Sumur Warga Panyaweuyan Diduga Tercemar BBM, DLH Umum Hasil Lab

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur mengumumkan hasil uji laboratorium air sumur warga Kampung Panyaweuyan RT 01 RW 01 Desa Ciherang, Kecamatan Pacet yang diduga tercemar BBM.

RADARCIANJUR.com – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur mengumumkan hasil uji laboratorium air sumur warga Kampung Panyaweuyan RT 01 RW 01 Desa Ciherang, Kecamatan Pacet yang diduga tercemar BBM.

Penyampaian hasil uji laboratorium tersebut dilakukan di Aula Desa Ciherang, Pacet, dihadiri para warga dan muspikda setempat, Selasa (9/7).

Kepala Bidang Pencemaran Pengendali Perusakan Lingkungan (PPKL) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur, Dedi Junaedi menuturkan, dalam hal ini pencemaran yang diindikasikan dari minyak itu masih di bawah baku mutu lingkungan. Artinya pencemaran tersebut ada yang bisa terindikasi dari minyak, maupun dari alami.

Lebih lanjut ia mengatakan, dari beberapa faktor air sumur dalam tanah yang telah diuji laboratorium, bisa saja diindikasikan karena mikroorganisme yang ada dalam kualitas air itu sendiri yang kurang baik.

Seperti parameter air limbah BOD dan COD, ada juga yang dari penol serta timbal. Tetapi untuk pencemaran saat ini, menunjukkan lebih kepada BOD COD. Sehingga sumurnya itu kekurangan udara dan bisa menimbulkan bau.

“Untuk sumbernya dari mana kami belum tau pasti. Hanya saja dari hasil uji laboratorium di Bandung itu menunjukkan pencemaran, yang belum bisa dipastikan karena minyak BBM atau yang lainnya,” jelasnya.

Adapun solusi serta tindak lanjut terkait permasalah tersebut, DLH akan berkoordinasi langsung dengan pihak PDAM, Pemkab Cianjur dalam hal ini bupati, serta pihak-pihak lainnya. Sehingga kebutuhan yang selama ini menjadi pokok kehidupan warga tidak terus berlarut.

“Kita sama-sama mencari solusi yang terbaik, bukan untuk saling menuding. Tetapi kami sebagai dinas terkait akan berusaha menengahi keluhan serta peristiwa yang terjadi saat ini. Dan semoga saja waktu dekat ini kita bisa memecahkan solusi yang lebih baik,” tuturnya.

Mendengar hal tersebut, warga pun mengaku masih kurang puas. Pasalnya, dari pihak dinas terkait, masih belum bisa memastikan penyebab pasti dan detil dugaan pencemaran tersebut dan masih harus melakukan kajian yang lebih mendalam.

“Kami sangat menyesalkan dengan adanya hasil yang diujikan itu, karena tidak lengkap. Jadi parameter yang diujikan itu adalah pencemaran untuk kategori industri, seperti pabrik. Sedangkan di sini kan indikasi atau diduganya adalah salah satu SPBU,” kata warga Panyaweuyan, Ludi Burdah Muslim, usai mengikuti kegiatan.

Menurutnya, parameter yang sifatnya umum itu malah diujikan, sedangkan yang jelas-jelas ramai indikasinya seperti senyawa hidrokarbon yang ada di BBM, tidak diujikan.

“Kami meminta kepada DLH supaya maksudnya menindaklanjuti kalau misalnya memang ini dinyatakan tercemar, sumber pencemarannya dimana. Jadi kami tidak mau berlarut-larut seperti ini,” jelas Ludi.

Ludi menambahkan, saat ini warga sangat membutuhkan air bersih yang cukup banyak. Karena hampir rata-rata warga telah terdampak kesehatannya dan berobat secara pribadi ke dokter umum. Menurutnya, sampai hari ini, sejak Plt Bupati turun ke lokasi terdampak, belum ada aksi-aksi yang nyata dari dinas-dinas terkait.

“Kami akan melakukan upaya hukum, dan kemudian mendesak pihak-pihak terkait supaya segera menyelesaikan masalah ini termasuk juga mengujinya kembali, supaya ada semacam perbandingan yang lebih jelas,” tuturnya.

Dijelaskan Ludi, air itu sebetulnya memiliki kandungan senyawa karbon yang harus diuji kembali dan menjadi tanggung jawab dinas terkait. Inilah juga yang telah dilakukan warga, bahwa dalam melakukan kajian oleh IPB, parameter yang diuji untuk mengetahui tingkat kadar BBM antara lain PH, besi, mangan, kalium, timbal, benzene, minyak dan total petroleum hidrokarbon. Sedangkan yang diuji oleh LH kemarin itu malah meluas ke 22 poin.

“Kami sebetulnya hanya meminta apakah ada kandungan BBM atau tidak. Tetapi kenapa yang diujikan oleh LH itu tidak spesifik. Seperti berapa besar kandungan BBM yang ada di dalam air warga, itu yang kita sesalkan,” kata Ludi.

(dan)