Arus Balik, Padat tapi tetap Lancar

BERLAKUKAN ONE WAY: Kemarin, sistem one way masih diberlakukan di Puncak. Jumlah kendaraan terpantau ramai namun arus lalulintas tidak mengalami kemacetan yang berarti. Foto: SOFYANSYAH/RADAR BOGOR

RADARCIANJUR.com – Memasuki H+4 lebaran atau hingga Minggu (9/6), sejumlah ruas jalan di Kabupaten Cianjur terpantau ramai lancar. Kendati ramai, namun arus balik di tahun ini meningkat hingga 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di jalur Cianjur-Sukabumi misalnya. Kondisi arus balik kendaraan mengalami kepadatan. Kepadatan arus balik tersebut didominasi kendaraan dari luar kota, seperti Bandung, Jakarta dan Bogor.

Selaian meningkatnya volume kendaraan arus balik, kepadatan kendaran juga dipengaruhi adanya beberapa persimpangan yang menghambat kelancaran lalu lintas kendaraan arus balik. Seperti halnya di persimpangan Warungkondang, Rancagoong dan Gekbrong, di beberapa persimpangan tersebut, relatif banyak masyarakat dan kendaraan lokal yang menyebrang ruas jalan nasional saat dilintasi arus balik para pemudik. Namun, antrean kendaraan tersebut tidak sampai menimbulkan kemacetan parah.

Perwira pengendali Pos Pam 5 Warungkondang, Ipda Asep Mahpud mengatakan, memasuki H+4 lebaran, arus lalulintas di Jalan Cianjur-Sukabumi masih lancar dan terkendali. “Kendaraan yang mengarah ke Cianjur atau sebaliknya cukup ramai, namun para anggota juga masih tetap eksis mengatur lalulintas secara bergantian sehingga terhindar dari adanya penumpukan kendaraan,” katanya.

Menurut Asep, volume kendaraan pada H+4 ini bisa dikatakan menurun jika dibandingkan dengan H+3 kemarin, dimana arus lalulintas sempat tersendat dan antrian kendaraan cukup panjang. “Kepadatan kendaraan H+3 kemarin dampak dari One Way jalur puncak, karena kendaraan yang menuju Jakarta dialihkan ke jalur Sukabumi dan Jongol,” tuturnya.

Lanjutnya, jika dibandinkan dengan hari-hari biasa, volume kendaran yang melintas di Jalan Cianjur-Sukabumi pada musim mudik ini meningkat hingga 50 persen. “Saat arus mudik dan balik ini, volume kendaraan meningkat, karena itu para pengguna jalan harap berhati-hati dalam berkendara,”pungkasnya.

Sementara itu, di Jalan Cianjur-Bandung arus balik terpantau ramai lancar. Kapolsek Karangtengah, Kompol Agus Jamaludin melalui salah satu anggota bertugas, Iptu M A Racman mengatakan, arus balik diprediksi puncaknya akan terjadi kemarin dan hari ini. Kemungkinan para pemudik akan beraktivitas kerja kembali.

Peningkatan volume kendaraan seimbang, baik motor dan mobil. Kalau macet merayap bila di jalur Cipanas (puncak,red) diberlakukan sistem one way. “Nah jadi jalur Cianjur-Bandung terkena buntutnya, begitu pun selanjutnya dari mulai Kecamatan Sukaluyu hingga Haurwangi. Kalau dari pagi hingga siang ramai lancar terpantau,” katanya.

Sistem ‘One Way’ di jalur Cianjur Timur diberlakukan dari mulai Jalan Baru Sukaluyu hingga Jalan Raya Jonggol, itu juga diberlakukan kalau memang sudah darurat macet total. Tapi selama ini kemacetan tidak begitu, seperti terpantau pagi hingga sore tidak begitu padat, artinya bisa diatasi dengan baik.

