Viral! Ada Jagung 12 Varian Warna di Cianjur

LAIN DARI YANG LAIN: Luki tak jarang mengalami kegagalan. Berbekal keuletan, ia berhasil menghasilkan 12 varian warna jagung pelangi. FOTO: DADAN SUHERMAN/ RADAR CIANJUR

RADARCIANJUR.com – Unik dan jarang ditemui. Di Kampung Lebak Saat, Desa Cirumput, Kecamatan Cugenang, warna jagung yang kerap dikenal dengan warna kuning ternyata bisa berubah menjadi 12 varian warna. Keunikan warna dan masa panen yang lebih pendek membuat harga benih jagung pelangi ini lebih mahal.

Lokasi kebun milik Luki Lukmanulhakim terdapat di area pegunungan. Iklimnya dingin. Angin berhembus kencang. Masih banyak pohon besar mengelilingi kebun seluas tiga hektar itu. Suara burung dan aliran air sungai kecil pun masih akrab terdengar.

Jejeran batang tanaman jagung bernama Zae May ini tertata rapih. Beberapa di antaranya sudah berbuah. Macam-macam warnanya. Sedikitnya ada 12 varian warna yang disuguhkan. Selusin warna itu di antaranya ungu, ungu hitam, kuning, kuning hitam, kuning putih, kuning ungu, merah, merah hitam, merah ungu, merah kuning, hitam, warna pelangi (ungu kuning putih).

12 varian warna itu ternyata merupakan hasil persilangan empat warna dasar jagung yang dimiliki Luki yaitu kuning, ungu, merah dan hitam. Persilangan yang dilakukan pria berusia 45 tahun itu sudah dilakukan sejak dua tahun lalu.

Kecintaannya pada tanaman membawa Luki untuk menggali potensi diri. Di awal 2017, Luki pun sempat melihat sejumlah situs online dan media sosial yang menawarkan penjualan benih jagung menarik itu. Harga untuk satu benih saat itu tak berbeda jauh dengan sekarang. Masih tertahan di angka Rp1.000 hingga Rp2.500 per benih.

Setelah mendapatkan benih-benih itu, Luki segera mencoba menanamnya. Pria yang gemar humor ini pun melakukan persilangan dengan cara menunggu benih-benih itu tumbuh. Nah, di saat sudah berbunga, Luki pun mulai mengawinkannya dengan jagung yang berbeda varian. “Jadi bunganya yang disilangkan. Nanti hasil jagungnya bisa bermacam-macam, misal hitam corak merah, merah tua dan lain-lain,” ujar pria yang gemar memakai topi ini.

Tak mulus di awal. Luki pun harus sering kali mengelus dada karena hasilnya tak sesuai harapan. Warna jagung yang tumbuh tetap sama dengan warna indukan awal yang dimilikinya. Terus mencoba. Akhirnya, setelah satu tahun lamanya, Luki pun berhasil mendapatkan varian yang berbeda.

Keberhasilan itulah yang membuat Luki memiliki benih tersendiri. Tentu saja dengan koleksi varian baru. Tak berpuas diri, pria yang gemar musik country ini pun terus mencoba. Meski saat ini sudah memiliki 12 varian warna, namun Luki masih terus berupaya menciptakan warna lain.

Berat apabila harus kembali membeli modal benih. Harga benih dipatok harga per butir. Kebayang kan kalau belinya sekilo? Bisa nyampe sejuta lebih. itu juga cuma benihnya saja,” ungkap Luki.

Lalu bagaimana soal rasa? Rasa jagung pelangi ini justru bervariatif. Pada umumnya, jagung kerap kali berasa manis saat dikunyah. Ada sedkit air yang terkandung di dalamnya. Namun, untuk varian jagung yang memiliki warna gelap ungu tua atau hitam, justru rasa kurang manis yang kerap muncul.

“Kalau dicoba dimakan pun jagung warna ungu pekat itu agak kurang enak, atau tidak begitu manis. Karena memang jenis itu kurang memiliki kadar gula yang banyak. Tidak seperti jagung warna pelangi yang kalau dicoba itu rasa manisnya agak terasa,” tutur pria yang sudah dikaruniai tiga anak ini.

Dari segi ukuran, jagung yang juga dikenal dengan istilah Glass Gem Corn ini terlihat lebih kecil dan lebih ramping. Berbeda ketika dibandingkan dengan jenis hibrida atau jagung manis pada umumnya. Tak ada perlakukan khusus dalam pemeliharaannya pun, bahkan menanam jagung jenis ini, terbilang lebih mudah jika dibandingkan jagung biasa karena punya masa tanam yang cukup pendek.

“Kalau jagung biasa masa panennya sekitar 120 hari atau 3–4 bulan. Kalau ini, dua bulan sudah bisa panen. Saya sendiri sudah empat kali panen,” kata Luki.

Bisnis yang ia geluti ini pun belum terbilang besar. Hasil produksi jagung pelangi Cirumput baru dijual secara perorangan dan belum dikirim ke luar daerah secara rutin. “Karena masih belum terlalu banyak dari hasil panen kali ini, jadi saya masih belum terlalu menjualnya secara perkilo dengan tongkolnya. Tetapi masih menjual berupa benih,” lanjutnya.

Di bawah terik matahari, Luki pun menceritakan pengalaman temannya yang mencoba membawa benih jagung ke Maluku Utara. Temannya tersebut mencoba menanam di daerah Halmahera. Tetapi ketika disebutkan, bahwa memang benih jagung pelangi ini hanya cocok ditanam di daerah seperti Cianjur. “Jika di sana (Halmahera, red) hasil tanamnya jadi tidak bagus, bahkan cenderung gagal. Makanya di Cianjur ini alhamdullilah bisa menghasilkan jagung si pelangi dengan bagus,” pungkasnya tersenyum.

Namun, setelah kini menjadi cukup ramai dan antusias masyarakat pun semakin hari semakin besar, Luki pun berniat akan menanam lebih luas di musim tanam kali ini. Dan tak khayalnya, beberapa hasil yang telah di panen sekarang, ia belum seluruhnya dikomersilkan atau untuk dijual langsung jagung kesayangannya itu ke perorangan.

(dan)