Empat Hari, Dua Minimarket di Cianjur Digasak Maling

MAKIN MARAK: Petugas kepolisian meminta keterangan dan memeriksa tempat kejadian perkara (TKP) tak lama sesaat setelah pencurian terjadi.

RADARCIANJUR.com – Belum genap sepekan, namun aksi pencurian sudah terjadi di dua minimarket. Uang jutaan rupiah menjadi targetnya. Pelaku pun tak segan-segan menodongkan senjata api kepada karyawan minimarket.

Yang terbaru dan masih hangat, pencurian terjadi di salah satu minimarket di Kelurahan Bojongherang, Kecamatan Cianjur pada Senin (27/5) sekitar pukul 20:00 WIB tadi malam. Pencurian tersebut bermula ketika salah seorang pengunjung berpura-pura hendak ke toilet.

Pelaku yang diketahui seorang pria sekitar usia 20 tahun itu melihat situasi di minimarket tengah ramai-ramainya di dalam minimarket kala itu. “Jadi si pelaku pura-pura ingin ke toilet saat melihat toko sedang ramai. Dengan adanya kesempatan, si pelaku langsung mencuri uang korban yang berada di dalam tas gudang minimarket itu,” tutur Adi Salah seorang karyawan minimarket kepada Radar Cianjur.

Ia mengaku, uang yang digasak dari dua tas karyawan itu sebanyak Rp3,7 juta yang berada di dalam gudang yang sedang digantungkan. “Memang kejadiannya tidak begitu lama. Sekitar lima menit kurang, si pelaku leluasa mengambil uang THR karyawan,” ungkapnya.

Sebelumnya, pada Jumat (24/5) telah terjadi perampokan mini market di wilayah Hanjawar, Cipanas. Dilaporkan dari akun instagram @yeliherlija, perampok berjumlah tiga orang. Dua orang masuk serta membawa sajam dan senjata api rakitan menodong ke pegawai mini market.

Para pelaku berhasil menggasak uang puluhan juta serta yang lainnya yang satu menunggu di mobil, setelah mendapatkan hasil curiannya mereka langsung kabur. Kejadian terjadi sekitar pukul 05:25 pagi. Pelaku berhasil menggasak uang puluhan juta dari brankas setelah menyekap dua karyawan minimarket.

Minimarket Indomaret dirampok Jumat subuh hari, sekitar pukul 05.30 WIB. Saat itu, dua karyawan bersiap-siap membuka minimarket. Satu orang berada di bagian kasir dan seorang lagi di lorong dalam minimarket.

Tiba-tiba, dua pria datang dan mengancam keduanya. Setelah berhasil menyekap kedua karyawan, pelaku membobol brankas yang berada di bagian belakang supermarket. Pelaku pun berhasil menggasak uang yang diperkirakan berjumlah Rp22 juta, hasil penjualan yang disimpan di dalam brankas. “Sesuai laporan awal, uang yang dirampok kurang lebih Rp22 jutaan. Pelaku masih dalam penyelidikan kami. Pelaku yang dilihat di video CCTV hanya satu orang,” kata Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Pacet, Suhartono saat dikonfirmasi.

Polisi masih menyelidiki kasus perampokan dini hari itu dengan memeriksa dua orang karyawan yang bertugas saat kejadian. Polisi juga menyelidiki rekaman CCTV di lokasi. “Pelaku belum diketahui karena kami masih melakukan penyelidikan dari keterangan karyawan dan rekaman CCTV di minimarket,” kata Suhartono. Dari pantauan CCTV, para pelaku diduga membawa senjata tajam berupa golok dan senjata api rakitan.

Maraknya sejumlah tindak kriminalitas jelang Ramadan ini menuai perhatian Kriminolog Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur, Kuswandi. baginya, angka kejahatan pada saat menjelang Lebaran biasanya meningkat. Pola ini berulang tiap tahun dan biasanya ada sejumlah jenis kejahatan yang marak terjadi.

“Peningkatan tersebut setidaknya dipicu sejumlah faktor, seperti tuntutan kebutuhan hidup semakin tinggi pada Hari Raya. Tak ayal, sejumlah individu yang terpepet menempuh jalan pintas,” ujarnya.

Berdasarkan pola yang terjadi pada tahun sebelumnya, ada lima kasus kriminal yang marak jelang Lebaran. Pertama, pencurian
Pencurian kerap terjadi terutama di rumah kosong. Rumah yang ditinggal penghuninya karena mudik menjadi pilihan utama para pencuri. Tak jarang, ketika pulang, pemudik harus mendapati kenyataan rumahnya telah diacak-acak polisi.

“Oleh karena itu, bagi para pemilik rumah yang hendak mudik perlu meningkatkan keamanan rumah atau dengan berkoordinasi dengan pihak kepolisian,” tuturnya.

Kedua, perampokan. Perampokan marak menjelang Lebaran. Para perampok biasanya mengincar nasabah bank yang mencairkan uang dalam jumlah besar. Apabila para nasabah mengambil uang dalam jumlah besar, baiknya meminta pengawalan polisi demi keamanan. Ketiga, penjambretan dan pencopetan. Kerap terjadi di terminal dan tempat-tempat publik. Pencopet dan penjambret menargetkan tas dan barang-barang kecil seperti ponsel atau dompet.

Selanjutnya ada gendam atau hipnotis. Kejahatan tipe ini biasanya menargetkan pemudik sebagai korban. Penggendam biasanya beraksi di terminal atau tempat keramaian. “Mereka membuat korban tidak berdaya dan ling-lung sehingga dapat mengambil barang berharga milik korban. Beragam teknik digunakan penggendam, antara lain tepukan pada bagian punggung, cara berbicara yang intensif, dan lainnya,” jelasnya.

Terakhir, pembiusan. Target korban dan wilayah aksi kejahatan jenis ini kurang-lebih sama seperti gendam atau hipnosis: pemudik di tempat keramaian. Pelaku akan berusaha akrab dengan calon korbannya seperti dengan mengajak ngobrol terutama dengan topik-topik yang emosional, seperti kesamaan tujuan.

Setelah itu, pelaku akan menawarkan minum atau makan yang sudah diberi obat bius. Apabila korban mengonsumsi pemberian tersebut, tak ayal akan jatuh dalam pengaruh obat. Ketika tak sadarkan diri, pelaku mengambil barang berharga korban.

Kasat Reskrim Polres Cianjur, AKP Budi Nuryanto menuturkan, masyarakat diimbau untuk tetap waspada. Pasalnya, jelang hari raya Idul Fitri kerap kali menjadi kesempatan bagi para pelaku kejahatan. “Ini (jelang lebaran) lagi musim yang seperti ini (pencurian),” tuturnya saat berada di minimarket kawasan Bojongherang, Kecamatan Cianjur tadi malam.

(dan)