Merawat Benda Pusaka Peninggalan Sejarah di Cianjur, Kental Nilai Mistis, Harga Capai Rp300 Juta

BUKAN SEMBARANG BENDA: Ketua padepokan Maung Bodas, Iman Nurjaman sedang memandikan benda pusaka menggunakan air sumur khusus. Foto Fadilah Munajat/ Radar Cianjur

RADARCIANJUR.com – Diakui atau tidak, di tengah kemajuan zaman yang sudah serba digital, keberadaan berbagai macam benda pusaka memang masih cukup melekat dalam budaya dan kehidupan masyarakat di Indonesia khususnya Cianjur. Sebagian menganggap benda-benda pusaka itu memiliki nilai mistis tersendiri. Sedangkan sebagian yang lain, melihat kandungan sejarah dan budaya luhur dalam sebuah benda pusaka seperti keris, tombak dan lain sebagainya.

Laporan: Fadilah Munajat, CIANJUR

MATAHARI sudah mulai menyingsing di barat dengan warna tembaga menyala saat Radar Cianjur menginjakkan kaki di Perguruan Maung Bodas Cianjur yang terletak di Desa Sukamulya, Kecamatan Warungkondang, Cianjur.

Kebetulan, bertepatan dengan hari Kamis, malam Jumat Kliwon. Kami pun disambut Ketua Paguyuban Maung Bodas, Iman Nurjaman di kediamannya yang cukup sejuk itu. Tampak, sejumlah benda-benda pusaka sudah berjajar di meja ruang tamunya. Ada keris, kujang, trisula, pedang, tusuk konde, batu cincin sampai jenglot.

Iman Nurjaman bertutur, pada malam Jumat Kliwon merupakan waktu yang tepat untuk memandikan berbagai benda pusaka miliknya itu. Tujuan memandikan atau membersihkan benda pusaka itu tidak lain agar menjaga koleksinya benar-benar terjaga baik. Mengingat usianya yang sudah cukup tua.

“Nyuci pusaka ini adalah tradisi setiap malam Jumat Kliwon, turun temurun sejak dahulu kala. Kalau rutin setiap tahunnya yang pas 1 Muharram dan tanggal 12 Rabiul Awal,” ungkapnya.

Bukan hanya dirinya. Cuci benda pusaka itu juga dilakukan santri-santrinya di padepokan yang memiliki benda-benda pusaka. Prosesi cuci benda pusaka itu dilakukan bersama-sama pada malam hari.

Dalam menyucikan pusaka-pusaka itu, Iman tidak menggunakan air sembarangan. Hanya boleh menggunakan air yang berasal dari sumur tua di sekitaran padepokan Maung Bodas. Selain itu, juga harus ditambahkan dengan kembang tujuh rupa dan minyak wanggi khusus. “Semua itu dicampur jadi satu, lalu satu persatu pusaka dimandikan dengan cara dicium dulu, baru dibersihkan, biar tetap terjaga,” ungkap Iman.

Menurut Iman, benda-benda pusaka yang dimilikanya itu adalah warisan leluhur. Bahkan ada beberapa jenis benda pusaka yang usianya lebih dari 100 tahun. “Nanti saya akan membuat semacam museum untuk memajangkan pusaka-pusaka ini,” katanya.

Iman mengatakan, dari berbagai jenis pusaka yang dimilikinya, masing masing memiliki khasiat dan kegunanan. Keris Semar Mesem misalnya. Keris ini bisa dijadikan sebagai sarana pelet. “Bagi mereka yang cintanya bertepuk sebelah tangan, khasiat ini tentu akan sangat membantu,” kata Iman.

Dalam prosesnya, jelas Iman, keris Semar Mesem ini dipercaya membalikkan hati seseorang. Dari yang awalnya acuh menjadi penuh perhatian, dari yang awalnya biasa saja menjadi jatuh cinta.

