Seperti Ini Sejarah dan Perjalanan Jalur Puncak II

PARAH: Kondisi jalan Jalur Puncak II kian hari makin mengenaskan. Sementara, kondisi jalan yang sudah dicor saat ini samakin rusak dan tak terawat.

RADARCIANJUR.com – Jalur Puncak II sendiri sejatinya memiliki perjalanan panjang. Bahkan sudah dimulai sejak pemerintahan Gubernur Jendral Hindia Belanda Willem Deandles.

Saat itu, Jalur Puncak merupakan bagian dari Jalan Rasa Pos (postweg) yang membentang dari Anyer-Cisarua-Cianjur-Panarukan dengan total panjang mencapai 904 kilometer. Sementara Jalur Puncak sendiri memiliki panjang total 40 kilometer.

Pembangunan Jalur Puncak pun dituntaskan pemerintahan Deandles pada 1809 lampau dimana saat itu Jalur Puncak masih berupa hutan, disulap menjadi perkebunan dan tempat peristirahatan.

Usai kemerdekaan, Jalur Puncak tetap menjadi salah satu idola bagi warga untuk berplesir, hingga kini. Seiring perjalanan waktu, tingkat kepadatan pun terus meningkat. Hingga akhirnya diberlakukan sistem buka-tutup jalur atau oneway sejak 1986.

Lantaran semakin banyak warga yang memanfaatkan Puncak sebagai salah satu tujuan untuk berlibur, utamanya di akhir pekan dan masa liburan, pada 2011, direncanakan pembukaan Jalur Puncak II sebagai solusi untuk mengurangi kemacetan dan kepadatan yang sudah luar biasa itu.

Saat itu, Jalur Puncak II direncanakan rampung pada 2013 dengan panjang total 47,8 kilometer. Jalur itu sendiri merupakan alternatif yang dimulai dari kawasan sirkuit Sentul-Babakan Madang-Hambalang-Sukmamakmur-Pacet-Istana Cipanas.

Total anggaran untuk pembangunan jalan itu berdasarkan detail engineering design sebesar Rp759 miliar. Jalan ini dirancang dengan lebar 30 meter dengan dua lajur menuju Jakarta serta dua lajur menuju Cipanas atau jauh lebih lebar dari jalur lama.

Pembangunan kemudian dimulai pada 2012 lalu. Namun pada 2015, sekitar 3,5 kilometer jalan dicor, pembangunan lalu terhenti. Alasannya, Alasannya, lantaran belum mendapatkan lagi alokasi dari Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN).

Akibat ketidakjelasan kelanjutan pembangunan itu, sisa jalan yang masih berupa tanah pun semakin mengenaskan. Di sisi lain, 3,5 kilometer jalan yang sudah dicor kini semakin rusak dan tak terawat. Hingga kini, kelanjutan pembangunan Jalur Puncak II itu pun masih suram.

(tim)