Sumur Warga Ciherang Tercemar Bensin SPBU, Ini Dampaknya

TERKONTAMINASI: Warga menunjukkan air sumur yang diduga tercemar bensin dari SPBU di Desa Ciherang, Pacet, yang berada tak jauh dari permukiman penduduk.

RADARCIANJUR.com -Sejumlah warga di RT 01/RW 01, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet tidak dapat lagi memanfaatkan air sumur yang selama ini mereka miliki. Pasalnya, air sumur di lingkungan tersebut tercemar dan bau bensin.

Warga menduga, air sumur sejumlah warga itu telah tercemar BBM yang berasal dari Stasiun Pengisuan Bahanbakar Umum (SPBU) No 34.43208 yang terletak di Jalan Raya Ciherang, Pacet.

Ludi (35), warga Kampung Panyaweuyan RT 01/RW 01, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet mengatakan, kondisi air sumur yang mengandung minyak dan berbau bensin itu sudah mereka alami hampir dua bulan lamanya. Bau bensin di air sumur itu pun menyengat sejak pagi sampai malam.

“Baunya menyengat sampai bikin mual. Bahkan kaki saya pun jadi gatal-gatal dan koreng (borok, red),” ujarnya kepada Radar Cianjur, Senin (10/6).

Dengan kondisi tersebut, pria yang bekerja di BUMDes Ciherang ini menyebut, warga terpaksa menggunakan air galon untuk minum. Bahkan untuk mencuci beras serta konsumsi lainnya, warga tak jarang harus pergi ke rumah saudaranya yang air sumurnya tidak tercemar.

“Ada sekitar 20 sumur yang telah terdata dan sudah tercemar di lingkungan kami ini. Dan hari ini (kemarin, red) nambah lagi satu jadi 21 sumur,” bebernya.

Lebih lanjut ia mengatakan, warga pun telah melaporkan kejadian ini ke pihak RT, RW, Pemerintah desa, Dinas Lingkungan Hidup Cianjur, dan ke pengelola SPBU dimaksud.

Bahkan hari ini (kemarin, red), pihak SPBU telah datang untuk mengambil sampel air. Akan tetapi, sampai saat ini warga belum mendapatkan kompensasi dari pihak SPBU.
“Kita inginnya ada penanganan yang cepat, karena dampak pencemaran ini kan sudah dua bulan,” kesal Ludi.

Keluhan yang sama juga diungkapkan warga lain, yaitu Asep Beny. Pria 43 tahun ini mengaku matanya menjadi merah (iritasi, red) akibat sering menggunakan air di sumur miliknya untuk mandi yang sudah tercemar.

“Ya nggak enaklah kalau misalnya tiap hari semisal gosok gigi dan mandi tapi air bau bensin. Bahkan anak saya juga badan dan kakinya menjadi bintik-bintik putih,” kata dia.

Sementara itu, Deri warga di kampung yang sama menambahkan, bahwa kejadian ini mereka alami ini terjadi sejak SPBU di Ciherang itu mulai aktif kembali. Sebelumnya, SPBU itu sempat tidak aktif atau tidak beroperasi lantaran disebut-sebut tengah bermasalah.

“Kebetulan SPBU itu persis berada di seberang pemukiman warga Panyaweuyan. Seumur-umur, baru kali ini air sumur menjadi bau (bensin). Dulu nggak pernah ada masalah,” kata dia.

Jika hasil lab menunjukkan bahwa air tidak layak konsumsi, warga berharap agar pihak SPBU mau memberikan ganti rugi dengan cara memperbaiki SPBU sehingga air sumur warga bisa normal kembali.

Kalaupun hal tersebut tidak bisa dilakukan, maka setidaknya pihak SPBU mau memberikan bantuan berupa air besih kepada warga, serta kompensasi kesehatan bagi warga yang terdampak pencemaran tersebut.

Sementara, Sekretaris Desa Ciherang, Zaenal Arifin mengatakan, pemerintah desa telah mengajukan kembali aduan yang telah diterima dari sejumlah warga terkait hal ini Bahkan Pemdes pun meminta ke pihak Puskesmas di Pacet untuk menguji air yang diduga tercemar bensin tersebut.

Selain itu, pihaknya juga telah melaporkan kondisi tersebut ke Dinas Lingkungan Hidup Cianjur untuk dilakukan tindakan selanjutnya agar bisa lebih cepat ditangani.

“Kami dengan perwakilan warga dan pihak SPBU telah bersama-sama untuk melaporkan keadaan yang tengah terjadi di lingkungan Pemerintah Desa Ciherang ini,” paparnya.

Ditemui terpisah, Tim Sidak Keliling Kantor Pusat SPBU No 34.43208, Hendrik Tanjung mengatakan, secara peraturan yang telah ditempuh sebelum SPBU ini beroperasi, tinggi tanki pendam itu dua meter, atau sudah sesuai aturan. Menurutnya, pihak SPBU juga telah memiliki AMDAL yang telah memiliki sertifikat.

“Jadi kalau secara garis besarnya, pihak SPBU juga telah melaporkan ke dinas terkait, guna penanganan lebih lanjut masalah ini,” ujar Hendrik.

Ditambahnya, pihak SPBU juga telah melaporkan kondisi ini ke pemerintah desa, bahkan juga ke pihak kepolisian. Karena sejauh ini, menurutnya, memang belum menemukan adanya dugaan pencemaran lingkungan terhadap sumur warga tersebut.

Bahkan, lebih lanjut ia mengatakan, jika memang dugaan itu terjadi kepada warga, pihaknya akan segera menangani sesuai aturan dan harapan dari warga.

“Kita akan memperbaiki dan berbenah ketika adanya dugaan (terkontaminasi) itu nanti. Dan bahkan jika ada yang komplain, kami juga akan terima,” pungkasnya.

(dan)