Warga Sukataris Tolak Kartu Kombo, Ini Alasannya

Pembagian kartu kombo yang dilakukan di aula Desa Sukataris. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Keluarga Aminah (46) di Desa Sukataris, Kecamatan Karangtengah, menolak bantuan pangan non tunai. Penolakan dilakukan karena merasa sudah mampu, setelah sebelumnya terdata sebagai keluarga pemanfaat.

Penolakan yang dilakukan Aminah dibuktikan dengan pernyataan bermaterai. Hal tersebut patut menjadi contoh warga lainya yang menjadi pemanfaat bantuan non tunai yang sudah merasa mapan.

Kepala Desa Sukataris, Mohamad Nurulukman mengatakan sikap yang dilakukan Aminah patut ditiru oleh warga pemanfaat yang merasa sudah sejahtera.

“Dari total 704 penerima bantuan berkurang dengan adanya penolakan tersebut,” katanya, (14/6)

Ia mengatakan data BPS tahun 2015 menjadi acuan dalam program bantuan non tunai sehingga data warga miskin saat ini yang mencapai seribu lebih belum terakomodasi semuanya.

“Adanya program bantuan pangan non tunai berupa beras dan telur akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga. Program tersebut dicanangkan pengganti rastra dengan kualitas beras premium saat ini,”katanya

Kades Sukataris, Mohamad Nurulukman mengatakan, untuk tahap pertama sebanyak 307 warga menerima verifikasi data dan selanjutnya akan diserahkan kepada pihak desa, sisa 374 penerima kartu kombo akan dibagikan bertahap pada kesempatan berikutnya.

Menurutnya, basis data terpadu tahun 2015 menjadi dasar pendataan dari pusat.

“Warga yang belum menerima, bertahap semoga ada penambahan lagi dari penerima yang sudah yang menerima bantuan pangan non tunai ini,” katanya.

Ia mengatakan saat ini banyak juga warga yang protes kenapa dirinya tak kebagian padahal masuk katagori miskin.

“Berkali-kali saya menjelaskan bahwa data yang diterima desa adalah data dari pusat sehingga pihak desa hanya menerima data dan membagikan kartu,”katanya

Siti Homsah (49) warga penamfaat dari Kampung Kopo Wetan, Desa Sukataris, mengatakan, adanya program bantuan pangan non tunai ini dirasakan membantu perekonomian.

Meskipun ia belum mengetahui persis penukaran kartunya, ia merasa bantuan tersebut akan membantu menghidupi empat orang anak dan meringankan beban suaminya yang bekerja serabutan.

“Katanya setiap bulan dapat Rp 110 ribu bisa ditukarkan ke 10 kilogram beras atau dikonversi ke telur disesuaikan dengan harga beras,” ujarnya.

(dil)