Sepi Pembeli, Harga Daging Ayam Turun, Segini Harganya

MURAH TAPI SEPI: Harga jual daging ayam di Pasar Induk Cianjur dan Pasar Muka turun. Namun, penurunan harga ini tak diimbangi dengan jumlah pembeli. FOTO: Hakim/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Harga jual daging ayam di beberapa pasar di Kota Cianjur merosot. Meski mengalami penurunan harga, namun pedagang justru mengalami turun omset karena sepi pembeli.

Penurunan harga daging ayam tidak hanya terjadi di luar daerah saja. Hal serupa pun terjadi di dua pasar di Kabupaten Cianjur yakni Pasar Induk Cianjur (PIC) dan Pasar Muka. Penurunan harga tersebut sudah terjadi sejak seminggu pasca lebaran. Kala itu, harga daging ayam dijual di angka Rp38 ribu per kilogram (/kg) dan kini menjadi Rp30 ribu/kg.

Tak hanya mengalami penurunan harga, hal tersebut diperparah dengan sepinya pembeli daging ayam. “Harga turun dari seminggu setelah lebaran kang. Sebelumnya Rp38 ribu, turunnya perlahan,” ujar Rahmat (40) pedagang daging ayam PIC.

Namun, harga yang turun ini tidak membuat masyarakat berbondong-bondong untuk membeli daging ayam. Kenyataannya, dagangan para pedagang masih terlihat berjejer hingga kemarin siang. Biasanya, lanjut Rahmat, dirinya dari subuh hingga siang hari sudah berhasil menjual 60 kilogram daging ayam. “Tapi sekarang baru habis 30 kilogram,” keluhnya.

Hal senada turut dirasakan Ujang (28), salah satu pedagang daging ayam Pasar Muka Cianjur. Sehari-hari, Ujang menyediakan stok daging ayam jualannya sebanyak satu kwintal setengah dan berhasil membuat dagangannya laris manis sebanyak 70 kilogram. Namun, saat ini penjualannya kurang dari 70 kilogram.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi UMKM, Perdagangan dan Perindustrian (Diskoperindagin) Kabupaten Cianjur, Yana M Kamaludin mengatakan, pihaknya masih mencari penyebab turunnya harga daging ayam da belum bisa memastikan secara pasti. “Saya sendiri masih mencari informasi terkait perubahan harga tersebut dan tidak ingin memberikan statement berdasarkan asumsi, khawatir jadi polemik,” terangnya.

Kasi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Kelautan, Peternakan dan Perikanan (Dislutnakan) Kabupaten Cianjur, M Agung Rianto menjelaskan, harga ayam broiler kondisi hidup di peternakan sekitar Rp18.500/kg. Untuk biaya operasional ayam broiler di kandang atau pakan break event point (BEP) Rp18.000 dengan komposisi berat satu kilogram.

Tambahnya, harga ayam hidup hanya Rp18.500/kg, sedangkan di pasar harga per kilogram daging ayam Rp35 ribu. Artinya, ada rentang harga sekitar Rp16 ribu. Jenjang ini dinilai menjadi kerugian bagi peternak. “Biaya operasional dan harga jual harus selisih. Inikan Break Event Pointnya Rp18 ribu lebih dan harga jual Rp18 ribu lebih, maka seharusnya harga jual diatas BEP,” tambahnya.

Ia menambahkan, murahnya harga ayam diakibatkan karena produksi yang berlebihan. Ia memaparkan, di Jawa Barat dalam satu periode panen selama 35 sampai dengan 40 hari mampu mencapai lima juta ekor ayam. Di Jawa Tengah lebih lagi. “Wajar harga di pasar tradisional mencapai Rp30 ribu per kilogram dan itu masih stabil bika dibandingkan dengan harga di kandang,” tuturnya.

Agung memaparkan, ketika jelang Idul Fitri, harga ayam hanya Rp45 ribu sampai Rp50 ribu/kg. Bahkan di tahun lalu mencapai harga Rp60 ribu/kg daging ayam tanpa kepala, kaki dan daleman atau jeroan.

Dirinya pun menepis jika kenaikan serta turunnya harga ayam tersebut dikarenakan permainan bandar. Itu dikarenakan mata rantai perdagangan dan pedagang lapak pun harus mempunyai untung.

Menurutnya, masyarakat ingin agar harga lebih murah. Padahal, untuk merawat ayam perlu mempertimbangkan sejumlah faktor. “Daripada menambah biaya pakan dan operasional, terpaksa ayamnya dijual dengan berat rata-rata minimal 1,5 kilogram hingga 1,8 kilogram. Karena apabila dijual lebih dari dua kilogram harganya lebih murah tapi biayanya tinggi. Kenapa murah? Karena pangsa pasar dua kilo susah,” tutupnya.

(kim)