Rosidin : Uang Hasil Pemotongan DAK Untuk Beli Kendaraan

DUDUK BERJEJER: JPU memanggil sembilan saksi sidang lanjutan kasus dugaan korupsi mantan Bupati nonaktif Cianjur, Irvan Rivano Muchtar.

RADARCIANJUR.com – Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, Rosidin mengakui menggunakan uang hasil pemotongan dana alokasi khusus (DAK) fisik untuk keperluan pribadi, di antaranya membeli kendaraan bermotor. Kendati demikian, ia membantah pemotongan 7 Persen DAK atas inisiatif dirinya.

“Saya belikan mobil Rp150 juta dan motor Rp30 juta, itu dari uang pemotongan DAK. Digunakan untuk kepentingan pribadi,” ujar Rosidin saat bersaksi di persidangan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Senin (1/7).

Rosidin merupakan terdakwa kasus pemotongan DAK melibatkan terdakwa Bupati Cianjur Irvan Rivano Mochtar, Kadisdik Cianjur Cecep Sobandi dan keponakan bupati, Irvan Rivano Mochtar. Rosidin bersama Cecep terkena tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) usai menerima uang pemotongan DAK untuk 137 SMP.

Dalam kesaksiannya, Rosidin mengatakan Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur mendapat alokasi DAK fisik SMP sebesar Rp48,8 miliar yang diperuntukkan bagi 137 SMP negeri dan swasta di Kabupaten Cianjur. Pencairan dibagi dalam tiga tahap.

“Pada tahap I dipotong hingga Rp1 miliar. Tahap 2 dipotong totalnya Rp2,4 miliar peruntukannya Rp1,35 miliar untuk untuk pak kepala dinas, untuk campaka Rp 915 juta dan sisanya dibagi-bagi termasuk untuk saya. Tahap 3 dipotong Rp1,6 miliar, Rp910 juta untuk pak kepala dinas dan sisanya saya keburu ditangkap tangan KPK,” kata Rosidin.

Seperti diketahui, dari Rp48,8 miliar DAK yang cair, 17,5 persennya dipotong. 7 persen untuk Irvan dengan dalih untuk pembiayaan politik pada 2018. 8 persennya untuk Cecep Sobandi dan Rosidin serta ‎2,5 persen untuk pengurus Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) serta ketua Sub Rayon.

Rosidin mengatakan, awalnya pemotongan hanya untuk Irvan Rivano Mochtar saja. Itupun atas perintah Irvan sendiri kemudian secara teknis diatur oleh TB Cepy Setiady. “Di perjalanan, pak kepala dinas dan saya berpikir bagaimana jika nanti ada hal-hal teknis dan di luar dugaan yang membutuhkan dana. Dari situlah kemudian muncul angka 8 persen,” ujar Rosidin.

Muncul lagi bahasan dari‎ pengurus MKKS dan subrayon sehinga dianggarkan 2,5 persen dengan cara memotong DAK yang sudah dicairkan.
“Istilahnya dana taktis, dana kebersamaan. ‎Saya akui itu salah,” tuturnya.

Rosidin membantah jika pemotongan dana alokasi khusus (DAK) sebesar 10,5% di luar permintaan Bupati Cianjur 7 persen atas inisiatif dirinya. Dalam sidang yang dipimpin Daryanto, Rosidin bersaksi untuk tiga terdakwa lainnya, yakni Bupati Cianjur nonaktif Irvan Rivano Muchtar, Kadisdik Cianjur Cecep Sobandi dan Tubagus Cepi Setiady.

Dalam persidangan sebelumnya, Kadisdik Cianjur Cecep Sobandi mengaku jika dirinya hanya memerintahkan pemotongan 7 persen sesuai permintaan Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar. Cecep pun mengaku, jika pemotongan 10% berasal dari Rosidin. “Para saksi sebelumnya bilang itu inisiatif saudara saksi, termasuk Pak Cecep (Kadis),” tanya ketua majelis Daryanto.

Rosidin tetap bersikukuh. “Tidak yang mulia, itu semua hasil kesepakatan ketua MKKS dan Sub Rayon di Hotel Signature,” jawab Rosidin.

(tri/ini)