Lebih Baik Mana, Konsumsi Buah Sebelum atau Setelah Makan?

ilustrasi

RADARCIANJUR.com – Buah menawarkan berbagai manfaat baik untuk kesehatan karena kaya akan vitamin dan mineral. Nah, supaya manfaat yang didapat optimal, kapan waktu terbaik makan buah, sebelum atau sesudah makan?

Dokter tak bosan-bosannya menganjurkan Anda untuk memperbanyak asupan buah. Orang-orang yang makan buah secara rutin diketahui memiliki kesehatan yang lebih baik. Risiko terkena penyakit, terutama penyakit kronis, juga menurun. Lebih lengkapnya, konsumsi buah secara teratur bisa menurunkan risiko penyakit stroke dan kardiovaskular lainnya, diabetes tipe 2, melindungi dan melawan kanker, serta menjaga kesehatan yang optimal.

Lebih baik makan buah sebelum atau setelah makan?

Selain anjuran untuk makan buah secara teratur, adakah anjuran untuk kapan waktu yang tepat mengonsumsi buah?

Waktu terbaik untuk makan buah adalah sebagai makanan pertama pada pagi hari setelah mengonsumsi segelas air. Makan buah setelah makan besar tidak terlalu disarankan, karena buah yang dimakan tak dapat diproses dengan baik, sehingga nutrisinya tidak dapat diserap secara optimal.

Setelah makan besar, Anda sebaiknya memberi jeda waktu sekitar 30 menit sebelum makan buah. Idealnya, konsumsi buah sebaiknya 1 jam sebelum makan besar, atau 2 jam setelah makan besar jika Anda memiliki diabetes atau masalah sistem pencernaan seperti keasaman. Biasanya, penderita diabetes juga mengalami masalah pencernaan.

Sebagai variasi, Anda dapat mencampurkan buah dengan yoghurt (selama Anda tidak memiliki gangguan pencernaan atau keasaman). Anda juga bisa mencampurkan buah-buahan seperti nanas, jeruk, melon, atau delima dengan salad sesuai selera. Jika Anda sarapan sereal, buah berry atau buah kering juga bisa dicampurkan.

Berbagai mitos tentang waktu makan buah

Mengenai waktu yang tepat (atau salah) makan buah, di masyarakat beredar beberapa mitos yang kebenarannya tidak jelas. Mitos yang dimaksud antara lain:

1. Makan buah sebaiknya saat perut kosong
Mitos yang beredar adalah, makan buah dengan makanan lainnya bisa memperlambat pencernaan, bahkan bisa bikin makanan tersebut lama di perut hingga membusuk. Mitos ini juga mengklaim bahwa makan buah dengan makanan lainnya bisa menyebabkan gas, ketidaknyamanan, serta gejala lainnya.

Memang benar, serat dari buah dapat membuat lambung kosong lebih lambat. Namun, gejala lain seperti gas dan perut tidak nyaman adalah mitos belaka.

2. Waktu terbaik untuk makan buah adalah siang hari
Tidak ada penelitian ataupun logika yang membuktikan hal ini. Dikatakan bahwa metabolisme tubuh melambat pada siang hari. Konsumsi makanan yang tinggi gula seperti buah dapat meningkatkan kadar gula darah dan membangunkan sistem pencernaan. Ini tidak benar.

Yang benar adalah, makanan yang mengandung karbohidrat untuk sementara waktu akan meningkatkan kadar gula darah saat glukosa diserap, terlepas dari waktu dalam sehari.

3. Larangan makan buah setelah jam 2 siang
Mitos ini berasal dari metode diet 17 hari. Teorinya adalah, bahwa makan buah (atau karbohidrat apa pun) setelah jam 2 siang meningkatkan gula darah Anda. Sehingga, tubuh tidak punya waktu untuk menstabilkan gula darah sebelum tidur, sehingga menyebabkan kenaikan berat badan.

Faktanya, tak perlu khawatir bahwa buah akan menyebabkan gula darah meningkat pada sore hari. Setiap makanan yang mengandung karbohidrat memang akan meningkatkan gula darah saat glukosa diserap. Namun, tidak ada bukti bahwa gula darah akan meningkat lebih banyak setelah jam 2 siang daripada waktu hari lainnya. Selain itu, belum ada bukti bahwa menghindari buah di sore hari memengaruhi berat badan.

Mitos mengenai waktu yang tepat makan buah banyak beredar, tetapi sebaiknya jangan langsung mudah percaya. Tak hanya soal pemilihan buah, Anda juga perlu tahu kapan waktu yang lebih baik dalam mengonsumsi buah-buahan.

Waktu terbaik untuk makan buah adalah sebagai makanan pertama pada pagi hari setelah mengonsumsi segelas air. Makan buah setelah makan besar tidak terlalu disarankan, karena buah tidak akan diproses dengan baik, sehingga nutrisinya tidak dapat diserap secara optimal.

(jpnn)