Siap-siap Kemarau Datang

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com-Sudah sekitar dua bulan terakhir, hujan sudah mulai jarang turun di Cianjur. Akibatnya, sejumlah wilayah sudah mulai merasakan dampak musim kemarau atau kekeringan.

Kendati demikian, Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur belum menetapkan bahwa Cianjur sudah memasuki musim kemarau. Alasannya, pihaknya masih harus menunggu keputusan dari BPBD Provinsi Jawa Barat dan BMKG Jawa Barat terkait penetapan status musim kemarau.

Kendati demikian, Sekertaris BPBD Kabupaten Cianjur, Sugeng Supriyatno mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi musim kemarau, termasuk personil di lapangan.

Salah satu yang diwaspadai BPBD adalah kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah dan kebakaran area semak atau hutan yang memang kerap mudah terbakar saat musim kemarau.

“Terkait penetapan status memasuki kemarau kami masih menunggu edaran dari BPBD Propinsi dan BMKG Jabar. Sebelumnya surat penetapan tersebut baru akan diedarkan di awal bulan Juni,” ujarnya ditemui di kantornya, Jumat (14/6).

Terlambatnya surat penetapan tersebut, kata dia, karena sempat terhambat oleh cuti bersama pada saat libur perayaan Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah.

“Kemungkinan BPBD Provinsi baru akan mengedarkan surat terkait penetapan status memasuki musim kemarau baru akan diedarakan diakhir bulan Juni,” terangnya.

Sayangnya, lanjut Sugeng, pihaknya masih belum bisa memetakan wilayah mana saja yang menjadi titik rawan kekeringan. Alasannya, di sebagain wilayah Cianjur, masih kerap diguyur hujan kendati intensitasnya sangat jarang.

Akan tetapi, berdasarkan catatan pihaknya, memang benar ada sejumlah wilayah yang memang menjadi ‘langganan’ kekeringan.

“Berkaca dari musim kemarau sebelumnya, terdapat sebanyak sembilan Kecamatan yang rawan dengan kekeringan juga beberapa lokasi lahan dan hutan yang sering terjadi kebakaran,” tuturnya.

Lebih lanjut, pihaknya mengimbau kepada seluruh warga Cianjur, utamanya di sembilan lokasi yang kerap menjadi ‘langganan’ terjadi kekeringan dan lokasi lahan ataupun hutan agar tetap waspada.

Ada baiknya, sambung dia, agar masyarakat juga pro aktif dengan memantau sekitar lingkungan masing-masing.

“Bila sudah terjadi gejala kekeringan, diharapkan warga segera melaporkan kepada Muspika setempat. Di musim kemarau saat ini juga warga diimbau untuk tidak membakar area lahan perhutanan,” harapnya.

Terpisah, memasuki musim kemarau, PDAM Tirta Mukti mengaku juga sudah melakukan sejumlah antisipasi. Karena itu, pihaknya memastikan bahwa pasokan air bersih untuk warga selama musim kemarau aman.

Dirut PDAM Tirta Mukti, Budi Karyawan mengatakan, sampai saat ini, pihaknya sama sekali tak mendapat kendala terkait pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Cianjur.

“Memasuki musim kemarau tidak ada kendala, pasokan air cukup besar,” katanya, kemarin.

Hanya saja, kata Budi, konsumsi air bersih masyarakat selalu mengalami lonjakan yang cukup tinggi. Hal itu, mengakibatkan sejumlah daerah yang rawan distribusi air bersih menjadi terkendala dan terhambat.

Budi menjelaskan, kebiasan masyarakat di musim kemarau adalah, warga tidak punya alternatif lain dalam pemenuhan kebutuhan air. Satu-satunya alternatif yang dimiliki adalah dengan menggunakan air bersih.

“Sehingga mereka terpaksa menggunakan air bersih seperti untuk mencuci mobil, karena yang tadinya biasa menggunakan air dari sungai, sungainya kering, yang biasa menggunakan air dari sumur, sumurnya kering,” beber Budi.

Lebih lanjut, Budi juga menegaskan bahwa musim kemarau sama sekali tak mempengaruhi debit air dari sumber mata air. Selama ini, PDAM Tirta Mukti mengandalkan tiga sumber mata air, yakni mata air dari Cirumput, Cilembang dan Salakawung.

“Kalau pasokan (debit) airnya tidak berkurang, padahal pasokannya tetap. Namun penggunaan konsumen meningkat sehingga terkesan pasokan air yang berkurang,” kata Budi.

Kendati demikian, sambung Budi, pihaknya juga sudah siap dengan berbagai antisipasi jika memang di lapangan nantinya terjadi kekurangan air bersih. Salah satu yang dilakukan adalah dengan pembuatan sumur bor di beberapa titik diantaranya, satu di Panumbangan, satu di kantor PDAM dan satu di gudang PDAM.

“Selain itu ditambah armada truk tangki yang sekarang jumlahnya ada enam yang siap membantu jika sewaktu-waktu terjadi masalah kekurangan pasokan air,” pungkasnya.

(kim/dil).