Diduga jadi Korban Trafficking, Nasib Rima TKW Cianjur di Malaysia tak Jelas

MELAPOR: Keluarga Tenaga Kerja Wanita (TKW) mendatangi DPC Astakira Pembaharuan Indonesia untuk meminta bantuan terhadap anaknya yang tak ada kabar. FOTO: Hakim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com -Tak henti-hetinya warga Cianjur tergiur dan tergoda bujuk rayu menjadi tenaga kerja wanita. Alih-alih mendapat pundi-pundi rupiah, mereka malah menjadi korban penipuan sekaligus korban perdagangan manusia (trafficking).

Kali ini yang menjadi korban adalah Rima Setiawati (19), warga Kampung Tugusari, RT 2/RW 18, Kelurahan Sayang, Kecamatan Cianjur. Ia diduga menjadi korban bujuk rayu oknum pencari tenaga kerja dan diberangkatkan sebagai TKW ke Malaysia.

Perempuan anak pertama pasangan suami istri Ujang Saepudin (38) dan Aisah (35) itu berangkat ke Negeri Jiran pada 28 Desember 2018 dengan menggunakan jalur tidak resmi (ilegal). Ia menjadi korban oknum petugas rekrutmen berinisial (UL) asal Kabupaten Bandung.

“Iya sponsor itu datang ke rumah diantar oleh saudara untuk membujuk anak saya untuk bekerja di Malasyia,” ujar Ujang saat ditemui di Kantor DPC Astakira Pembaharuan Kabupaten Cianjur.

Sponsor yang akrab disapa Umi itu, lanjut Ujang, awalnya menawarkan Rima untuk menjadi pelayan toko di Malaysia dengan gaji sangat menggiurkan. Tapi nyatanya, putrinya itu bukannya bekerja seperti yang dijanjikan, melainkan menjadi pembantu rumah tangga. (PRT).

“Khawatirnya anak saya itu dipindah majikan terus. Bahkan pernah nelepon dia tidak dibuatkan paspor,” jelasnya.

Ketua Divisi Hukum DPC Astakira Pembaharuan Kabupaten Cianjur, Topan Nugraha mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti perkara tersebut sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia, mengingat belakangan ini di Kabupaten Cianjur marak terjadinya trafficking berkedok tenaga kerja.

“Dengan adanya kejadian tersebut maka pihak kami tidak akan mentelolir terhadap para pelaku human trafficking di Ciajur,” tegasnya.

Mrnurutnya, perkara tersebut diduga sudah masuk kejahatan murni yang wajib diawasi secara bersama-sama ataupun stake holder lainnya. Namun untuk memberi efek jera terhadap pelaku tindak pidana TPPO (Tindak Pidana Perdangan Orang) pihaknya tidak akan segan-segan membawa perkara tersebut keranah pidana dengan cara melaporkan kepihak kepolisian.

“Kami pasti akan melaporkan kepihak kepolisian supaya tidak ada kejadian serupa,” tutupnya.

(kim)