Apa Kabar Mega Proyek Campaka?

Lahan kosong yang akan digarap Mega proyek Campaka

RADARCIANJUR.com – Mega proyek Campaka berakhir begitu saja, pasca operasi tangkap tangan (OTT) Bupati Cianjur non aktif, Irvan Rivano Muchtar yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Desember 2018 lalu. Aksi mesum pemuda hingga mabuk kerap terjadi di atas lahan seluas 40 hektar itu. Pemerintah Kabupaten (pemkab) Cianjur pun bimbang, lahan di Desa Cidadap, Kecamatan Campaka itu akan digunakan untuk apa.

Laporan: ABDUL AZIZ N HAKIM dan FADILAH MUNAJAT, Campaka

HAMPARAN tanah cokelat membentang. Gundukan tanah belum merata. Di kanan dan kiri area itu ditumbuhi ilalang. Tak ada aparat desa maupun kecamatan yang berjaga di sana. Warga sesuka hati bisa datang ke lahan komplek Campaka. Benar-benar sudah ditinggalkan.

13 bangunan yang rencananya akan berdiri di sana hanya sebatas ambisi. Hanya ada dua bangunan yang berdiri yaitu bangunan yang akan digunakan sebagai mess pemerintahan daerah (pemda) dan kantor kecamatan Campaka. Itu pun belum beres sepenuhnya. Belum ada daun pintu di sejumlah ruangan bahkan akses masuk bangunan.

Tapi, bangunannya diberi warna cat putih. Kusen jendelanya dari kayu. Pintunya pun sama terbuat dari kayu. Sama-sama sudah rapuh. Tempat tak berpenghuni itu pun kondisinya semakin tak terawat.

Catnya sudah mulai mengelupas. Laba-laba leluasa membangun sarang di sudut atas ruangan. Beberapa atapnya pun sudah mulai bolong. Terlalu lama bangunan itu tak dijaga. Ditinggalkan begitu saja. Kesempatan itulah yang menjadi daya tarik kaum belia untuk menggelar kegiatan negatif.

Mojok lalu pacaran. Pasangan yang kerap kali memadu kasih itu diketahui kerap datang ketika sore tiba sekitar pukul 15:30 WIB hingga pukul 17:30. Di sejumlah sisi bangunan pun masih ditemukan beberapa bungkus obat batuk dan botol minuman.

Benar-benar gelap dan tak ada penerangan. Namanya Ahmad Zulkifli (16). Remaja yang ditemui kemarin sore itu mengaku, senang datang ke area komplek Campaka untuk berswafoto. “Di sini mah memang sepi a. Kalau sore biasanya banyak yang nongkrong, malam kurang tau saya. Saya pulang (kalau malam) karena di sini gelap, enggak berani (pulang malam),” ujarnya sambil duduk di atas motor bawaannya.

Memang benar adanya. Apabila malam sudah tiba, kondisi di area komplek itu gelap gulita sama seperti saat menutup mata. Namun, cahaya masih bisa ditemui setelah masuk ke area sekitar 300 meter dari pintu masuk. Bangunan mess pemda yang ditinggalkan itu memiliki satu lampu yang menyala. “Kalau malam ya gelap, tidak ada pencahayaan tambahan. Cuma di dua bangunan (mess dan kantor kecamatan) aja yang terang,” ungkap staf Kecamatan Campaka, Endang.

Lalu apa yang akan dilakukan pemkab Cianjur? Pemkab nyatanya tak bisa berbuat banyak bahkan terkesan bingung. “Nanti ya. Kita lihat ke depannya,” ujar Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman saat ditemui di Kecamatan Cidaun pada Rabu (26/6).

Ungkapan itu berbanding terbalik dengan semangatnya Herman saat ditanya kelanjutan mega proyek Campaka pada Januari 2019 lalu. Kala itu, saat dicerca pertanyaan, Herman dengan tegas mengatakan, komplek akan digunakan sebagai obyek wisata penunjang situs Gunung Padang yang berada di dalam satu kawasan kecamatan Campaka.

Seiring berjalannya waktu, tak ada progres signifikan menuju pembangunan obyek wisata hingga saat ini. Pasalnya, pemkab justru masih menanti revisi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dari pemerintah provinsi (pemprov) Jawa Barat (Jabar). “Sekarang kita lagi membuat revisi tata ruang dan lagi dibahas di provinsi,” jawab Herman.

Terkait status kepemilikan tanah, lahan komplek Campaka merupakan lahan yang berasal dari pembebasan tanah milik warga. Saat akan dimulai awal pembangunan tahun lalu, muncul pemenang lelang yang menjadi pihak ketiga. Cut and fill dilakukan. Termasuk keberhasilan dua bangunan yang berdiri.

Semua ditabrak Irvan kala itu. Izin yang baru dikantongi berupa izin lisan dari Gubernur Jawa Barat. Belum lagi ganjalan moratorium yang diterbitkan pemerintah pusat, melalui Surat Menteri Keuangan Nomor S-841/MK.02/2014 tanggal 16 Desember 2014, terkait hal Penundaan/Moratorium Pembangunan Gedung Kantor Kementrian/Lembaga.

Tak senada. Beda Herman, beda juga dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Cianjur. Meski belum yakin, namun lahan itu akan digunakan untuk tempat berkemah. “Informasi yang saya dapat, rencananya akan dibuat camping ground,” tutur Kasi Perencanaan Bangunan Gedung Dinas PUPR, Yudi Agus Sumaji saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (28/6). (**)