Brrr… Gunung Gede Pun Membeku

Gunung Gede Pengarango

RADARCIANJUR.com – Gunung Gede membeku. Embun yang mengendap karena suhu dingin menjadi butiran kristal berbagai ukuran. Embun beku ini memenuhi semua bagian luar tenda pendaki.

Peristiwa embun beku di Gunung Gede ini pertama kali diketahui melalui akun instagram @anugrahdicka. “GUNUNG GEDE BEKU ! Ga kalah dari Dieng dan Semeru kali ini gunung gede juga ikut membeku. Kejadian hari Rabu pagi kemarin. ?? Alun alun Surya kencana,” postingnya di dinding instagram melalui video.

Tak butuh waktu lama, video itu langsung viral. Sejumlah pengguna akun lainnya pun turut memberikan komentar. Meski ramai, ternyata salju di puncak gunung berketinggian 2.958 Mdpl itu merupakan fenomena yang lumrah.

Pendaki yang juga anggota Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Niko Subarkah menjelaskan salju yang saat ini heboh diperbincangkan hanyalah embun yang mengendap karena suhu dingin kemudian menjadi butiran kristal berbagai ukuran.

“Itu fenomena biasa, suhu Indonesia lagi turun karena cuaca kemarau. Kemudian terpengaruh iklim Australia yang memang saat ini sedang musim dingin sehingga pengaruh ke Indonesia. Fenomena ini juga sering terjadi tiap tahun di antara bulan Juni, Juli dan Agustus, puncaknya di bulan Agustus,” ujar Niko, Minggu (30/6).

Niko juga mematahkan pihak yang menyebut suhu Gede Pangrango saat ini ekstrim. Menurutnya suhu baru bisa disebut ekstrim ketika hujan dan badai mempengaruhi suhu di bawah normal hingga mencapai -2 derajat celsius hingga -3 derajat. “Kalau menurut pemandu seperti itu, ini yang sering kita ingatkan kepada para pendaki. Apa-apa saja yang harus dipersiapkan untuk menghindari hipotermia,” jelasnya.

Menurutnya Gunung Gede saat ini suhu rata-rata di puncak 18 derajat celsius dan di malam hari suhu puncak berkisar 5 derajat celsius. Kondisi ini dianggap masih stabil oleh pendaki yang biasa naik hingga ke puncak.

“Kemungkinan kalau Juli masih kemarau sampai Agustus baru bisa mencapai minus baru Jawa Tengah dan Jawa Timur yang sudah minus. Ini melihat pada karakter Jawa Barat kondisi dataran pegunungannya berbeda dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur,” tutur dia.

Untuk butiran es biasanya berada di ketinggian 2.500 mdpl kondisi itu juga tergantung pada suhu dan curah hujan.

“Kalau kemaraunya panjang biasanya suhu bisa mencapai 15 derajat (siang) 5 derajat untuk malam bisa mencapai 1° juga kalau jam subuh,” ungkap dia.

Fenomena butiran es di puncak Gede Pangrango juga dibenarkan Humas Balai Besar TNGGP, Ade Bagja Hidayat. Kondisi itu disebut Ade tidak terjadi setiap malam. “Ada beberapa tidak setiap malam, berembun menjadi kristal, ketika agak siangan mencair kembali. Bukan salju turun lalu menghampar, fenomenanya terlalu dibesar-besarkan,” ungkap Ade.

Terkait perubahan cuaca dan kategori ekstrim di Gunung Gede Pangrango, Ade menjelaskan pihaknya selalu berkoordinasi dengan BMKG. Namun agenda tahunan antisipasi musim kemarau pihaknya akan memberlakukan penutupan jalur pendakian.

“Untuk update cuaca kita selalu mendapatkan dari BMKG, tapi bentuk agenda tahunan waspada kebakaran hutan kita siaga satu kita berlakukan penutupan di jalur pendakian,” ujar Ade.

(dtk)