5 Hal Unik yang Jadi Tren Pernikahan Kekinian Bagi Milenial

ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Menikah adalah hal sakral sekali seumur hidup. Maka setiap hal detail pasti dikemas dengan terencana dan matang oleh pasangan dan keluarga pasangan. Tren pernikahan di era media sosial memang semakin berkembang. Para milenial tak mau menikah dengan kemasan kuno. Mereka ingin kekinian agar menjadi inspirasi bagi para warganet dan teman-temannya.

Weddingku bersama dengan Dyandra Promosindo kembali menghadirkan The Real Biggest Wedding Exhibition yaitu Jakarta Wedding Festival (JWF) 2019. Pameran akan diselenggarakan pada 26-28 Juli 2019 di Jakarta Convention Center dan menghadirkan berbagai vendor pernikahan untuk membantu calon pengantin mewujudkan pernikahan impian mereka.

Mengambil tema ‘Urban’ yang menggambarkan dinamisme pergerakan dan energi dari Jakarta sebagai Ibukota. JWF akan dihadiri lebih dari 500 vendor untuk berbagai keperluan pernikahan. JWF 2019 akan menghadirkan kategori vendor mulai dari gaun pengantin, vendor tradisional, catering, destinasi bulan madu, hotel dan venue, wedding vendor ideas, hingga koleksi cincin pernikahan.

“Melihat demografi Indonesia pada tahun 2019 hingga 2024 akan didominasi oleh kelompok usia 20-25 dan 26-30 tahun dan jumlah populasi ini tentu sangat mendorong perkembangan industri ini. Maka dari itu pada JWF kali ini mengangkat konsep pernikahan tradisional yang dipadankan dengan moderniasai kaum urban,” ungkap Chief Operating Officer Weddingku, Reza Paramita, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (3/7).

Maka tren kemasan pernikahan milenial atau kaum urban juga terus inovatif. Selain melibatkan Wedding Organizer (WO), biasanya milenial punya konsep-konsep unik dari mulai busana, venue, dan tamu undangan yang hadir. Pakar Pernikahan Tradisional Danny Iskandar dan Wedding Expert Hengki Wirawan menyebutkan berbagai hal yang kini semakin tren atau banyak digelar para pasangan pengantin milenial.

1. Pernikahan Adat Tradisional

Pakar Pernikahan Tradisiomal Danny Iskandar menjelaskan pernikahan dengan adat tradisional jauh lebih mahal biayanya dibanding pesta pernikahan internasional. Ada beberapa faktor yang menjadi alasan. Pertama, karena menikah dengan adat tradisional selalu menggunakan bunga yang segar. Kedua, menikah secara tradisional akan melibatkan orang yang lebih banyak seperti tarian lebih dari 20 orang. Kemudian rangkaian yang panjang sesuai adat juga akan memakan biaya.

“Rata-rata biaya pernikahan tradisional lebih tinggi 30 persen dari pernikahan biasa. Namun pernikahan tradisional saat ini mulai jadi tren lagi. Pasangan milenial merasa lebih menarik di media sosial dengan menikah konsep tradisional,” ujarnya.

Maka tips untuk membuat keluarga tak berbeda pendapat atau berselisih paham dalam menyiapkan pesta adat tradisional adalah semuanya harus bisa berembug menemukan solusi. Misalnya jika mempelai berasal dari daerah yang berbeda, bisa menyiasatinya dengan busana adat daerah asal perempuan saat akad, lalu busana adat daerah laki-laki saat resepsi. Atau bisa memulai rangkaiannya dari sebelum pra nikah.

2. Pengantin Berbusana Syar’i

Saat ini sedang populer juga momen menuju hijrah menjadi lebih berpakaian syar’i. Untuk itu para pengantin dengan busana syar’i biasanya disiasati dengan busana yang tidak ketat. Sehingga mereka akan lebih nyaman sesuai syariah. Pengantin dengan konsep syar’i juga kian populer pada kaum urban.

“Kalau mau pakai busana syar’i untuk adat tradisional juga bisa disiasati dengan kain-kain daerah yang tak ketat. Misalnya dari kain songketnya atau hiasannya tetap tradisional tanpa mengurangi makna syar’i itu sendiri,” jelas Danny.

3. Jumlah Undangan

Saat ini tren undangan pernikahan via media sosial dan WhatsApp sudah lebih tren ketimbang harus menyebar undangan. Resikonya, hal itu akan membuat jumlah tamu lebih membludak dari kuota. Karena undangan akan lebih mudah tersebar. Wedding Expert Hengki Wirawan meminta para calon mempelai mempertimbangkan hal itu.

“Bahkan sudah banyak milenial yang membuat waktu pernikahan dengan jam yang berbeda. Misalnya siang hari khusus untuk tamu orang-orang tua teman-teman orang tuanya. Lalu malam hari adalah anak-anak muda teman mempelai,” ungkap Hengki.

4. Katering

Tamu yang membludak membuat jumlah makanan katering sebaiknya dilebihkam 10 persen. Perhatikan juga jika yang menikah adalah anak pertama, anak terakhir, anak tunggal, anak laki-laki satu-satunya, anak perempuan satu-satunya.

“Maka jika begitu, tamu kemungkinan hadir 90-95 persen. Dan belum lagi jika ada undangan di luar kota atau luar negeri, ada 10 persen saja harus dipikirkan tambah katering,” katanya.

Apalagi setiap suku di Indonesia memiliki karakter yang unik. Hengki menyebutkan karajter orang Sumatera dan Sulawesi banyak sekali menyantap karbohidrat. Maka pilihan menu sebaiknya harus makanan berat mengandung karbohidrat yang banyak. Lalu daerah-daerah tertentu juga suka makanan pedas. Selain itu pertimbangkan pula pada buffet dan gubukan atau foodstall.

5. Kids Corner

Saat ini banyak milenial yang menikah muda. Maka para milenial yang menikah biasanya akan mengundang tamu yakni teman-teman mereka keluarga muda dengan anak-anak kecil. Saat ini sudah semakin banyak konsep venue pernikahan yang memberikan ruang bukan hanya untuk tamu VIP, tetapi juga untuk anak-anak dalam konsep Kids Corner.

“Sudah ada juga tuh pernikahan yang minta dibikinkan Kids Corner. Maka nanny atau susternya bisa duduk terpisah selama orang tuanya sedang kondangan di resepsi. Makanan pun disajikan yang ramah anak atau enggak pedas,” tutup Hengki.

(jp)