Begini Cara Lapas Cianjur Antisipasi Penyimpangan Seks Para Napi

Lapas Klas 2B Cianjur

RADARCIANJUR.com – Dua tahun lalu, penyimpangan seksual yang dilakukan oleh dua orang narapidana pria dipergoki oleh warga binaan Lapas Klas 2B Cianjur pernah terjadi. Hal itu dibenarkan Kepala Keamanan Lapas Klas 2B Cianjur, Fahmi.

Kejadian terebut memang sebelum dirinya bertugas di Kabupaten Cianjur, namun saat ini tidak sampai terulang kembali hal serupa.

“Memang ada katanya dua tahun yang lalu, tapi alhamdulillah kalau sekarang sudah aman dan belum ada tercium hal yang berbau penyimpangan seksual disini (Lapas Klas 2B Cianjur, red),” ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya di jajaran keamanan membuat wali blok yang berjumlah empat wali blok dengan bertugas memantau keadaan blok. Selain itu terdapat juga wali kelas yang dibentuk oleh seksi pembinaan, kurang lebih terdapat 27 orang yang bertugas, salah satu tugasnya memantau para santi atau waga binaan pesantren.

Lanjutnya, pihaknya pun sudah mengetahui jika warga binaan memiliki pemyimpangan seksual dan melakukan pemisahan penempatan kamar.

“Salah satu contoh beberapa bulan lalu kami menerima mutasi narapidana dari lapas di Jakarta, salah napi memiliki kelainan (waria), lalu kita pisahkan penempatan kamarnya,” tambahnya.

Penanganan yang dilakukan Lapas Klas 2B Cianjur untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan memisahkan kamar dan pemindahan ke lapas lainnya. Sementara untuk pengobatan secara psikologi, pihaknya belum menyediakan.

Sementara itu Pakar Psikolog, Retno Lelyani Dewi menuturkan, pengobatan secara mental sangat diperlukan untuk mengobati narapidana atau wargabinaan.

Kendati sedikit menemui kendala atau kesulitan, namun ada beberapa yang harus diperhatikan dalam menjalani pengobatan tersebut yakni secara psikolog klinis dan juga psikolog sosial. Pasalnya, di lapas memiliki permasalahan sosial yang ada pada warga binaan.

“Pembinaan mental sangat diperlukan seperti pemberian materi agama, selain itu juga perlu adanya pengobatan secara psikolog klinis dan psikolog sosial,” paparnya.

Selain itu, dalam memanggil seorang warga binaan dengan panggilan yang baik pun sangat berpengaruh seperti memanggil satri di Lapas Klas 2B Cianjur, sehingga dari panggilan tersebut ada dorongan dari pribadi warga binaan untuk menjadi lebih baik.

Bentu dari terapi pun beragam yang perlu dilakukan, yakni terapi keagamaan, terapi kognitif atau mind set, terapi okupasi atau penyaluran pekerjaan selama di lapas dan terapi behavior atau prilaku.

(kim)