PPDB Online Belum Optimal

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) secara online sepertinya kurang diminati orangtua yang hendak mendaftarkan anaknya masuk ke SMA/SMK.

Sebaliknya, para orangtua lebih memilih mendaftar dengan cara mendatangi langsung sekolah tujuan. Seperti yang dilakukan Didik Asep Hendrayana (34), yang mengaku sudah mendaftarkan anaknya melalui PPDB online.

Meski begitu, dirinya masih harus berdesak-desakan dan mengantre berjam-jam untuk pendaftaran online. Walakin, saat proses pendaftaran online, dirinya dibantu operator sekolah.

”Saya antre sejak pukul 08.00 WIB, dan baru menerima giliran sekitar pukul 11:20 WIB,” tuturnya ditemui di SMAN 1 Cianjur, kemarin.

Datang ke sekolah yang dituju, kata Didik, menjadi satu-satunya pilihan yang dimilikinya kendati pendaftaran online sejatinya bisa dilakukan di rumah sekalipun. Akan tetapi, karena dirinya tak tahu sama sekali cara melakukan pendaftaran PPDB online secara mandiri, ia pun kebingungan.

”Saya tahu harus daftar online, tapi tidak tahu caranya. Jadi saya antre disini,” ungkapnya.
Salah satu yang dikeluhkannya adalah tidak adanya sosialisasi pendaftaran PPDB online sebelumnya, yang bisa menjadi panduan para orangtua seperti dirinya agar tak berdesak-desakan dan mengantre lama di sekolah.

”Kalau ada sosialisasi kan kami bisa tahu cara-caranya. Kalau tidak tahu (caranya) begini, dipaksakan juga takut salah. Kasihan anak nanti kalau malah tidak bisa masuk sekolah yang dituju,” keluhnya.

Tak jauh berbeda, keluhan juga dirasakan Nia Kurniawati (54). Dirinya rela berdesakan dan mengantre berjam-jam ketimbang mendaftarkan anaknya melalui PPDB online. Pasalnya, dirinya cukup buta cara mendaftar secara online.

”Kita yang seumuran ini, kalau untuk urusan yang online-online gitu kan kurang paham. Saya juga tidak mau ambil risiko memaksakan daftar online daripada salah,” tuturnya.

Atas alasan itu pula Nia memilih datang langsung ke sekolah. ”Namanya orangtua kan maunya yang terbaik untuk anaknya, jadi biar ngantre lama juga ya gimana lagi,” ucapnya.
Koordinator IT salah satu SMK Negeri di Cianjur Ismayani menjelaskan, pendaftaran PPDB online sejatinya untuk memudahkan calon peserta diri untuk melakukan pendaftaran. Akan tetapi, meski sudah mendaftar secara online, masih harus diwajibkan datang ke sekolah.
”Setelah daftar melalui online, orang tua calon peserta didik tinggal datang ke sekolah untuk melakukan verivikasi pendaftaran,” jelasnya.

Pemandangan yang sama juga terjadi di SMAN 1 Cianjur. Antrean orangtua calon peserta didik pun sudah mulai terlihat sejat pukul 05.00 WIB. Wakasek Kesiswaan SMAN Asep Suryana mengatakan hal tersebut disebabkan para orangtua calon peserta didik yang masih belum mengetahui sistem PPDB terbaru.

”Padahal jika mengacu kepada waktu pendaftaran, itu hanya dilihat apabila ada batas kuota yang sama, kalau ada yang sama baru dilihat waktu pendaftarannya,” katanya.

Ia mengatakan, terhitung hingga Jum’at (21/6) lalu, calon peserta didik yang sudah mendaftar sudah mencapai 713 orang. Selanjutnya akan diverifikasi keabsahannya, penentuan titik koordinat rumah ditarik garis lurus sampai sekolah.

”Total yang akan diterima 420 orang yang terdiri dari 230 orang jalur zonasi. 84 orang kuota orang tidak mampu, sisanya untuk jalur prestasi dan mutasi orang tua,” bebernya.

Asep menjelaskan alur pendaftaran PPDB memiliki tiga tahapan. Pertama, orangtua calon peserta didik diharuskan masuk ruang informasi terlebih dahulu untuk melakukan pengecekan berkas jalur pilihan yang akan digunakan dalam pendaftaran.

Setelah melakukan pengecekan berkas, orangtua akan diarahkan ke ruang penentuan titik koordinat zonasi. Selanjutnya melakukan pendaftaran dan mendapatkan nomor urut pendaftaran.

”Dari ruang informasi ke ruang pemberkasan, setelah itu baru penentuan titik koordinat, baru dapat nomor urut,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Cianjur, Oting Zainal Mutaqin menjelaskan, sosialisasi mengenai PPDB memang sudah dijalankan sesuai instruksi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

”Kita sudah lakukan sosialisasi ke setiap sekolah dan kita instruksikan juga untuk disampaikan ke setiap orang tua siswa,” paparnya. Lanjutnya, ada hal lain yang menjadi faktor kurang meratanya pemahaman mengenai PPDB ini yakni orang tua siswa yang kurang memperhatikan arahan dari pihak sekolah, sehingga tak tersampaikan sepenuhnya..

(dil/kim)