Curahan Hati Narapidana Pembunuh di Lapas Cianjur, Kini Rajin Solat dan Mengaji

Lapas Klas 2B Cianjur

RADARCIANJUR.com – Menyesal dan ingin berubah untuk menjadi lebih baik. Itulah hal yang tertanam kuat dalam benak warga binaan Lapas Klas 2B bernama Hendra Sulaeman (35).

Warga Kampung Citeureup RT3/Rw1 Desa Pasir Baru, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur itu mendapat ancaman seumur hidup dalam persidangan yang digelar 2014 silam.

Namun, setelah menjalani proses persidangan yang relatif lama itu, Hendra akhirnya divonis mendekam di penjara 15 tahun lamanya setelah kejadian keributan yang terjadi pada akhir 2013.

Bapak beranak satu ini dijerat Pasal 340 tentang pembunuhan berencana.

Enam tahun sudah berjalan, kini sisa masa hukumannya tinggal sembilan tahun lamanya. Mau tak mau, Hendra pun akan menjalani setengah masa hidupnya di penjara. Usianya akan menjadi 44 tahun. Ada kerinduan yang mendalam bagi Hendra. Ia pun ingin sekali bertemu dengan buah hatinya yang kini duduk di bangku sekolah dasar.

Sesekali, pria yang dulu pernah menjadi sopir angkutan umum ini mengingat masa lalu. Namun, semuanya itu dijadikan pelajaran yang berharga untuk menjalani hidup. ”Ini bagi saya hidayah. Jujur, dalam diri saya kalau mengingat masa lalu jadi sebuah penyesalan yang mendalam dan mungkin ini tempatnya saya untuk berubah,” ujar pria yang memiliki janggut ini.

Salah satu motivasi yang menjadi penguatnya yaitu anak semata wayangnya. Meski mendapat beberapa kali hak waktu besuk, tapi tak membuat dirinya terobati hingga kerap kali menetesakan air mata.

Melihat dari perubahan yang ada pada diri Hendra, ada rasa bahagia yang ditunjukan keluarga. Hendra yang sekarang bukan Hendra yang dulu dengan pergaulan yang seperti orang jalanan.

”Kalau saya masih di luar, tidak tau saya bakal rajin solat dan ngaji. Mungkin saya masih berkeliaran di jalan, masih mengenal minuman keras,” paparnya usai mengajar mengaji.

Selintas, ia pun bercerita tentang masa kelamnya saat dulu kerap beraksi di Terminal Pagelaran. Tak ada yang tak mengenal dirinya. Alkohol pun menjadi minuman yang wajib ia teguk setiap hari.

”Sangat menyesal jika saya mengingat masa lalu. Saya belum tentu di luar bisa melaksanakan salat, mengaji entah seperti apa. Kita kan tidak tau umur kita sampai kapan, kalau kita mati apa alkohol dan perbuatan buruk kita bisa membantu di akhirat nanti,” ungkapnya.

Pasrah. Hendra pun kini harus ikhlas mendekam di Lapas II B Cianjur. Ia pun harus berbagi dengan 14 warga binaan lainnya. Malam pertama menjadi malam terberat. Kondisi dingin serta posisi tidur yang tak biasanya harus ’dinikmatinya’.

Melalui pembinaan-pembinaan yang mengharuskan dirinya menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim pun dijalani. Tak semudah membalikan tangan. Tak ada dorongan hati untuk taat dalam menjalankan salat lima waktu, hanya menjalankan kewajibannya.

”Awal mula itu diberikan pembinaan-pembiaan secara tegas oleh petugas-petugas di sini (Lapas II B Cianjur, red), sehingga memang saat itu saya belum ada dorongan dari hati hanya melakukan kewajiban saja,” ujarnya dengan ramah.

Dalam kurun waktu tiga bulan pertamanya, akhirnya Hendra merasakan hal berbeda dan menerima hingga batin dan pikirannya merubah dirinya untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta. Hingga ketika sebelumnya diharuskan petugas untuk menjalankan kewajiban, namun saat ini dijalani sesuai dengan tuntutan agama.

Keseharian yang dijalaninya lebih banyak menggali ilmu agama dan memaknai perjalanan hidup dengan lebih banyak bersyukur. Selain itu, memberikan ilmu agama serta mengajar mengaji kepada warga binaan lainnya.

”Ada tiga kelas di Lapas yang memang menerapkan sistem pesantren terpadu ini. ”Kelas A untuk tahapan Iqro, Kelas B untuk Alquran dan Kitab lalu yang terakhir Kelas Eksekutif untuk mempelajari Kitab Kuning,” pungkasnya.

(kim)