BNI Siap Investasi Rp360 miliar untuk LinkAja

SAHAM: Jajaran staf dan direksi PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) usai menyatakan komitmennya perihal rencana penyetoran modal PT Finarya.

RADARCIANJUR.com– SEJUMLAH Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan komitmennya perihal rencana penyetoran modal PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), sebagai perusahaan teknologi finansial pembayaran dan pengelola dompet digital (e-wallet) LinkAja.

Salah satunya PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) yang mengungkap porsi setoran modal Grup BNI ke Finarya antara lain sebesar Rp360 miliar.

Wakil Direktur Utama BNI, Herry Sidharta menjelaskan, lewat penyertaan modal tersebut pihaknya akan memiliki kepemilikan saham sebesar 19,7 persen, dengan catatan tidak ada BUMN lain yang ikut menjadi investor.

“Apabila ada BUMN yang ikut serta investasi pada tahun ini, maka porsi kepemilikan menjadi 17 persen,” terangnya.

Bank berlogo 46 ini mengungkapkan, penyertaan modal ini akan dilakukan melalui dua tahap, tahap pertama, yaitu pada akhir Juli 2019 dan tahap kedua pada Desember 2019.

Sebelumnya BNI akan mendirikan perusahaan modal ventura, hal ini dilakukan untuk memenuhi ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), setidaknya, perseroan sudah menyiapkan modal sebesar Rp250 miliar.

Adapun, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Telkom mengatakan ada tiga proses tahapan yang akan dilakukan perihal rencana penyertaan modal BUMN ke LinkAja.

Tahap pertama, akan dilangsungkan paling lambat 31 Juli 2019 dengan jumlah total saham baru yang akan diterbitkan oleh Finarya sejumlah 66.526 dengan nilai penyetoran Rp665,26 miliar.

Pada tahap ini, investor yang akan melakukan penyetoran yakni Telkomsel, Entitas dalam Mandiri, BRI, BNI, Jiwasraya dan Danareksa melalui Entitas (anak usaha) masing-masing.

Kemudian tahap kedua, akan dilakukan paling lambat 31 Oktober 2019 dengan jumlah total saham baru yang diterbitkan Finarya sebanyak 18.600 dengan nilai penyetoran Rp 186 miliar. Pada tahap kedua ini, investasi akan dilakukan oleh Telkomsel, Entitas Grup BTN dan Entitas Grup Pertamina.

“Sedangkan pada tahap ketiga yang rencananya dilangsungkan paling lambat 31 Desember 2019 dibagi menjadi dua skema,” ujarnya.

Skema pertama, jika sampai tanggal 31 Oktober 2019 terdapat investor BUMN lain yang telah menandatangani akta aksesi, maka jumlah total saham baru yang akan diterbitkan oleh Finarya menjadi 80.000 saham baru, nilainya pun akan meningkat menjadi Rp 800 miliar, pada skema ini, pihak yang melakukan penyetoran antara lain Telkomsel, Mandiri, BRI, BNI, BTN, Pertamina dan investor BUMN lain.

Apabila ada investor BUMN lain yang masuk komposisi kepemilikan saham perusahaan BUMN di Finarya akan menjadi 25 persen milik Telkomsel, kemudian Entitas dalam Grup Mandiri, BRI dan BNI akan memegang masing-masing 17,03 persen saham Finarya. Lalu Grup BTN 6,13 persen, Grup Pertamina 6,13 persen, Jiwasraya 1 persen, Grup Danareksa 0,63 persen dan investor BUMN lain akan punya jatah saham 10,2 persen di Finarya.

Herry menambahkan, jika tidak ada BUMN lain yang berniat menjadi investor di Finarya atau hanya Telkomsel, Mandiri, BRI, BNI, BTN dan Pertamina, maka porsi saham investor BUMN menjadi 25 persen Telkomsel, Entitas dalam Grup Mandiri, BRI dan BNI 19,71 persen, Grup BTN dan Grup Pertamina 7,12 persen, Jiwasraya 1 persen dan Grup Danareksa 0,63 persen.

(*/ars)