Meski demikian, Iman menegaskan bahwa hal itu bukan berarti semua dilakukan oleh keris Semar Mesem itu. Iman menanalogikan, bak seseorang yang hendak menyeberani jurang, ia harus melintasi jembatan. “Jadi keris Semar Mesem ini hanyalah jembatan yang akan digunakan untuk menyebrang,” terangnya.

Selain itu, ia menambahkan, bahwa satu-satunya yang bisa mewujudkan itu tak lepas dari ijabah Allah SWT. Karena itu, ia mengingatkan, tidak ada benda apapun di dunia ini yang bisa menuruti doa atau keinginan seseorang. “Segala sesuatunya dikembalikan pada Gusti Allah. Jangan percaya pada benda pusaka, bisa berakibat musrik,” wantinya.

Sementara, Andi Tar (45), mengaku sudah mulai tertarik dengan benda-benda pusaka sejak dirinya masih duduk di bangku kuliah pada 1995 silam. Sejak saat itu, dirinya mulai menjadi pelestari dan penghobi benda pusaka.

Sambil duduk bersila dan membuka sebilah kujang dari sarungnya. Andi mengatakan jika ia sudah mulai usaha barang antik sejak kuliah. Namun, kata Andi, saat itu ia belum mengoleksi benda pusaka.

Karena mulai menemukan ketertarikan terhadap benda-benda pusaka, ia pun berani menjajal usaha di bidang barang-barang antik. Di usaha itu pula, ia akhirnya mulai banyak berkenalan dengan sesama peminat benda antik dan benda pusaka. “Persisnya sekitar tahun 2014 saya mulai hobi koleksi batu akik dan pusaka,” katanya.

Andi Tar lalu bercerita, benda pusaka miliknya didapat dari sejumlah daerah. Selain Cianjur, juga Ciwidey, Tasikmalaya, sampai Sumedang dan Cirebon. “Cari di pelosok kampung-kampung,” tuturnya.

Dalam melakukan perburuan benda pusaka, ia menentukan beberapa kriteria keaslian serta perawatan benda pusaka. Termasuk sejarah dan cerita dari pemegang terakhir benda pusaka tersebut. “Ada prosesinya sebelum menarik pusaka. Itu juga bukan hal yang mudah,” ungkapnya.

Lantaran makin banyak berkenalan dengan sesama pelestari benda pusaka, lantas bersepakat membentuk sebuah wadah yang diberi nama Paguyuban Kujang Pusaka Nusantara pada 2014 dan berkembang di wilayah lain di Jawa Barat. “Dideklarasikan di Cianjur pusatnya Dewan Pimpinan Nasional, akhirnya dibentuk DPD di beberapa wilayah di Jawa Barat,” kata Andi.

Andi menyebut, berbagai benda pusaka itu juga bisa dipindahtangankan dari satu pemilik ke pemilik lainnya. Ada yang dibeli, barter atau tukar tambah. Jika dimahar, kisaran berada di angka Rp15 juta sampai Rp50 juta. Bahkan, tak sedikit yang maharnya mencapai Rp300 juta.

Seorang pelestari benda pusaka lainnya, Dadan Suganda (40), warga Kampung Babakan Laban, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, mengatakan, ada beragam bentuk benda pusaka. Hal tersebut diidentifikasi terbentuk dari ciri khas daerah. Seperti di Jawa Barat ada sekitar 192 bentuk kujang. “Masing-masing daerah memiliki perbedaan bentuk kujang. Ada sekitar 192 bentuk kujang yang telah ditemukan. Yang terkenal memang Kujang Ciung Wanara dari Garutan,” kata Dadan.

Dadan mengatakan kujang Ciung Wanara bentuknya seperti burung di bagian atas dan hewan monyet di bagian bawah. “Setelah zaman kemerdekaan banyak dibuat kujang baru dari bahan kuningan dan diperjelas bentuk burung dan monyetnya,” kata Dadan.(**).