Kemarau, Produksi Padi Terancam Berkurang

RADARCIANJUR.com – Produksi padi Cianjur terancam berkurang menyusul beralihnya lahan tanam padi menjadi palawija selama musim kemarau. Diperkirakan, penurunan produksi padi Cianjur tahun ini mencapai 20 persen.

Kepala Dinas Pertanian Pekebunan Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Mamad Nano mengatakan, luas lahan pertanian di Cianjur saat ini tersisa sekitar 66 ribu hektar dan luas tanam mencapai 90 ribu hektar.

Namun dari luas tanam tersebut, hanya sekitar 41 ribu hektar saja yang dialiri irigasi teknis. Sedangkan lebih dari 20 ribu hektar lainnya mengandalkan kondisi alam terutama musim hujan.

Menurutnya, dari luas lahan yang ada tersebut diperkirakan 20 persennya akan beralih menanam palawija selama musim kemarau. Terutama lahan-lahan pertanian yang bukan dialiri irigasi teknis.

“Memang kami arahkan yang tidak bisa ditanami padi di musim keramau nanti, lahannya ditanami palawija agar tetap produktif. Rata-rata lahan yang ditanami palawija berada di wilayah Cianjur selatan,” ujarnya.

Akibatnya, dikhawatirkan tingkat produksi padi di musim kemarau menurun, apalagi jika prediksi terjadinya kondisi cuaca ekstrem yang mengakibatkan kemarau panjang benar terjadi.

“Kami berharap prediksi itu tidak benar, mengingat dari BMKG sendiri menyebutkan jika kemarau di tahun ini tetap normal,” paparnya.

Jika kemarau tetap normal, lanjutnya, terlebih disertai turunnya hujan, produksi pertanian diyakini pihaknya bisa tetap aman. Bahkan jikapun tidak turun hujan sekalipun, pihaknya sudah merencanakan upaya optimalisasi produksi pangan untuk mengejar target produksi selama setahun.

Dia menjelaskan, upaya itu di antaranya dengan optimalisasi penanaman selama musim hujan dan memaksimalkan lahan yang masih bisa ditanami di musim kemarau.

“Jadi kekurangan produksi di kemarau bisa ditutupi oleh peningkatan produksi di musim hujan. Apalagi kan ada penambahan luas lahan dengan program pencetakan lahan sawah baru. Dengan begitu kami optimis produksi pangan masih tetap aman di tahun ini,” terangnya.

Para petani, jelasnya, juga sudah diarahkan untuk menanam jenis padi yang tahan terhadap kondisi kemarau, dimana tanaman padinya tidak membutuhkan banyak air untuk terus tumbuh.

“Dengan begitu, pola pengairan bisa disiasati, tidak melulu harus diliri air tapi bisa diselang dan aliran airnya bisa berbagi dengan lahan lain yang memang juga kesulitan air,” jelasnya.

Produksi pertanian tersebut akan lebih maksimal jika seluruh lahan sudah teraliri dengan irigasi teknis. Namun pembangunannya berada di bawah kewenanganan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain, sehingga pihaknya tidak bisa mengintervensi lebih jauh.

“Mungkin anggarannya sedang difokuskan ke pembangunan infrastruktur lain, sehingga belum bisa ke irigasi tekni secara optimal. Walaupun sebenarnya bisa dilakukan bertahap, sedikit-sedikit. Sehingga sekitar 20 ribu lahan non irigasi bisa teraliri irigasi teknis, produksi pangan pun tetap aman dalam kondisi musim apapun,” tutupnya.

(kim)