Penderita HIV Terus Bertambah, Cianjur Selatan jadi Favorit

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com -Ini bisa jadi peringatan keras bagi warga Cianjur untuk selalu waspada. Pasalnya, jumlah warga yang terjangkit virus Human Immunodeficiency Virus atau HIV terus bertambah dari tahun ke tahun.

Yang cukup menakutkan adalah, virus tersebut menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga membuat penderitanya dengan sangat mudah terserang berbagai macam penyakit. Selain itu, sampai saat ini juga masih belum ditemukan obatnya.

Berdasarkan data yang dimiliki Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Cianjur, penyebaran HIV di Kabupaten Cianjur terus mengalami kenaikan dari waktu ke waktu.

Dari semester pertama di tahun 2018, pengidap HIV mencapai 50 orang dengan total dalam setahun 140 orang. Namun pada semester awal tahun 2019 ini, jumlah pengidap HIV di Cianjur menjadi 60 orang, atau bertambah 10 orang dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya.

Masih berdasarkan data KPA, penyebaran virus HIV sampai saat ini masih didominasi dari perlakuan seks bebas atau seks tidak aman. Atau kerap berganti pasangan dan berhubungan seksual dengan Wanita Penjaja Seksual (WPS).

Padahal sebelumnya, data KPA menunjukan bahwa penyebaran virus HIV didominasi dari penggunaan jarum suntik (pemakaian narkoba) secara bergantian.

“Pengidap HIV/AIDS pada semester awal tahun 2019 berjumlah 60 orang berbeda dengan tahun sebelumnya,” ujar Pengelola Program KPA Kabupaten Cianjur, Silmi Kaffah.

Selain itu, dirinya mengakui saat ini lebih kesulitan dalam mencari komunitas yang sudah terbiasa berkumpul di satu tempat atau yang biasa disebut hotspot. Hal tersebut dikarenakan seringnya dilakukan penggerebekan ataupun penertiban yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur.

Lanjutnya, kebanyakan dari tempat yang sudah terdata, para pengidap virus HIV itu mengungsikan diri ke wilayah selatan. Hasil dari catatan dan pemetaan, beberapa kecamatan menjadi titik pengasingan yakni Sindangbarang, Cidaun, Pagelaran, Campaka, Sukanagara dan Tanggeung.

“Kita pernah temukan saat tim KPA menelusuri ke selatan, saat beristirahat di warung pinggir jalan, ternyata ada WPS yang menawarkan diri. Warung yang buka sejak pukul 17.00 hingga 23.00 itu terdapat dua hingga tiga orang wanita yang biasa menawarkan jasa seks kepada pengendara yang beristirahat,” tuturnya.

Pihaknya pun tak tinggal diam, KPA memberikan penyuluhan mengenai informasi bahaya penularan HIV melalui hubungan intim yang bukan pasangannya.

Sayangnya, uapaya tersebut menemui kendala. Diantaranya data yang kurang yaitu karena kurangnya akses pelayanan dan kurangnya peralatan yang tak lengkap di puskesmas yang berada di Cianjur Selatan.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur, Efa Fatimah membenarkan terkait kenaikan jumlah pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Cianjur.

“Kalau tahun sebelumnya di semester awal itu berjumlah 50 orang, kalau tahun sekarang kan mencapai 60 orang,” terangnya.

Ada delapan indikator pengidap HIV/AIDS yakni ibu hamil, bayi, hepatitis, TBC, Penasun, WPS, lelaki suka lelaki (LSL) dan LGBT.

Lanjutnya, heteroseksual atau yang sering berganti pasangan dalam berhubungan intim jadi salah satu trending penyebab HIV. Bahkan saat ini, pihaknya menemukan pelajar dan mahasiswa yang mengidap HIV.

“Untuk rata-rata usia pengidap HIV pada usia reproduktif yakni 30 hingga 49 tahun, ada juga pelajar dan mahasiswa tapi jumlahnya tidak besar seperti usia reproduktif,” jelasnya.

Pihaknya pun berupaya lebih mendata jumlah pengidap pada setiap puskesmas di setiap kecamatan, sehingga target tercapai untuk menekan angka pengidap.

(kim)