“Hanya saja kalau sistem one way dari jalur puncaknya diberlakukan imbasnya akan ke jalur Timur, seperti pernah terjadi malam hari dari pukul 21:00 WIB hingga 02:00 WIB padat merayap macet. Sampai tugas di lapangan sibuk,” ungkap Iptu Racman.

Ditemui terpisah, Hendra (30) salah satu relawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cianjur memaparkan, kondisi terpantau saat ini terlihat ramai lancar. Kalau mengenai Kecelakaan Lalu Lintas (KLL) tercatat per hari ada sekitar dua hingga tiga pengemudi, mayoritas motor kebanyakan luka ringan. “Tercatat dari mulai tanggal 1 Juni hingga 8 Juni 2019 saat ini hal sama seharinya rata-rata dua pengendara mengalami KLL,” akunya.

Sementara, Kasat Lantas Polres Cianjur, AKP Adhimas mengatakan, soal one way itu tergantung situasi dan kondisi. Sistemk one way hanya diberlakukan hingga kemarin. “Kalau memang situasi kondisi sudah memang mendesak kita berlakukan sistem tersebut,” katanya.

Ia mengimbau, setiap pengedara tetap mentaati peraturan. “Jangan ugal-ugalan di jalan, tetap mematuhi peraturan lalu lintas,” sarannya.

Meski sudah memasuki musim arus balik Lebaran Idul Fitri 1440 Hijriah, jumlah kendaraan di Jalur Puncak Cisarua Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tetap didominasi oleh kendaraan yang mengarah ke Puncak, dibanding arah sebaliknya, menuju Jakarta. Jumlah tersebut dilihat berdasarkan data Polres Bogor, Minggu (9/6), mengenai kendaraan yang melintas di Gerbang Tol Ciawi sejak tanggal 5 dan 6 Juni 2019 atau hari “H” Idul Fitri sampai dengan tanggal 7 Juni atau “H+1” Idul Fitri.

Tercatat ada sebanyak 31.220 kendaraan pada hari “H” (5/6/2019), dan 36.330 kendaraan (6/6/2019), pada hari “H+1” tercatat 31.321 kendaraan yang mengarah ke Puncak Bogor dari gerbang Tol Ciawi. Sedangkan arah sebaliknya tidak lebih banyak, yakni hari “H” sebanyak 19.663 dan 24.103, serta 30.096 kendaraan pada “H+1”.

Kondisi tersebut membuat jalur Puncak Cisarua Bogor kerap selalu dipadati kendaraan. Pantauan wartawan dari Simpang Gadog Bogor, antrean kendaraan menuju Puncak masih terus terjadi hingga siang hari, meski tengah diberlakukan satu arah ke atas.

Sebelumnya, one way dari Jakarta arah Puncak diberlakukan sejak pukul 06.30-20.00 WIB, Sabtu (9/6) lalu. One way menyebabkan kendaraan di Cipanas tertahan. Kemacetan mengular hingga lebih 11 kilometer. Banyak pengendara yang mengeluhkan kemacetan parah di kawasan Puncak ini. Beberapa di antaranya terjebak kemacetan hingga 12 jam.

Kakorlantas Polri Irjen Refdi Andri sebelumnya sudah bicara terkait kemacetan parah di kawasan Puncak ini. Dia mengatakan, polisi dan pihak terkait sudah berupaya maksimal melakukan pengaturan lalu lintas, namun badan jalan memang tidak sebanding dengan tingginya volume kendaraan.

“Di Puncak itu memang kepadatan-kepadatan itu bukan hanya di hari ini saja, memang rentang waktu (rekayasa) yang diberlakukan sekarang itu sama dengan rentang waktu yang dilakukan hari hari lalu, hanya kepadatannya dan pengunjungnya saja yang bertambah sehingga terkesan itu panjang sekali,” kata Refdi kepada wartawan, di Kuningan, Jawa Barat, Sabtu (8/6).

(mat/dil/dtk)