Hanya Gerindra Boleh Usung Cabup, Ini Alasannya

Pilkada 2020

RADARCIANJUR.com – Hasil pleno rekapitulasi pemilihan legislatif (pileg) Kabupaten Cianjur 2019 menyatakan ada tiga partai politik (parpol) dengan perolehan jatah kursi terbanyak yaitu, Gerindra 11 kursi, Golkar 8 kursi dan Nasdem 6 kursi. Istimewa bagi Gerindra, parpol berlambang kepala burung Garuda ini mampu mengusung calonnya sendiri tanpa harus berkoalisi.

Perhitungan itu diperoleh berdasarkan nominal 11 kursi yang mencapai lebih dari 20% total kursi yang ada di DPRD Kabupaten Cianjur yaitu 50 kursi. Lalu bagaimana dengan parpol Golkar dan Nasdem? ”Keduanya harus tetap mencari koalisi karena jatah kursinya tak mencpai 20 persen,” ujar Pengamat Politik Universitas Suryakancana (Unsur) Cianjur, Dedi Mulyadi.

Baginya, yang harus dipersiapkan Gerindra adalah mengusung calon yang memiliki elektabilitas dan popularitas yang tinggi. Meskipun sudah tercapai, belum tentu Gerindra menjadi pemenang membuat calonnya duduk sebagai Bupati Cianjur.

”Sebenarnya itu (jatah kursi terbanyak) hanya sebagai karcis masuk saja. Sosok yang diusung dan koalisi akan membuat banyak pengaruh dan perubahan,” tutur Wakil Dekan I Fakultas Hukum (FH) Unsur ini.

Dedi menambahkan, modal utama tersebut tidak serta merta menjamin pemenang di pilkada nanti. Ia menilai, pesta demokrasi di pilkada nanti sama halnya dengan pemilihan presiden kemarin. Partai atau gabungannya itu sebagai kendaraan politik bagi calon kepala daerah.

”Kalau pilkada itu (parpol) memang kendaraannya, elektabilitas calon juga menjadi penentu. Jadi kalau partainya besar tapi calon yang diusungnya tidak memiliki elektabilitas, ya susah,” ujarnya.

Dedi menambahkan, peran keduanya sangatlah menunjang dalam peran di pilkada 2020 nanti. Tapi tidak menutup kemungkinan jika partai yang tidak terlalu besar dapat memenangkan pilkada.

Seperti contohnya Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang diusung oleh partai yang tidak terlalu besar namun bisa melenggang memimpin Jawa Barat.
Akan tetapi, partai kecil pun masih memiliki harapan dan kesempatan untuk bisa menjadi pesaing yang unggul dalam pilkada. Asalkan calon yang diusung kembali kepada elektabilitas serta nilai jual yang bisa diperlihatkan kepada masyarakat.

”Partai kecil pun kembali kepada calon yang diusung, sehingga harus bisa mencari calon yang memang memiliki elektabilitas yang tinggi. Selain itu, dari sekarang mulai menonjolkan para kandidatnya sebagai permulaan untuk mengenalkan kepada masyarakat melalui berbagai media massa dan media sosial serta selanjutnya melakukan penyaringan maupun survey,” tambah Wakil Dekan I Fakultas Hukum Unsur Cianjur ini.

Tiga partai yang berhasil mendapatkan suara terbesar kemarin nyatanya masih memiliki kans yang besar. Seperti contoh partai Gerindra, jika bisa menghadirkan calon yang elektabilitasnya tinggi dapat memberikan keuntungan tersendiri.

Selain itu, alternatif bagi partai kecil dengan perolehan suara terendah di pileg kemarin bisa berkoalisi sejauh kepentingan dan tujuannya sama.

”Kalau partai kecil masih ada alternatif lain yaitu dengan berkoalisi dengan partai besar, asal kepentingan dan tujuannya sama,” tuturnya.

(kim)