Dampak Kemarau, 88 Hektar Sawah di Cianjur Gagal Panen

Ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Musim kemarau yang melanda di sejumlah wilayah di Indonesia nampaknya turut juga dirasakan di Provinsi Jawa Barat, khususnya Kabupaten Cianjur. Tentunya hal tersebut membuat keresahan masyarakat yang berprofesi sebagai petani padi.

Lahan sawah di Kabupaten Cianjur yang terkena dampak kemarau berjumlah sekitar 853 hektar. Kerusakan lahan tersebut beragam, dari mulai kecil, sedang, besar dan fuso (terparah).

Kerusakan kecil seluas 504 hektar, sedang 240 hektar, besar 240 hektar dan fuso 88 hektar.
“Musim kemarau saat ini memang sudah dibahas kemarin (Senin, red) di Bandung bersama dengan Kodam Siliwangi, Pemprov Jabar dan perwakilan pimpinan daerah kota maupun kabupaten, tentunya tidak hanya dirasakan oleh Cianjur saja,” ujar Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan dan Holtikultura Kabupaten Cianjur, Mamad Nano.

Anomali iklim saat ini di Benua Asia sama seperti di Benua Afrika, sehingga cuaca yang panas melanda akan sangat begitu terasa. Begitu pun sebaliknya, jika cuaca hujan pun akan terjadi dengan begitu lebat.

Selain dari faktor cuaca, lanjutnya, saat ini tempat resapan air tidak dan bahkan konservasi hutan sebagai penampung air sudah mulai berkurang akibat penebangan liar.

Dirinya memprediksikan, kerugian yang nantinya diterima sebanyak 3800 ton padi gagal panen. “Kalau melihat seperti ini, kita memprediksikan 3800 ton padi gagal panen, karena kan pesawahan itu memerlukan air yang cukup banyak,” tambahnya.

Sebaran daerah yang saat ini terkena dampak kemarau terparah sudah masuk dalam data Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan dan Holtikultura Kabupaten Cianjur yakni Cibeber, Cibinong, Naringgul dan Karangtengah.

“Tim di lapangan setiap hari memberikan laporan mengenai kekeringan yang sedang melanda Cianjur, jadi kita terus memonitoring dan melakukan pengawasan tentunya,” jelasnya.

Tak tinggal diam. Pihaknya pun saat ini melakukan pompanisasi yaitu menggali tanah di tempat yang memang masih ada air untuk pengairan sawah serta memberikan arahan kepada petani untuk beralih ke penanaman palawija.

“Kita tidak tinggal diam pastinya, berbagai upaya kita lakukan untuk wilayah yang masih bisa ditangani tapi selain dari yang sudah parah ya (fuso, red). Karena itu kemungkinan sudah tidak bisa tertolong, namun kembali lagi ke Yang Maha Kuasa, ini kan atas kehendak Nya yang sudah diatur dan kita berdoa agar ini cepat berlalu,” tutupnya.

(kim)