Menelisik Mitos, Sejarah dan Legenda Situs Gunung Padang

Gunung Padang

RADARCIANJUR.com – Siapa yang tak kemasyuran mengenal Situs Gunung Padang yang terletak di Desa Karyamuki, Kecamatan Campaka Mulya, Kabupaten Cianjur. Situs penuh sejarah dan misteri itu bahkan sudah diakui UNESCO sebagai salah satu dari deretan keajaiban dunia dan situs warisan dunia. Bukan hanya menjadi salah satu ikon dan obyek wisata di Cianjur, di balik itu semua, Gunung Padang juga menyimpan berbagai mitos, legenda dan misteri yang hingga kini masih belum terpecahkan. Terbukti, tak sedikit wisatawan asing dan peneliti serta arkeolog mencoba menggali informasi di situs yang dipercaya masyarakat masih berhubungan dengan perjalanan kejayaan Prabu Siliwangi.

Laporan: Fadilah Munajat, CAMPAKA MULYA

Dari pusat kota Cianjur, butuh sekitar lebih kurang satu jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan bermotor untuk bisa sampai ke Situs Gunung Padang. Kolam Panguripan yang terletak tepat di pintu masuk hendak menuju tangga naik ke atas situs pun seperti menjadi penyambut setiap orang yang menginjakkan kaki di situs tersebut.

Untuk bisa mencapai puncaknya pun membutuhkan perjuangan bagi yang tak biasa. Pasalnya, tangga dengan kemiringan sekitar 50 derajat menjadi jalan yang harus ditempuh. Namun, tangga dengan kemiringan lebih kecil bisa menjadi pilihan. Tapi, akses tangga itu lebih panjang berlipat dan memutar. Kesamaan dari dua akses tangga itu cuma satu: butuh perjuangan, usaha dan tenaga tak sedikit agar bisa sampai ke puncak situs.

Tidak berbeda dengan situs sejarah lainnya, Gunung Padang memang terlihat unik. Batu berbentuk balok panjang memenuhi setiap sudut-sudut Gunung Padang menunjukkan betapa unik kehidupan pada zaman dahulu.

Dengan ditemani Juru Kunci, salahseorang pengunjung mencoba memegang batu gendong. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

Bisa dibayangkan bagaimana atau seperti apa cara batu-batu berukuran besar dan berat itu bisa sampai berada di puncak, di lokasi yang cukup tinggi. Sedangkan akses menuju ke puncak cukup terjal dan melelahkan. Atau, bagaimana teknologi di zaman itu yang sudah bisa mengangkat batu-batu itu sampai ke tempat yang diinginkan.

Di luar dari semua itu, yang tak kalah menarik untuk dikulik adalah sisi mistis yang oleh banyak orang diakui begitu kental terasa di setiap sudut situs yang diperkirakan berumur jauh lebih tua dibanding piramida Mesir yang dibangun pada 5000 tahun sebelum masehi.

Kemistikan itu pun tergambar, selain di posisi dan letak batu, juga adanya berbagai guratan di atas sejumlah batu-batu tertentu. Mulai dari guratan menyerupai Kujang, sampai tapak kaki harimau yang hingga kini juga masih menjadi misteri tak terpecahkan para peneliti dan arkeolog.

Bagi masyarakat setempat, Padang merupakan tempat yang cukup keramat. Masyarakat percaya, situs yang berbentuk punden berundak dan memiliki luas kurang lebih 900 meter persegi itu dulunya tempat pertapaan Raja Padjajaran, Prabu Siliwangi sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak bersama kerajaannya.

Juru Kunci Gunung Padang, Nanang mengatakan, ditemukanya tapak harimau dan tapak kujang di Gunung Padang diangagap erat hubunganya dengan Prabu Siliwangi.

“Ada tapak besar harimau. Memang Prabu Siliwangi identik dengan harimau. Ditambah ada goretan kujang, sebuah sejata yang dimiliki kerajaan Padjadjaran di sekitar situ,” kata Nanang.

Selain itu, Nanang mengungkap, Gunung Padang juga erat kaitannya dengan angka lima. Selain dikelilingi lima gunung, area situs di puncak juga terdiri dari lima teras yang dipisahkan oleh dua batu berdiri yang membetuk semacam pintu pada masing-masing bagian.

Di bagian teras, yang biasa disebut teras penyambutan, terdapat sejumlah batu yang menyerupai alat musik gamelan dan dapat mengelurkan suara.

“Disebut batu Gambelan karena batuan ini berbeda dengan batuan yang ada, dimana batu ini bisa mengeluarkan nada bila dipukul dengan batu ukuran sekepal,” kata Nanang.

Di teras kedua terdapat batu tapak bulat untuk sandaran kepala yang menghadap ke utara ke arah Gunung Gede. Saat Radar Cianjut mencoba duduk di batu samadaran itu, langsung berhadapan ke Gunung Gede.

Hal unik dirasakan. Berbeda dengan batu lainya, dimana saat duduk di batu itu tiba-tiba terasa ada tiupan angin sepoi-sepoi dari belakang. Lebih unik lagi angin tersebut tak dapat dirasakan oleh orang lain yang tak duduk di batu itu.

Hal unik juga ditemukan di teras ke empat yang terdapat ruang kotak yang dikelilingi batu. Posisi ruang tersebut berada di bagian timur situs. Di bagian tengah ruang terdapat sebuah batu yang disebut batu gendong.

Saat mencoba memegang batu ini, suara gemuruh angin terdengar, tak lama kemudian tercium aroma wangi minyak misik. Uniknya lagi, aroma wangi itu hanya bisa dirasakan oleh orang yang memegang batu tersebut.

Menurut Nanang, Situs Gunung Padang yang mengarah ke Gunung Gede memiliki makna spiritual yang dalam. kKarena tempat itu adalah tempat peribadatan dan berkumpul manusia pada masa lalu. Sedangkan Gunung Gede pada saat itu mungkin menjadi semacam ‘kiblat’ pada zaman dahulu.

“Gunug Padang adalah kearifan mulia yang sudah seharusnya dipelihara, menjadi monumen abadi peradaban manusia,” pungkasnya.

(**)