Jawa Barat Diperkirakan Bakal Alami 64 Hari Tanpa Hujan

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Kabupaten Cianjur wajib bersiap menghadapi musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan puncak musim kemarau tahun ini diprediksi pada Agustus mendatang. Jawa Barat dianalisa akan mengalami kekeringan ekstrem selama 64 hari atau dua bulan lebih.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Sugeng Supriyatno mengatakan, belum mengetahui secara pasti informasi yang disampaikan BMKG. Untuk itu, pihaknya belum melakukan tindakan apapun dan masih menanti sebaran surat resmi dari BMKG guna penanganan musim kemarau.

“Biasanya kita menerima surat tersebut terlebih dahulu untuk penanganannya nanti. Jadi nanti kalau sudah ada (surat, red), kita akan rapatkan dengan pimpinan (Plt Bupati Cianjur, red),” ujarnya kepada Radar Cianjur.

Ia menjelaskan, Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman pun belum memberikan instruksi apapun terhadap BPBD Cianjur, sehingga pihaknya tidak mau melakukan tindaklanjut tanpa ada instruksi.

Terkait wilayah yang akan berdampak parah pada kemarau tahun ini, dirinya tidak mau memprediksikan terlalu jauh. Baginya yang ditakutkan yaitu malah berdampak pada keresahan masyarakat. “Kita tidak bisa memprediksikan wilayah terparah dan belum melakukan pengawasan serta pemantauan. Yang dikhawatirkan, peristiwa kekeringan tahun lalu tidak akan sama dengan tahun ini. Untuk itu, masyarakat tetap diimbau untuk waspada dan memberikan informasi sekecil apapun kepada aparat maupun petugas setempat,” tuturnya.

Perlu diketahui, kemarau 2019 akan didominasi cuaca panas sehingga berpotensi memperburuk kualitas udara di perkotaan. Musim kemarau tahun ini lebih kering dari 2018. Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan menuturkan, musim kemarau 2019 dipengaruhi fenomena el nino. Meski, intensitasnya kecil.

”Oleh karena itu, musim kemarau tahun 2019 akan terasa lebih kering dibandingkan 2018,” kata Dodo. Memasuki bulan Juli, hampir semua daerah di tanah air sudah mulai masuk musim kemarau.

Musim kemarau yang panas dan terik, lanjut dia, berpotensi meningkatkan polusi udara di perkotaan. Emisi gas yang dikeluarkan kendaraan bermotor maupun pabrik industri terperangkap di atmosfer. Kondisi tersebut membuat suhu di atmosfer lebih tinggi daripada suhu di permukaan bumi.

”Kondisi tersebut yang disebut sebagai inversi. Sehingga lapisan atmosfer susah untuk menguraikan polutan,” jelasnya. Tak ayal, cuaca saat ini menyebabkan polusi semakin meningkat. Yang tentunya membuat suhu udara di perkotaan semakin panas.

Guru Besar Bidang Tanah Universitas Gadjah Mada Azwar Maas mengatakan, kekeringan bisa diantisipasi dengan konservasi air. Lebih efisien dalam menggunakan air, membuat sumur resapan, dan embung atau kolam untuk menampung dan menyimpan air saat musim hujan. Yang lebih penting, kata Azwar, adalah menjaga ekosistem hutan yang alami. Hutan terdiri dari tanaman yang sangat heterogen.

Tidak monokultur seperti tanaman yang ada di taman. Sebab, tanaman di hutan tumbuh secara alami. Mayoritas, memiliki akar tunggang yang kuat menancap ke dalam tanah untuk mencari air. ”Maka dari itu hutan tropis kaya dengan air. Sementara, tanaman di taman itu mereka cenderung mendapat suplai air. Justru itu yang harus kita kurangi. Menggunakan air secara bijak,” urai Azwar.

Musim kemarau di tahun 2019 diperkirakan akan menjadi musim kemarau yang cukup panjang, pasalnya beberapa provinsi akan mendapatkan waktu yang cukup panjang salah satunya Jawa Barat. Diperkirakan Jawa Barat akan mengalami musim kemarau selama 64 hari, tentu hal ini perlu kesiap siagaan yang serius dalam menangani musim kemarau.

(kim)