Manfaatkan Limbah di Pantai Agrabinta, Mengubah Sampah jadi Rupiah

KREASI: Kujang dari limbah batok kelapa yang bahannya didapat dari memilah sampah di sepanjang Pantai Jayanti, Kecamatan Agrabinta. Dari olah kreatifitas dan seni itu, para perajin bisa menghasilkan produk yang mendatangkan rupiah. Bahkan, ada produk yang sudah dikirim ke luar negeri.

RADARCIANJUR.com – Sampah selalu menjadi hal yang paling mudah ditemukan, dimanapun dan kapanpun. Jika berserakan, sudah tentu akan membuat pemandangan menjadi kurang mengenakkan bagi mata yang memandang. Selain itu, tak jarang, sampah juga menimbulkan bau yang cukup menyengat jika terus menerus dibiarkan menumpuk. Pun demikian di Pantai Jayanti, Agrabinta yang notabene adalah salah satu destinisi wisata yang dimiliki Cianjur. Tapi bagi sekolompok warga, sampah di sepanjang pantai itu malah menjadi pundi-pundi rupiah.

Laporan: Mamat Mulyadi, AGRABINTA

Sebagai salah satu destinasi wisata di Kecamatan Agrabinta, Pantai Jayanti menjadi salah satu pilihan untuk berlibur bersama keluarga. Sayangnya, tak sedikit sampah yang berserakan di sepanjang garis pantai.

Sampah itu pun beragam. Mulai dari plastik sisa makanan dan minuman, kayu atau ranting dahan pohon, sampai kelapa yang sudah busuk. Jelas, saat sampah-sampah itu menumpuk dan tak segera dibuang, maka mengurangi keindahan pantai yang berbatasan langsung dengan Australia tersebut.

Tak hanya itu, bagi wisatawan, sampah tentu akan membuat kapok untuk mengulang mengunjungi Pantai Jayanti. Akibatnya, bukan hanya wisatawan yang jadi antipati, tapi juga mempengaruhi pendapatan warga yang menggantungkan hidup dari wisata Pantai Jayanti.

Namun, keberadaan sampah itu dilihat berbeda oleh orang yang mampu mengubah dan mengolahnya menjadi sebuah produk yang bernilai ekonomis cukup tinggi. Seperti yang dilakukan Paguron Pencak Silat Pusaka Tali Kerta (PPSPTK) di Desa Mekarsari, Kecamatan Agrabinta ini.

Dari sejumlah sampah yang terhampar di Pantai Jayanti, mereka lantas mengubahnya menjadi barang yang layak jual dan menghasilkan pundi-punci rupiah. Seperti tempurung kelapa, salah satunya.

Ketua PPSPTK, Sarana Tunggal (26) mengatakan, Cianjur selatan sejatinya memiliki potensi yang cukup luar bisa. Tempurung kelapa yang sudah tidak berguna lagi itu, dengan sedikit sentuhan kreatifitas, maka akan memilki nilai jual.

“Semua bahan didapat dari sampah (tempurung kelapa) yang ada di sepanjang pantai. Dikumpulkan, lalu diolah sedemikian rupa untuk menghasilkan produk kreatifitas dan memiliki nilai seni,” tuturnya.

Sejumlah produk yang bisa dihasilkan dari limbah tempurung kelapa itu, mulai dari gantungan kunci, ukiran dan miniatur, hiasan dinding, hingga produk rumah tangga atau meja kursi yang dibuat dari kayu-kayu sisa yang ditemukan di pantai. Namun, hal itu tergantung dari tempurung kelapa dan limbah kayu yang didapat.

Selain itu, limbah tersebut juga bisa satu set teko, meja kursi, perah bedo lukisan serta lainnya. “Sampai saat ini produksinya masih tergantung pesanan saja. Tapi semua produk asalnya dari limbah,” ungkap pria yang akrab disapa Rana itu.

Rusman (30), salah seorang pengerajin limbah tempu
rung kelapa
menyebutkan, harga yang dipatok untuk setiap produk kreasi itu beragam. Mulai dari yang termurah Rp5000 sampai dengan di atas Rp1 juta.

“Untuk cangklong itu dihargai Rp100 ribu. Kalau yang paket bisa Rp300 ribu. Sedangkan yang lain ada yang mencapai Rp1 juta,” ungkapnya.

Dari hasil oleh limbah di Pantai Jayanti itu, lanjutnya, barang produksi sudah dijual sampai ke luar daerah, bahkan ke luar negeri.

“Pemasaran sampai saat ini sudah sampai Garut dan Bogor. Pernah juga untuk dikirim ke Jepang,” tuturnya.

(**)