar biasa,” ucap dia.

Selain dari pihak demonstran, empat polisi mengalami luka saat menjaga kericuhan di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Mereka terluka akibat terkena pecahan kaca dan lemparan batu. Empat polisi yang luka dirawat di Wisma 77, Jl Brigjen Katamso, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (22/5). Tampak kaki dan lengan para personel itu dililit perban.

Lokasi keempat polisi dirawat itu tak jauh dari titik kerusuhan. Mereka mengalami luka saat mengamankan ricuh di kawasan Slipi.

Salah satu polisi yang terluka, Bripda Damanik dari satuan Sabhara Polda Jambi, mengatakan luka tersebut akibat pecahan kaca dan lemparan batu dari massa. Bripda Damanik berjaga di Jl Brigjen Katamso arah Tanah Abang. “Ini kena pecahan kaca, ini ada yang kena batu. Saya berjaga di sebelah sana (Jl Brigjen Katamso, Slipi),” kata Bripda Damanik.

Hingga pukul 19.09 WIB, massa terlihat masih bertahan di Jl Brigjen Katamso arah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Massa terlihat terus melempari polisi dengan batu. Massa terlihat membakar sesuatu. Polisi tetap membuat barikade di lokasi kerusuhan.

Wakil Ketua DPR sekaligus Waketum Gerindra Fadli Zon sempat berorasi di hadapan massa aksi 22 Mei depan gedung Bawaslu RI, Jakarta Pusat. Fadli mengatakan tidak boleh ada provokasi.

“Alhamdulillah kita berada di tempat ini pada Ramadhan. Saudara-saudara datang dari berbagai tempat karena merasa yakin dan benar,” kata Fadli di atas mobil komando, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (22/5).

Fadli mengatakan kedatangan massa untuk menuntut keadilan sesuai dengan konstitusi. Fadli yakin massa yang datang merupakan warga yang baik. “Tidak boleh ada yang merampas hak rakyat. Saya yakin saudara datang dengan ikhlas untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia,” ujarrnya.

“Mereka ini adalah rakyat kita jangan sampai ada yang meninggal dunia. Mari kita musyawarah. Kita tahu yang terjadi ini penuh kecurangan,” ujarnya.

Fadli juga menepis jika ada menyebut massa yang datang merupakan bayaran. Fadli kembali mengimbau untuk tidak terprovokasi. “Saya sebagai pimpinan DPR terus berusaha. Kita ingin segala sesuatu berjalan dengan baik. Saudara yang datang dari Aceh sampai Papua tidak dibayar. Fitnah fitnah kalau ada yang dibayar. Saudara di sini untuk menuntut keadilan. Saya yakin pimpinan kita adalah yang dilakukan sesuai dengan konstitusi. Tidak boleh ada provokasi. Bahwa pemilu kita jauh dari ciri-ciri jurdil,” ujarnya.

Selain itu, Fadli juga meminta aparat keamanan untuk tidak melakukan kekerasan. Fadli meminta semua pihak bersama menjaga situasi. “Saya minta kepada aparat keamanan jangan sampai ada kekerasan karena yang saudara miliki adalah milik rakyat. Kita harus bersama menjaga keadaan lebih baik,” ujarnya.

Fadli lalu meminta massa untuk bubar. Dia berharap tidak ada lagi korban jatuh. “Perjuangan bukan sampai hari ini. Oleh karena itu balik ke markas masing-masing untuk berkonsolidasi. Tunggu arahan tokoh-tokoh dan ulama supaya tidak ada jatuh korban lagi,” tuturnya. Fadli dan Neno Warisman sudah meninggalkan lokasi aksi.

Pada aksi dua hari ini, polisi menyita sejumlah barang bukti dari massa rusuh dari tiga lokasi. Barang bukti itu di antaranya ada amplop putih yang berisi sejumlah uang. “Tadi saya sampakan di Petamburan ada uang masuk di amplop dan ada nama-namanya (di) amplop untuk siapa, uangnya Rp200-500 ribu di amplop isi uang ini,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono lagi.

Argo mengatakan, uang tersebut diamankan dari massa yang diamankan di Petamburan, Jakarta Pusat. Selain uang di dalam amplop, polisi juga mengamankan uang untuk operasional massa. Kemudian ada uang Rp5 juta juga untuk operasional untuk yang di Petamburan,” imbuhnya.

Total ada 257 orang yang ditangkap di Petamburan, Gambir dan di depan Bawaslu, Jakarta Pusat pada dini hari tadi. Mereka sudah ditetapkan sebagai tersangka. “Yang bersangkutan dikenakan pasal 170 KUHP, 212, 214, dan 218 KUHP. Yang di Petamburan dikenakan Pasal 187 KUHP yaitu pembakaran,” kata Argo.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bicara soal aksi yang berujung ricuh sejak kemarin. Jokowi menegaskan berkewajiban memastikan stabilitas politik dan keamanan tetap terjaga.

“Sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, saya mempunyai kewajiban untuk menjaga stabilitas politik dan stabilitas keamanan,” kata Jokowi dalam jumpa pers di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (22/5).

Jokowi membuka diri bagi siapapun untuk bekerja sama. Tapi, Jokowi menegaskan tidak akan mentolerir perusuh. “Tidak ada pilihan, nggak ada pilihan, TNI dan Polri akan menindak tegas sesuai dengan aturan hukum yang berlaku,” ujarnya.

Terpisah, Capres Prabowo Subianto meminta para pendukungnya tidak melakukan kekerasan fisik saat berdemonstrasi terkait hasil Pilpres 2019. Tapi Prabowo juga mengingatkan TNI dan Polri tidak bertindak represif.

“Saya tegaskan kepada semua yang masih mau mendengar saya, para pendukung saya, sekali saya tegaskan hindari kekerasan fisik berlakulah sopan santun. Hormatilah pejabat pejabat penegak hukum dan jangan sekali-kali menggunakan kekerasan,” kata Prabowo dalam jumpa pers di Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jaksel, Rabu (22/5).

Prabowo tak ingin aksi kekerasan pada dini hari dan pagi tadi terulang. Prabowo menyebut peristiwa kekerasan 22 Mei mencoreng marwah bangsa.

(*/nag/net)