Gula Aren di Cianjur Anjlok, Petani Menjerit

TERANCAM: Bulan Ramadan tahun ini harga gula aren di pasaran mengalami penurunan. Akibatnya, petani gula aren terancam gulung tikar lantaran biaya produksi malah makin mahal. Untuk kayu bakar saja, mereka harus membayar sampai dengan Rp25 ribu per ikat.

RADARCIANJUR.com – Mendekati hari raya Idul Fitri 2019, harga gula aren anjlok di kisaran Rp10 ribu sampai Rp12 ribu rupiah per kilogramnya. Kondisi tersebut membuat para petani gula aren menjerit.

Kirman (50) salah seorang petani gula aren di Naringgul mengaku, harga pasaran gula aren saat ini sangat tidak sebanding dengan biaya produksi. Saat ini, untuk harga satu ikat kayu bakar saja sudah hampir Rp25 ribu.

“Sudah mendekati lebaran, harga gula aren malah menurun, biasanya menjelang puasa di kisaran Rp15 ribu per kilogram,” tuturnya.

Kirman menambahkan, kondisi ini berbeda dengan tahun lalu dimana saat menjelang puasa harga gula aren di pasaran mengalami kenaikan. Karena itu, ia berharap agar pemerintah bisa ikut turun tangan terkait kondisi ini.

“Mudah mudahan saja harga gula aren kembali naik. Sebab kami sebagai petani gula kalau harga gula aren menurun terus bisa gulung tikar,” Katanya.

Selain itu, Kirman juga berharap Pemkab Cianjur bisa ikut mendorong gula aren menjadi salah satu produk asli Cianjur dan menjadikannya produk unggulan.

“Sebagin besar warga masyarakat Kecamatan Naringgul umumnya petani gula aren. Setidaknya pemerintah ikut mendorong dan menopang, baik anggaran maupun mempasilitasi petani gula aren, sehinga para petani gula akan lebih sejahtera,” pintanya.

Hal tak jauh berbeda juga dikatakan salah seorang tengkulak gula aren, Oyon (44). Menurunnya harga gula Aren di bulan puasa tahun ini, diyakininya akan berdampak kepada para petani gula.

“Beruntungnya kami sudah punya langganan. Sehingga ketika harga mengalami naik-turun, masih bisa tertolong,” bebernya.

Oyon melanjutkan, saat ini, harga beli dari petani mencapai Rp12.000 hingga Rp12.500 per kilogramnya. Sedangkan harga jual ke pasaran di kisaran Rp14.000. “itu juga masih harga kotor, belum dipotong ongkos jalan,” tuturnya.

Tak hanya itu, Oyon juga menyebut bahwa harga beli petani tidak menentu dan ditentukan kualitas gula aren produksinya. “Harapanya harga penerimaan di kota bisa naik, supaya kami juga ketika beli dari petani bisa naik juga harganya,” katanya.

(jay)