Gara-gara Ini 1.007 Hektar Sawah di Cibeber Kekeringan

Warga sedang memperbaiki irigasi secara manual.

RADARCIANJUR.com –Ribuan hektare lahan sawah yang mengandalkan saluran irigasi Cikondang di Kecamatan Cibeber kesulitan mendapatkan air untuk mengaliri tanaman padi yang ditanam. Pasalnya, bendungan irigasi di Desa Cikondang jebol.

Akibat jebolnya tanggul irigasi peninggalan Belanda itu, 1.007 hektare sawah di sembilan desa se-Kecamatan Cibeber mengalami kekeringan. Tak hanya sawah, sumur warga di sembilan desa itu juga sudah mulai mengering.

Berdasarkan informasi yang didapat Radar Cianjur, jebolnya tanggul peninggalan zaman Belanda itu terjadi secara bertahap sejak empat bulan terakhir. Bahkan, jebolnya bendungan tersebut sudah dilaporkan kepada Presiden dan Gubernur Jawa Barat.

Sayangnya, proses perbaikan atau pembangunan kembali tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. Pasalnya, baru bisa efektif dilakukan pada 2021 mendatang.

Atas alasan tersebut, warga dari sembilan desa terdampak bersama para petani, berinisiatif untuk menangani permasalahan tersebut dengan melakan gotong royong. Tujuannya, untuk membuat sodetan baru agar air bisa kembali masuk ke jalur irigasi.

Hal itu pun dilakukan secara manual yakni dengan mengumpulkan dan menumpuk batu sungai yang disusun sedemikian rupa untuk membendung air, sehingga membentuk aliran baru yang bisa mendukung irigasi.

“Luas lahan yang terdampak 1.007 hektare petani yang menggantungkan hidupnya ke irigasi ini lebih dari tiga ribu orang,” beber Camat Cibeber, Ali Akbar kepada Radar Cianjur, kemarin (27/6).

Ali menjelaskan, dampak dari jebolnya tanggul irigasi tersebut bukan hanya berpengaruh pada hilangnya pasokan air yang menyebabkan kekurangan air di ribuan hektare sawah petani, tapi juga kepada warga. Terlebih saat ini Cianjur sudah mulai masuk musim kemarau.

“Sangat terasa sekali di musim kemarau saat ini. Bukan hanya pesawahan yang kering, tapi sumur warga juga sudah mulai mengering,” ungkap Ali.

Lebih lanjut, Ali menyebut jebolnya tanggul itu bukan lantaran diterjang banjir. Melainkan karena usia yang sudah cukup tua ditambah adanya penggerusan.

“Bendung irigasi ini dibuat tahun 1940, peninggalan Belanda. Jebolnya bukan saat musim hujan. Tapi karena ada penggerusan dulu, lalu ambruk ke bawah setelah malam sebelumnya terjadi banjir besar,” katanya.

Ali menambahkan, setelah melaporkan hal itu kepada Presiden Gubernur Jawa Barat, informasi terakhir yang ia dapat saat ini sedang dipersiapkan lelang pengerjaan dan pembangunan fisik untuk mengganti tanggul yang jebol tahun depan. Kumungkinan, dimulainya pembangunan bendungan baru bisa dilakukan pada 2021 mendatang.

“Tapi untuk ke depan petani harus tetap hidup, petani dengan swadaya melakukan gotong royong. Pembangunan diperkirakan memakan biaya Rp15 miliar,” katanya.

Sementara, Subhan (34), salah seorang petani di Kampung Belengbeng, Desa Mayak, Kecamatan Cibeber mengatakan, kekeringan di daerahnya sudah terjadi sejak dua musim terakhir atau hampir setahun.

Menurutnya, kekeringan terjadi karena rusaknya saluran irigasi yang menyebabkan pasokan air terhambat. “Dampaknya lahan pertanian tidak bisa ditanami. Meskipun sebenarnya ada pasokan air namun dalam jumlah sangat terbatas dan terpakai oleh warga untuk keperluan sehari-hari,” ungkapnya.

Lanjut Subhan, kekeringan ini bertambah parah karena terdampak musim kemarau yang terjadi akhir-akhir ini, dimana sumur milik warga juga mulai mengering.”Sekarang untuk keperluan sehari-hari juga susah,” katanya.

Di sisi lain, sekitar 30 hektar sawah di Kampung Cikalong, Desa Talagasari, Kecamatan Sindangbarang, sudah mengalami kekeringan. Akibatnya, para petani pun gagal panen dan merugi.

Romli (40), salah seorang petani setempat mengatakan, kemarau di wilayahnya sejatinya sudah terjadi sejak dua bulan sebelumnya. “Rugi sekarang akibat kekeringan, padi saya gagal panen,” ujarnya.

Romli melanjutkan, akibat kekeringan dan gagal panen itu, dirinya terpaksa merugi sampai puluhan juta. Sedangkan sisa 50 kilogram gabah kering jelas sama sekali tak bisa menutupi biaya produksi dan perawatan selama ini.

“Panen saya biasanya satu ton lebih, kalau ditanya rugi ya rugi,” sesalnya.

Romli berharap agar Pemerintah Kabupaten Cianjur bisa membantu mengatasi kekeringan ini dengan memberikan bantuan air, agar gagal panen tidak meluas. “Karena ini kan mata pencaharian kami untuk keluarga,” katanya.

Terpisah Kepala UPTD Pertanian Wilayah Sindangbarang Agrabinta, Yayay Duruiat mengakui kabar kekeringan sawah di wilayah tersebut. Akan tetapi, ia menegaskan bahwa areal pertanian yang mengalami kekeringan adalah sawah tadah hujan.

Menurut Yayat, sejumlah areal sawah tadah hujan yang mengalami kekeringan kebetulan padinya sudah lebih dulu dipanen sebelumnya, sehingga sebagian besar petani di Kecmatan Sindangbarang yang bercocok tanam di sawah tadah hujan tidak mengalami gagal panen.

“Yang gagal panen juga ada. Tapi terjadinya kemarau ini sebagian besar sawah sudah dipanen. Namun mereka belum bisa kembali bercocok tanam karena tidak ada pasokan air,” katanya.

(dil)