Lho, Disnakertrans Cianjur Belum Terima Laporan Jobfair

RELA PANAS-PANASAN: Calon tenaga kerja yang rela berpanas-panasan di Lapang Prawatasari, Kemarin (25/06).

RADARCIANJUR.com – Pasca digelarnya job fair beberapa waktu lalu, hingga saat ini, Dinas Tenaga Kerja (Disanakertrans) Kabupaten Cianjur belum menerima data karyawan yang diterima oleh masing-masing perusahaan.

Kabid Penempatan Tenaga, Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Cianjur Kerja, Riki Ardi Hikmat mengatakan, saat dgelarnya job fair lalu, tersedia lowongan untuk 3.500 orang tenaga kerja yang akan ditempatkan di 30 perusahaan.

“Hingga sekarang kami belum menerima laporan siapa saja yang diterima kerja,” katanya (3/7).

Menurutnya, setelah job fair dilaksanakan, setiap perusahaan peserta job fair harus melaporkan data tenaga kerja yang baru diterima ke Disnakertrans Cianjur. “Mungkin saat ini masih proses seleksi untuk calon karyawan yang diterima,” ujarnya.

Ia mengatakan, berdasarkan pantauan pihaknya, PT Pouyuen saat ini sedang melakukan proses pemanggilan calon karyawan. “Sejak job fair hingga sekarang belum satu bulan, biasanya perusahaan melaporkan data calon karyawan yang diterima satu bulan setelah job fair,” katanya.

Menurutnya, untuk perusahaan yang memang banyak membuka lowongan kerja, bisanya mereka membutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk memberikan laporan secara tertulis data calon karyawan yang diterima.

“Untuk tahun kemarin saja perusahaan yang banyaak menerima calon tenaga kerja butuh waktu dua bulan untuk memberikan laporan,” katanya.

Riki Ardi Hikmat mengatakan, berdasarkan data dari pembuatan kartu kuning, jumlah para pencari kerja di Kabupaten Cianjur pada tahun 2017 berjumlah 29.995 orang.

Dari puluhan ribu orang itu, tak sampai separuhnya sudah mendapatkan pekerjaan, yakni mencapai 10.203 orang. Sementara pada tahun 2018, jumlah pencari kerja tercatat sebanyak 31.576 orang dan hanya 12.280 orang diantaranya yang mendapat pekerjaan.

“Untuk data jumlah pengangguran kita hanya bisa melihat dari jumlah pembuat kartu kuning, karena untuk jumlah secara keseluruhan itu ada di BPS,” jelasnya.

Riki menambahkan, rata-rata para pencari kerja berdasarkan pembuatan kartu kuning yang sudah mendapat pekerjaan, adalah mereka yang lulusan SMA sederajat dan sarjana. “Kalau lulusan SMP ke bawah prosentase mendapatkan pekerjaan cukup kecil,” ungkapnya.

Untuk mengurangi jumlah pengangguran di Cianjur, lanjutnya, pihaknya juga sudah melakukan berbagai upaya. Diantaranya, dengan menggelar bursa kerja, juga beragam pelatihan yang diperuntukan bagi para pencari kerja seperti pemagangan yang dikhususkan untuk lulusan SMK.

“Dari pemagangan itu banyak akhirnya bisa diterima di perusahaan-perusahaan,” katanya.

Plt Bupati Cianjur Herman Suherman pernah mengatakan, selama ini pihaknya sudah menargetkan bisa menyedot 100 ribu tenaga kerja yang direalisasikan dalam jangka lima tahun periode kepemimpinnya. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menggelar job fair.

“Allhamdulilah, sesuai janji kampanye terdahulu, saat ini segala progres sudah terpenuhi. Sekarang kita sudah masuk ke tahun ke tiga,” katanya.

Sayangnya, target 100 ribu tenaga kerja itu dipastikan Herman tak akan bisa terealisasi 100 persen. Pasalnya, dengan regulasi saat ini, pimilihan kepala dearah di Cianjur akan digelar pada 2020. Artinya, masa kepemimpinannya hanya berlangsung selama empat tahun, bukan lima tahun.

“Yang semula target 100 ribu tenaga kerja tidak akan tercapai karena waktunya hanya empat tahun,” katanya.

Terpisah, Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Cianjur Heri Suparjo menambahkan, tercatat pada job fair hari pertama ini lebih dari lima ribu orang yang mendaftar untuk memperebutkan 3500 lowongan pekerjaan di 30 perusahaan.

“Sisanya kita akan siapkan lagi tahun depan,” katanya.

(dil)