Rutilahu di Sukamulya Ambruk, Terpaksa Tinggal di Saung Kebun

Rumah di Kampung Cibakin, Desa Sukamulya, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur ambruk.

RADARCIANJUR.com – Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Pepatah itu sepertinya cukup pas untuk menggambarkan nasib keluarga yang tinggal di rumah tidak layak huni (rutilahu), di Kampung Cibakin, Desa Sukamulya, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur.

Bagaimana tidak, selain hidup dengan segala keterbatasan lantaran termasuk keluarga tak mampu, satu-satunya rumah yang selama ini melindungi mereka dari hujan-panas malah ambruk lantaran rumah tersebut memang sudah sangat reyot dan sudah bertahun-tahun tak pernah diperbaiki.

Nurjanah (27) menuturkan, rumahnya ambruk pada Sabtu (6/7) pekan lalu. Saat itu, dirinya tengah memasak di dapur dengan ditemani anaknya, Adi Trisna yang masih berusia empat tahun.

“Sekitar jam empat sore ambruknya. Tiba-tiba ambruk,” tuturnya, Selasa (9/7) kemarin.

Akibat tertimpa bangunan rumahnya itu, Nurjanah terluka pada bagian punggung yang tertancap paku. Beruntung, meski anaknya ikut tertimpa, tapi hanya menderita luka ringan dan lecet-lecet saja.

“Saya sedang memasak nasi di dapur, anak bungsu saya main di depan rumah, tiba-tiba terdengar suara berderit dan rumah saya langsung ambruk,” bebernya.

Setelah merangkak dan berusaha keluar dari reruntuhan bangunan rumahnya itu, Nurjanah pun hanya bisa terdiam dan termangu melihat rumahnya yang ambruk. Ia baru sadar setelah ada tetangga yang berteriak menghampirinya.

Saat itu, ia langsung tersadar dan mencari anak bungsunya yang masih berada di bawah reruntuhan rumahnya. “Alhamdulilah anak saya tidak luka, saya sempat mencarinya di antara reruntuhan rumah,” kata Nurjanah.

MIRIS: Judim dan Nurjanah, pasangan suami-istri itu hanya bisa meratapi rumah reyotnya yang roboh, Sabtu (6/7) pekan lalu, lantaran sudang sangat usang dan tak pernah diperbaiki.

Ia baru tersadar ada paku menancap di punggungnya setelah diberitahu oleh tetangganya. Itupun, ia tak mengobatkan luka itu ke puskesmas lantaran tak memiliki uang. Sampai saat ini, luka tersebut hanya diberi obat seadanya.

“Ditaburi obat kampung saja pak,” ujarnya.

Setelah rumahnya ambruk, Nurjanah pun mengaku kebingungan mencari tempat tinggal. Apalagi, keluarga tersebut tak memiliki uang untuk membangun rumahnya yang ambruk. Beruntung, ada tetangga yang memiliki kebun dengan saung yang dipersilahkan untuk dipakai menjadi tempat tinggalnya.

“Ya cuma ditutupi kain saja, biar tidak kedinginan pas malam hari,” ungkapnya.

Sementara, suami Nurjanaha, Judim (46) mengatakan, saat rumah reyotnya ambruk, dirinya tengah berada di kebun. Ia baru tahu rumahnya telah ambruk setelah diberitahu oleh para tetangganya.

Pria yang bekerja serabutan sebagai buruh tani itu mengaku, rumahnya memang sudah sangat reyot. Sementara, penghasilannya yang cukup minim, tak bisa disisihkan untuk memperbaiki rumahnya.

Penghasilannya sebagai buruh tani pun habis diperuntukkan biaya sekolah kedua anak-anaknya. “Untuk anak SMP saya beri uang jajan Rp10 ribu, dan untuk yang SD Rp5 ribu,” kata Judim.

Judim mengaku ia sudah diberi izin oleh pemilik lahan untuk tinggal di lahan kebun yang berjarak sekitar 50 meter dari para tetangganya.

“Saya masih bingung dengan tempat tinggal istri dan anak saya karena saya tak mempunyai keluarga lagi,” kata Judim.

Judim pun mengaku kadang tak tega melihat istri dan anaknya kedinginan di malam hari dan kepanasan di siang hari karena tempat tinggal sementara yang tak layak.

Terpisah, Ketua Karang Taruna Kecamatan Cikalongkulon, Rahmat Setiawan (39) mengatakan, pertama kali ia mendengar kabar ada rumah ambruk dari salah satu pemuda setempat anggota karang taruna.

“Saya langsung mengecek ke lokasi setelah mendengar tersebut, tiba di lokasi saya sangat sedih, keluarga Judim kini tak punya rumah dan tinggal di sebuah saung yang hanya dibatasi kain-kain,” katanya.

Ia mengatakan sudah berkoordinasi dengan pihak desa dan berharap ada bantuan secepatnya untuk keluarga Judim.

“Katanya ia diberi izin membangun rumah di ujung kebun, saya juga bersama karang taruna Cianjur sedang mengupayakan adanya bantuan,” kata Rahmat.

(dil)