Cek di Sini Tips Kelola Uang THR dan Gaji

ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Setiap tahun umumnya para karyawan bersuka cita mendapatkan uang Tunjangan Hari Raya (THR) 1 kali gaji ditambah dengan gaji pokok. Dana ini bisa dimanfaatkan untuk merayakan Hari Idul Fitri bersama keluarga. Sebut saja, kebutuhan mudik, baju baru, bahkan penganan saat Lebaran.

Alhasil, karena terlalu banyak uang di genggaman, tak sadar tiba-tiba THR dan gaji semakin tiris pasca Lebaran. Lantas, bagaimana menyiasati pengeluaran agar lebih bijaksana di kala THR dan gajian sudah semakin tiris?

Perencana Keuangan dari Universitas Indonesia (UI) Zaafri Husodo mengatakan, porsi penggunaan uang THR idealnya 60:40. Maksudnya yaitu, 60 persen dipergunakan untuk membayar kewajiban, dan sisanya untuk kebutuhan Lebaran.

“Kalau THR sih mestinya idealnya 60:40. Porsi 60 untuk utang-utang konsumtif seperti kartu kredit dan 40 persen untuk kebutuhan Lebaran hingga biaya mudik,” tegasnya kepada JawaPos.com, Jumat (7/6).

Dia menjelaskan, utang konsumtif ini misalnya tagihan kartu kredit. Saat ini, tagihan kartu kredit menjadi salah satu kewajiban masyarakat konsumtif rentang 25-40 tahun.

Biasanya untuk biaya kulineran, fesyen, dan berwisata. Hal ini kerap membuat pengeluaran masyarakat sering tak terkendali.

“Utang konsumsi seperti fashion, traveling, hingga, kulineran bisa 70-75 persen menggunakan kartu kredit bahkan ada yang dibayar dengan sistem pay later. Itu bebannya berat,” jelas Zaafri.

Zaafri menambahkan, masalahnya, utang konsumtif ini kerap membuat sebagian uang THR yang seharusnya bisa ditabung, menjadi menguap sia-sia.

Ketika Uang THR Sudah Habis

Maka, katanya, sayang sekali jika uang THR cepat habis untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Jika memang sudah habis, maka hanya tinggal mengandalkan gaji yang sudah ada alokasinya untuk membayar segala keperluan rutin seperti cicilan rumah, mobil, listrik dan kebutuhan lainnya.

“Ya sisanya lebih kepada agar bertahan hidup saja mengandalkan sisa gaji,” kata Zaafri.

Perlukah Meminjam Uang atau Gadai Barang?

Menurut Zaafri, sebaiknya masyarakat menghindari atau menahan diri untuk meminjam uang atau berutang lewat aplikasi online. Sebab, bunga yang harus dibayarkan di kemudian hari justru akan menambah beban.

“Kalau sampai pinjaman online, enggak disarankan ya. Bunga efektifnya sangat tinggi. Berat kan beban kita setelah musim lebaran usai,” kata Zaafri.

Sementara jika memang memiliki harta atau emas, maka pergi ke pegadaian bisa menjadi salah satu alternatif solusi. Namun, pilihan inipun perlu dipertimbangkan urgensinya.

“Kalau ekstremnya besok enggak makan karena enggak ada uang. Itu boleh lah berutang atau gadaikan. Tetapi kalau enggak perlu banget ya untuk bertahan saja,” pungkasnya.

(jpg/dep)